MATERI TIDAK EKUIVALEN DENGAN BAHAGIA

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Naely Lutfiyati Margia, Amd.Keb.

 

Banyak orang begitu ambisius mengumpulkan rupiah dengan beragam alasan. Ingin hidup sejahtera, ingin hidup kaya raya, ingin hidup serba berkecukupan dan sebagainya. Yang katanya semua itu bermuara pada kebahagiaan, karena ketika segalanya mudah tentu akan terasa bahagia.  Namun nyatanya rupiah tak melulu membuat seseorang bahagia. Siapa tak kenal Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie? Pasangan suami istri yang terkenal tajir melintir, kini terjerat kasus narkoba.

Narkoba kembali menjerat selebritis Tanah Air. Kali ini terjadi pada dua publik figur yang merupakan pasangan suami istri. Oleh jajaran Polres Metro Jakarta Pusat, keduanya ditangkap pada Rabu, 7 Juli 2021, sekitar pukul 15.00 WIB. Dari tangan keduanya, polisi turut mengamankan barang bukti yang diduga sabu seberat 0,78 gram dan  satu buah bong. Bahkan belakangan diketahui keduanya telah mengonsumsi sabu selama 4 hingga 5 bulan terakhir. Pengakuan tersebut diperkuat dengan hasil tes urine yang menunjukkan positif mengandung metamfetamin. Ada pun alasan pasutri pesohor ini mengonsumsi narkoba, diakui karena tekanan dalam pekerjaan. (liputan6.com, 9/7/21)

Menjadi stres adalah hal biasa ketika dihadapkan pada pekerjaan yang mungkin dianggap berat, tekanan yang dirasakan tidak hanya pada fisik namun juga mental. Sehingga seringkali butuh sesuatu untuk menekan stres tersebut. Bila pemenuhannya dengan menggunakan zat-zat kimia yang dapat menghasilkan reaksi ketenangan, sifatnya hanya akan sementara. Bahkan bila dikonsumsi secara terus-menerus akan menimbulkan ketergantungan, yang efeknya juga sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Akhirnya ketenangan yang dihasilkan, pada ujungnya tidak bermuara pada kebahagiaan.

Memaknai bahagia erat kaitannya dengan bagaimana memaknai kehidupan. Ini merupakan hal mendasar bagi manusia untuk memahami keberadaannya di dunia. Dari mana manusia berasal? Siapa yang menciptakan? Untuk apa manusia diciptakan dan apa kehendak Pencipta? Juga akan ke mana setelah hidup di dunia? Manakala manusia paham tentang keberadaannya di dunia dan apa yang dikehendaki Pencipta bagi dirinya, tentu akhirnya paham bagaimana mengatasi ketakutan.

“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku….” – [TQS. Al-Maidah: 44]

Seorang muslim akan meyakini bahwa tidak ada yang perlu ditakuti kecuali Allah SWT. Tidak akan takut dengan ujian yang menerpa dan yakin Allah tak akan memberi ujian melebihi kadar kemampuannya.

 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya….” – [TQS. Al-Baqarah: 286]

Sehingga tidak ada lagi kekhawatiran dalam melewati ujian, tidak ada lagi ketakutan akan menghadapi penghidupan yang sulit, tidak ada lagi rasa cemas yang berlebih, yang ada justru ketenangan.

 “…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” – [TQS. Ar-Ra’du: 28]

Ketenangan yang hanya bisa dirasakan ketika manusia bersandar kepada satu-satunya dzat yang Maha Besar. Yang bisa membuat manusia kuat menghadapi segala persoalan dan yakin bahwa Allah lah satu-satunya penolong.

Jadi pemenuhan kebahagiaan bagi seorang muslim–yang meyakini adanya hari pembalasan–haruslah bersandar pada standar halal dan haram. Selama itu halal maka manusia boleh melakukannya, tapi bila itu haram–kendati itu dapat membahagiakan–maka tinggalkanlah. Sebab makna bahagia bagi seorang muslim adalah tatkala Ridha Allah diraihnya, inilah muara kebahagiaan yang sesungguhnya.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.