Masyarakat Sadar Negara Tak Boleh Lalai

Oleh : Sriyanti (Ibu Rumah Tangga)

“Pandemi Covid-19 memang telah menjelma dari krisis kesehatan menjadi krisis sosial ekonomi. Namun gotong royong masyarakat Indonesia telah membuktikan, kita sebagai bangsa besar yang peduli dan kuat.” Ungkap Sonny Harri B Harmadi yang merupakan Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat. Dikutip dari siara pers pada Senin, 04/05/2020. (Kompas.com)

Ungkapan di atas merupakan apresiasi pemerintah, terhadap masyarakat yang senantiasa gotong royong dan saling membantu dalam melawan pandemi Covid-19. Di tengah suasana seperti ini, rasa kebersamaan masyarakat semakin terlihat. Mereka saling peduli, saling berbagi serta saling menolong.

Salah satu kegiatan, wujud dari gotong-royong tersebut adalah penyemprotan disinfektan. Kegiatan ini merupakan agenda di seluruh wilayah di saat pandemi. Tak terkecuali di Kabupaten Bandung kegiatan ini dilakukan dengan kerja sama dari berbagai pihak.

Sebagaimana dilansir oleh wartakini.co pada Kamis 07/05/2020, Tim Pemuda Tanggap Bencana (PETA) DPD KNIP Jabar yang melaksanakan kegiatan penyemprotan disinfektan dan pembagian masker gratis, di wilayah RW 17 Komplek Cibiru Asri Desa Cibiru Wetan Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung.

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan masyarakat secara gotong royong, untuk mencegah penularan wabah covid-19 dan diharapkan bisa memberikan sedikit rasa aman kepada masyarakat, di tengah situasi saat ini. Apa yang dilakukan oleh para pemuda dan ormas tersebut adalah suatu kebaikan yang bernilai pahala, hal tersebut juga patut kita syukuri ukhuwah di antara sesama semakin erat terjalin. Itulah hikmah dari adanya pandemi ini. Pemerintah pun sangat mengapresiasi hal ini dan merasa bangga dengan masyarakatnya yang mempunyai sifat peduli dan kuat. Tak ada salahnya pemerintah demikian bangga. Namun tidakkah pemerintah sampai berpikir, apakah masyarakat menjadi demikian sadar karena puas dengan pengurusan yang diberikan mereka ataukah sebaliknya?

Kekecewaan rakyat bermula dari berbagai kebijakan pemerintah yang senantiasa tidak berpihak pada mereka. Diperparah dengan situasi saat ini, pemerintah dirasa kurang tanggap dalam menangani persoalan wabah ini. Rakyat merasa kebingungan dengan solusi berikan pemerintah yang selalu berubah-ubah. Negara tidak berani menggunakan lockdown untuk menyelesaikan permasalahan pandemi ini karena tidak mau menanggung kebutuhan hidup seluruh masyarakatnya. Hal ini semakin membuat rakyat sadar akan lalainya pemerintah, hingga masyarakat memilih bersikap mandiri karena peran pemerintah yang tidak bisa diharapkan.

Tumbuhnya kesadaran di tengah masyarakat untuk saling peduli, selayaknya tidak boleh menjadikan negara abai terhadap rakyatnya. Bagaimana pun mengurus persoalan terkait kesehatan masyarakat, baik di masa pandemi atau pun tidak adalah kewajiban negara. Oleh karena itu sudah seharusnya negara memberikan pelayanan yang optimal terlebih di saat pandemi.

Setiap individu memang mempunyai kewajiban untuk menjaga kesehatan pribadi, keluarga bahkan lingkungannya. Namun peran pemerintah sangatlah dibutuhkan agar kesehatan masyarakat terjaga secara maksimal.

Sebagaimana yang dilakukan oleh sistem pemerintahan dalam Islam yang telah memberikan peri’ayahan terbaik sepanjang masa keberadaannya. Pada masa kekhalifah Umar bin Khaththab, daulah Islam pernah terjangkit oleh wabah thaun, tepatnya di daerah Syam. Dengan penuh tanggung jawab khalifah Umar pun segera mengambil tindakan untuk menangani permasalahan tersebut. Tanpa banyak pertimbangan karena wabah ini sangat membahayakan bagi umat. Umar pun mengambil kebijakan karantina wilayah agar penyebaran wabah terputus. Kebijakan ini diambil berlandaskan dengan sabda Rasulullah saw.

“Jika kamu sekalian mendengar ada wabah menjangkiti suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya dan jika Wabah menjangkiti suatu daerah dan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar dari sana karena melarikan diri darinya.” ( HR. Bukhari )

Khalifah Umar pun segera memberikan pengobatan terbaik pada korban wabah dan menjamin seluruh kebutuhan masyarakat saat karantina. Biaya yang digunakan berasal dari kas baitu mal yang merupakan pusat kekayaan negara. Salah satu pos pemasukan baitu mal adalah hasil dari pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki negara. Mekanisme penggunaannya diatur oleh syariat dan dipergunakan untuk kesejahteraan umat. Tak hanya itu Umar pun memupuk dan memperkuat keimanan umat, dengan memberikan pemahaman bahwa musibah wabah ini adalah bagian dari qadha Allah Swt. Serta mengajak seluruh umat untuk senantiasa mendekatkan diri, memohon ampunan dan meminta pertolongan dariNya.

Itulah gambaran seorang pemimpin dalam Islam. Dengan keimanan yang kuat, senantiasa menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin adalah amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Swt. Hingga menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya berdasarkan aturan yang diperintahkanNya. Berbeda halnya dengan saat ini, walaupun kita hidup di negeri mayoritas muslim, tauladan seperti itu tidak kita dapati.

Oleh karena itu agar muncul sosok pemimpin seperti Umar bin Khaththab. Negeri ini harus mencampakkan sistem kufur tersebut dan menggantinya dengan sistem Islam, yang akan menerapkan aturan Islam secara menyeluruh hingga menjadi solusi bagi setiap permasalahan kehidupan dan akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu a’lam bi ash-shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *