May Day 2022: Tuntutan Sejahtera, Tolak Upah Rendah

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh Eviyanti (Pendidik Generasi dan Pegiat Literasi)

 

Ketika mendengar kata May Day yang pertama terlintas dalam fikiran kita adalah para buruh dan nasibnya. Mereka tidak pernah lelah setiap tahunnya, pada bulan Mei selalu melakukan aksi turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya yang berharap akan didengar oleh para petinggi di negeri ini.

Seperti yang dikutip oleh cnnindonesia.com, Jumat (13/05), Partai Buruh membawa 18 tuntutan dalam aksi May Day Fiesta yang akan dihelat di Gedung DPR dan Gelora Bung Karno (GBK) pada Sabtu (14/5). Di antaranya berupa redistribusi kekayaan serta penolakan terhadap UU Cipta Kerja.

“Di dalam perayaan May Day 2022 tersebut, baik di depan Gedung DPR pertama maupun di GBK kegiatan yang kedua mengusung 18 isu perburuhan,” ujar Presiden Partai Buruh Said Iqbal dalam konferensi pers daring, Jumat (13/5).

Tuntutan utama yang akan disuarakan adalah penolakan terhadap UU Omnibus Law Cipta Kerja. Menurut Said, aturan hukum tersebut mengeksploitasi buruh. Tuntutan lainnya yaitu mendesak pemerintah menurunkan harga bahan pokok termasuk minyak goreng; mendesak RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) disahkan, menolak revisi UU tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (PPP) dan menolak revisi UU Serikat Kerja/Serikat Buruh. Lalu penolakan atas upah murah, penghapusan outsourcing, penolakan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan desakan agar Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Perlindungan Anak Buah Kapal (ABK) dan Buruh Migran disahkan. Kemudian penolakan pengurangan peserta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK), wujudkan kedaulatan pangan dan reforma agraria, setop kriminalisasi petani, serta biaya pendidikan murah dan wajib belajar 15 tahun gratis. Selanjutnya meminta pemerintah mengangkat guru dan tenaga honorer menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), pemberdayaan sektor informal, ratifikasi konvensi ILO No. 190 tentang Penghapusan Kekerasan dan Pelecehan di dunia kerja, mengupayakan status sopir ojek online sebagai pekerja, bukan lagi mitra kerja. Said mengatakan pada aksi nanti juga akan meminta kepastian agar Pemilu 2024 dilaksanakan tepat waktu, redistribusi kekayaan yang adil dengan menambah program jaminan sosial (jaminan makanan, perumahan, pengangguran, pendidikan dan air bersih), dan meminta pemerintah mengupayakan agar tidak ada lagi warga yang kelaparan. Tuntutan buruh untuk redistribusi kekayaan dan kenaikan upah memang difasilitasi dalam beragam aksi dan bahwa selebrasi global berupa May Day.

Namun, faktanya tuntutan tersebut hanya menjadi tuntutan kosong yang tak bisa dipenuhi karena sistem yang dituntut (kapitalisme) justru melanggengkan perbudakan modern. Buruh dieksploitasi untuk meningkatkan volume produksi demi keuntungan para pemilik modal, dan kesejahteraan pekerja diasosiasikan sekadar dengan kenaikan upah yang tak seberapa.

Adanya demo-demo buruh dan tuntutan kenaikan upah di berbagai negara maju menegaskan bahwa selama sistem kapitalisme masih menjadi pijakan, tidak akan ada sejahtera bagi semua. Sejahtera hanya milik kaum kapitalis.

Ini semua membuktikan watak asli demokrasi kapitalis yang tidak mau untuk melihat derita rakyat dan tidak mau untuk mendengar aspirasi rakyat. Demokrasi juga melahirkan rezim oligarki yang hanya memenangkan kepentingan segelintir elit.

Berbeda halnya dengan Islam. Islam menggariskan pemimpin diraih dengan syarat yang ditentukan syariat dan mendapat dukungan nyata umat karena dikenal ketakwaan dan kapasitasnya untuk menjalankan seluruh perintah syara. Serta menjalankan kepemimpinannya sebagai amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Sang Pemilik Aturan.
Inilah Islam dengan negaranya khilafah, hadir untuk mengurusi dan melindungi kepentingan semua masyrakat, baik pengusaha maupun pekerja. Rasulullah saw. bersabda: “Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggungjawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. al-Bukhari).

Wallahu a’lam bishshawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.