Mem-Persona Non Grata kan Khilafah, Adilkah?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Mu’allimah (Pengamat Sosial, Tinggal di Yogyakarta)

WE Online- Partai berkuasa di Turki telah menolak seruan majalah pro-pemerintah untuk membangkitkan kembali Kekhalifahan Islam, menyusul pembukaan kembali Hagia Sophia (baca : aya sofia) di Istambul sebagai masjid. Juru bicara Partai Keadilan Pembangunan (AKP) pada Senin (27/7/2020) Turki akan tetap menjadi republik sekuler setelah majalah Gercek Hayat menimbulkan kegemparan dengan menyerukan pembaruan kekhalifahan.Bahkan Asosiasi Bar Ankara mengajukan pengaduan pidana terhadap Gercek Hayat. Majalah yang dimiliki Albayrak Group ini mengeluarkan seruan untuk membangkitkan n kembali kekhalifahan Islam, REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA— (28 Juli 2020)

Seolah menemukan oase di padang nan gersang, kaum muslim merasakan kebahagiaan luar biasa dengan kembalinya status Hagia Sophia yang sebelumnya merupakan museum menjadi masjid kembali. Mengapa demikian, karena Hagia Sophia bukan hanya sekedar perubahan alih fungsi semata namun lebih dari itu. Hagia Sophia memiliki arti mendalam bagi kaum muslimin karena ia adalah simbol kemenangan ketika Sultan Muhammad Alfatih berhasil menaklukkan Konstantinopel. Berabad lamanya Hagia Sophia menjalani fungsi sebagai masjid, menjadi tempat suci bagi umat Islam dalam melaksanakan ritual peribadatan, namun seketika status ini berubah ketika Kemal Attaturk laknatullah menghapus khilafah pada tahun 1924. Turki dikondisikan menjadi negara ‘modern’ nan sekuler. Sehingga praktis segala sesuatu yang berhubungan dengan khilafah menjadi barang terlarang, simbol-simbol Islam harus di hapus dari memori kolektif kolegial umat.

/Persona Non Grata/

Dalam dunia diplomasi, istilah ini sangat populer digunakan berkenaan dengan semakin masifnya dinamika hubungan antar negara. Menurut Wikipedia Persona non Grata adalah sebuah istilah dalam bahasa latin yang dipakai dalam perkancahan politik dan diplomasi internasional. Makna harfiahnya adalah orang yang tidak diinginkan. Orang-orang yang di-persona non grata-kan biasanya tidak boleh hadir di suatu tempat atau negara. Apabila ia sudah berada di negara tersebut, maka ia harus diusir dan dideportasi. Khilafah saat ini telah menjadi sosok atau figur yang didamba mampu membawa perubahan signifikan bagi kehidupan umat manusia yang telah mencapai titik nadir peradaban.

/‘Sosok’ Khilafah/

Tidak dapat dipungkiri bahwa ide khilafah telah menjadi viral dan mendunia, menjadi topik pembicaraan hangat berbagai kalangan dan semakin mendapatkan tempat di hati umat. Hal ini terutama ketika pandemi corona terjadi, nampaklah watak asli sesungguhnya kapitalisme dimana negara-negara terutama mereka yang diklaim sebagai adidaya dunia tidak mampu menuntaskan persoalan tersebut dan bahkan cenderung berlarut-larut. Seorang mantan menlu dan juga politisi kawakan AS, Henry Kissinger menyatakan bahwa akan ada perubahan mendasar pasca corona ini. Senafas dengan pernyataan tersebut, sejatinya sebelum pandemi pun kapitalisme dan juga sosialisme telah menunjukkan kecacatannya sebagai sebuah ideologi. Hal ini nampak, misalnya dengan terus berulangnya krisis ekonomi dan juga terjadinya dekadensi moral yang akut yang diidap oleh negara-negara penganut ideologi tersebut. Sehingga tidak berlebihan kiranya ketika harapan akan adanya perubahan mendasar dilabuhkan pada ‘sosok’ khilafah.

Khilafah atau Al-Khilafah didefinisikan sebagai sebuah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Orang yang memimpinnya disebut Khalifah, atau dapat juga disebut Imam atau Amirul Mukminin.

/Benci dan Rindu Khilafah/

Dalam konteks kembalinya Hagia Sophia, pelan tapi pasti sosok khilafah akan kembali muncul dalam memori kolektif kolegial umat yang telah terkubur sekian lama. Maka ketika memori itu mencapai puncaknya dapat dibayangkan betapa dahsyat efek yang akan ditimbulkan. Persatuan umat, kokohnya akidah dan kepemimpinan yang kuat berpadu menjadi satu, maka muncullah adidaya baru yaitu sosok yang memiliki kekuatan yang sempurna yang mampu menggulung hegemoni duo ideologi yang bercokol di dunia saat ini yaitu Kapitalisme dan juga Sosialisme.

Syahdan sejak era 50-an hingga kini khilafah telah menjadi momok menakutkan berbagai rezim di dunia, sehingga kemudian diperlukan sebuah narasi untuk mendeskreditkan sekaligus memonsterisasikan Islam dan Khilafah. Bagi mereka, Khilafah adalah ancaman dan menjadi persona non grata sehingga eksistensinya harus ditolak dan dilenyapkan. Ini sekaligus menjadikan Khilafah sebagai common enemy dan bahkan Bush menyebutnya sebagai evil ideology atau ideologi setan, sehingga untuk mendeligitimasinya diperlukan upaya yang sistematis, terstruktur dan masif. Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan oleh Rand Corporation, lembaga think tank Amerika yang intens melakukan kajian dan rekomendasi untuk menghadapi kebangkitan Islam pasca peristiwa 9/11 World Trade Center, New York.

Dalam salah satu rekomendasinya adalah penerapan strategi devide et impera atau strategi pecah belah dengan mengklasifikasi umat Islam berdasarkan afiliasi mereka yakni kaum fundamentalis, tradisionalis, modernis/moderat dan kaum sekularis liberalis.

/Khilafah adalah Masa Depan/

Keberhasilan Khilafah secara gemilang sebagai sebuah peradaban telah teruji selama kurang lebih 12 abad lamanya. Silih bergantinya berbagai dinasti kekhilafahan tidak menghilangkan pengkhidmatan terhadap urusan umat. Hal inilah yang kemudian secara fair diapresiasi oleh para sejarawan barat semisal Will Durant dalam bukunya The Story of Civilazation : “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas..”

Jika pada masa lalu dengan berbagai keterbatasan teknologi yang ada saja, Khilafah mampu menunjukkan supremasinya sebagai super power dunia. Maka bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika saat ini jika ‘sosok’ Khilafah itu hadir kembali dengan dukungan teknologi yang super canggih, manusia yang bertaqwa, bukankah janji Allah SWT berupa Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur menjadi sebuah keniscayaan.

Maka menjadi sebuah sikap yang sangat tidak adil ketika memposisikan Khilafah sebagai persona Non Grata, padahal kehadirannya sangatlah diperlukan umat manusia dalam menyempurnakan perannya sebagai khalifah di muka bumi yakni sebagai rahmatan lil ‘Alamin. Wallahu A’lam Bisshowab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.