Melatih Ananda Berpuasa

Oleh: Sherly Agustina, M.Ag (Member Revowriter dan WCWH)

“Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, sedangkan belajar sesudah besar bagai melukis di atas air. Mungkin kita sering mendengar kata bijak tersebut saat masih duduk di bangku sekolah. Kata bijak tersebut memang sangat bermakna sekali yang menggambarkan arti belajar yang sangat di perlukan saat kita masih dini.”

Bulan Ramadan memang sudah berlalu, tapi sulit rasanya melupakan kenangan bersamanya. Dan salah satu kenangan yang berharga dan berkesan ialah selama satu bulan saya dan suami melatih anak sulung agar mau berpuasa selama satu bulan full. Bukan hal mudah tentunya, karena di usianya menuju tujuh tahun belum terbiasa berpuasa full seharian bahkan satu bulan. Ramadan kemarin adalah kedua kalinya sulung belajar berpuasa. Tahun sebelumnya saya latih bertahap tidak sampai full.

Tahun sebelumnya maksimal hingga siang dan pernah dua hari menjelang Idul Fitri full seharian. Saya dan suami berencana agar bisa melatih anak-anak berpuasa sedari kecil. Karena pembiasaan dari kecil akan membekas dan memepermudah ke depannya untuk taat syariat jika sudah mukallaf (ada taklif atau beban hukum syara). Tanpa paksaan, komunikasi dengan anak dan teladan dari kami sebagi orang tuanya.

Beberapa hari pertama, sulung belum terbiasa bangun di waktu sahur. Namun, saya terus mencoba agar dia bisa sahur dengan harapan bisa kuat berpuasa seharian. Alhamdulillah akhirnya mau sahur dengan berbagai rayuan. Sulung saya termasuk anak yang doyan sekali makan, maka kami sebagai orang tua harus ekstra menjaga berat badannya agar tidak berlebih. Dan sahurpun akhirnya bisa dinikmati dan dilewati bersama dengan sulung.

Di awal-awal karena adaptasi, sulung terus merengek untuk berbuka puasa. Karena ini latihan, dan sulung sudah dibekali sahur agar kuat. Maka, setiap merengek saya terus memotivasinya kalau sulung insya Allah kuat berpuasa hingga satu hari full. Kami pun berusaha memberikan reward jika sulung bisa full puasa seharian atau bahkan full satu bulan. Kami hibur untuk bertemu nenek menjelang lebaran tiba.

Rona bahagia terpancar di wajahnya ketika saya menjanjikan bertemu dengan neneknya. Karena anak-anak jarang sekali bertemu dengan neneknya. “Horeee…” kata sulung dengan gembira. Saya pun kangen sebetulnya jarang bertemu dengan ibu, apalagi kondisi fisiknya tidak seperti dulu. Dan kehadiran cucunya adalah kebahagiaan tersendiri bagi mereka.

Pekan pertama, kedua, ketiga dan ke empat Alhamdulillah bisa dilalui sulung berpuasa. Senang tiada terkira akhrinya pembiasaan atau melatih ananda berpuasa satu bulan full membuahkan hasil. Sulung pun sangat gembira dengan berbagai celotehnya. Teringat saat puasa, ingin ini dan itu untuk berbuka puasa. Tarawih bersama untuk mengenalkan amalan sunnah apa saja di bulan Ramadan. Dan kakek neneknya berjanji akan memberikan sesuatu jika berhasil puasa full satu bulan.

Ketika sampai di rumah nenek, tak sabar sulung meminta hadiah yang dijanjikan nenek padanya. Anak kecil memang lucu dan lugu, selalu ingat janji apa yang pernah diucapkan oleh siapapun. Neneknya tersenyum, “Nanti kalau sudah selesai Ramadan, nenek kasih” kata nenek pada cucunya. “Horee nanti dapat hadiah” kata sulung dengan riangnya. Rasanya baru saja Ramadan menyapa, tapi kini telah tiada.

Jika ingat lika-liku melatih ananda berpuasa selama satu bulan full di bulan Ramadan kemarin, berbagai rasa campur aduk. Senang, lelah-letih, belajar sabar, dan sebagainya menghadapi tingkah sulung selama berpuasa. Harus disyukuri, masih diberi kesempatan membersamai anak berpuasa. Karena Ramadan yang akan datang tak ada yang bisa menjamin, apakah masih bisa berjumpa lagi atau tidak. Begitupun dengan anak, belum tentu bisa membersamai mereka selamanya karena hidup dan mati rahasia Illahi.

Selesai Ramadan, sulung bertanya “Bun, setelah ini kita ga puasa lagi kan?”. Saya tersenyum dan menjawab, “Kalau puasa Ramadan sudah selesai, nanti ada puasa sunah di antaranya puasa Syawal 6 hari dan puasa Senin-Kamis”. “Yaaaa…” jawab sulung agak cemberut. “Tapi Kaka ga perlu puasa lagi kan, Bun?” tanya sulung. “Nanti Kaka belajar puasa sunah ya sama ayah dan bunda”.

Alhamdulillah beberapa hari sempat berpuasa Syawal, terkendala sakit akhirnya tak bisa full 6 hari puasa sunah Syawal. Habits ini tetap kami tanamkan sejak kecil, agar anak terbiasa melakukan amal salih dan ketaatan. Kamipun berusaha memberi contoh dan teladan yang baik pada anak. Walau kadang cemberut dan rewel, ternyata kuat puasa seharian full. Bersyukur yang tiada terkira mendapat amanah mendidik anak, takut jika sebagai orang tua berkhianat atas amanah yang ada.

Bimbing kami ya Allah dalam proses mendidik anak, agar menjadi anak yang salih dan salihah. Kuat fisik dan juga jiwanya, mempersiapkan mereka menjadi generasi pejuang dan pengisi peradaban mulia. Peradaban Islam di bawah panji “Laa ilaaha Illa Allah” dengan khilafah kedua yang telah dijanjikan Baginda Nabi Saw.

Nabi saw. bersabda, “Seseorang mendidik anaknya itu lebih baik baginya dari pada ia menshadaqahkan (setiap hari) satu sha’.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi dari sahabat Jabir bin Samurah r.a.

Allahu A’lam Bi Ash Shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *