Melindungi Mangsa, Tanpa Melawan Pemangsa

Oleh: Azhary Ideologis (Mahasiswa Universitas Al Azhar, Mesir Asal Indonesia)

Darah segar para syuhada kembali mengalir di tanah suci Palestina. Tentu kita paham, bahwa tragedi ini bukanlah kali pertama ataupun kedua. Entah kali keberapa, dan entah sampai kapan.

Bertahun-tahun kita saksikan saudara-saudara kita disana meraung kesakitan. Menjerit tersebab kebiadaban Zionis Israel yang tak kenal ampun. Saudara-saudara kita yang tak bersalah, dibunuh dengan cara brutal. Rumah-rumah mereka dibombardir, begitupun fasilitas umum.

Kesalahan mereka dalam mata zionis, hanya satu. Karena mereka seorang muslim dan menempati bumi Palestina. Padahal sejatinya, para Zionis lah yang memaksakan kehendak dan merongrong kedaulatan Palestina. Tersebab isu ‘Tanah yang dijanjikan’ para zionis dari berbagai belahan dunia berbondong-bondong mendatangi Palestina. Restu Inggris dalam deklarasi Balfour menjadi legitimasi bagi Zionis untuk melangsungkan berbagai serangannya terhadap warga Palestina dengan harapan para Zionis ini menjadi tuan atas tanah yang diberkahi.

Tentu melihat kondisi ini, ummat muslim di berbagai belahan dunia tidak tinggal diam. Mereka turun ke jalanan untuk menyerukan kepedulian. Turut berduka atas kejadian yang menimpa saudara-saudaranya.

Ratusan aksi telah digelar, berbagai konferensi telah terselenggara, forum-forum diskusi telah berlangsung dengan pembahasan yang sama, yaitu bagaimana cara menolong saudara-saudara di Palestina.

Namun, sayangnya pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan tidak sampai kepada solusi tuntas atas akar permasalahan.

Mendirikan lembaga sosial untuk menyalurkan bantuan, mengumpulkan dana untuk pangan dan obat-obatan, mendirikan camp-camp di tempat pengungsian, membangun sekolah dan rumah sakit, juga mengirimkan volunteer.

Usaha-usaha ini tidaklah salah, hanya saja cara-cara seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah secara tuntas. Jika dianalogikan, usaha mereka ini hanya sebatas mengobati luka yang dialami mangsa, tanpa berusaha untuk melawan pemangsa.

Saudara-saudara kita terluka, kita sediakan obat untuk mengobati luka. Tapi kita tidak pernah berusaha untuk menghentikan serangan yang berakibat kepada luka bahkan kematian. Kita kirimkan selimut untuk memberi rasa hangat dari cekaman musim dingin, tapi kita tidak pernah berusaha memikirkan bagaimana cara agar mereka bisa kembali ke rumah-rumah mereka dengan rasa aman. Tanpa takut adanya roket yang mendarat secara tiba-tiba.

Sadar ataupun tidak, dibalik kekuatan Zionis ada sokongan kekuatan dari negara adidaya yang membackup para Zionis dalam melangsungkan serangannya terhadap warga Palestina. Maka jelas, disini bukan lagi skala individu ataupun kelompok yang bermain. Melainkan kekuatan negara bahkan organisasi internasional. Maka perlawanan yang sepadan adalah negara dengan negara yang mengerahkan kekuatan militernya, bukan lagi kekuatan individu atau lembaga sosial yang hanya menyalurkan bantuan materiil.

Solusi dari permasalahan ini adalah seperti yang diserukan oleh Umm Syuhada, yang telah kehilangan suami dan dua putranya dalam serangan udara Zionis Israel (Rabu, 13/11) di Desa Zaitun, Gaza Selatan.

“Kita tak punya senjata kecuali alakadarnya. Dengan apa kita bisa memerangi para penjajah ini?”

“kami ingin ummat bersatu. Mereka harus bersatu-padu bersama Palestina”

Ya, selain kita terus berusaha memberikan bantuan materiil untuk membantu saudara-saudara kita, kita pun harus berupaya untuk terus menyerukan persatuan ummat agar berada dalam satu naungan kekuatan. Jika negeri-negeri Muslim bersatu, maka kemenangan akan menjadi sebuah keniscayaan. Biidznillah. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *