Maraknya Kasus Asusila Di Era Kapitalis Sekuler

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Umi Hamidah (Aktivis Muslimah Bangka Belitung)

 

Terkuaknya kisah tragis tentang dugaan pemerkosaan tiga anak di bawah umur oleh ayah kandungnya sendiri yang berinisial SA (43), di kabupaten Luwu Sulawesi Selatan. Lebih tragis lagi ketiga bocah yang masih di bawah umur 10 thn itu juga di perkosa pelaku lain yang notabene teman SA. Anak perempuan di perkosa, anak laki-laki di sodomi. Drama terkuak saat ibu korban berinisial (RS) melaporkan hasil pengakuan anaknya di hadapan aparat pada tahun 2019 lalu. Alih-alih pelaku yang aparatur sipil negara (ASN) di tangkap, penyelidikan kepolisian malah dihentikan.

Setelah menempuh jalur berliku, sang ibu malah di tuduh balik sebagai orang dengan gangguan mental. Padahal bukti visum dan foto-foto kerusakan organ anak-anaknya dia pegang (kompas). Akankah perjuangan sang ibu untuk ketiga buah hati nya akan mendapatkan keadilan? Akankah keadilan di tegak kan? Entah apa yang ada di benak seorang ayah kandung hingga tega memangsa anak-anaknya sendiri, bukan hanya satu tapi tiga-tiganya. Anak yang seharusnya ia lindungi, ia do’akan, dan sayangi. Iblis apa yang merasuki jiwanya hingga tunduk pada syahwat terlarang.

Adanya kasus kejahatan seksual yang begitu sadis, sekali lagi kita temukan di era penerapan sistem kapitalis sekuler saat ini. Sistem yang meniadakan agama dalam kehidupan menjadikan manusia-manusia jauh dari Allah. Sistem ini membentuk manusia penghamba syahwat. Manusia-manusia yang tidak takut dengan Allah. Hingga kesadisannya benar-benar di luar nalar kemanusiaan. Sebab hewan saja tidak ada yang begitu keji memperlakukan anaknya. Kekerasan seksual anak sesungguhnya menunjukkan gambaran masyarakat yang sakit dan rusak. Di sisi lain hal ini menggambarkan lemahnya keimanan kepada Allah dan hari penghisaban.

Sejatinya ini merupakan ciri masyarakat sekulerisme yang memisahkan urusan agama dengan kehidupan dan penuh dengan syarat kebebasan atau liberalism. Adanya kebebasan ini maka nilai-nilai agama tidak di perdulikan. Agama tidak lagi di pakai untuk mengatur kehidupan. Sekulerisme telah menjadikan aturan agama di sudut pojok kehidupan dan bahkan tidak di pergunakan. Kebebasan telah menebas akal sehat, menjadikan manusia berprilaku bebas tanpa batas, peran sang Pencipta yang mempunyai hak untuk mengatur kehidupan sehari-hari termasuk kekerasan seksual anak diabaikan.

Dengan demikian sudah jelas bahwa sekulerisme, kapitalisme adalah biang keladi maraknya KSA (Kekerasan Seksual Anak). Selama sekulerisme dan kapitalisme masih menjadi landasan, maka KSA mustahil di berantas tuntas. Padahal dampak dari KSA sangat merugikan anak yang merupakan generasi penerus peradaban. Anak telah memikul dampak trauma yang cukup panjang dari KSA, sehingga perlu upaya serius dan solusi yang menyeluruh dari pemerintah agar kasus ini tidak terulang. Pemerintah harus mengkaji ulang atas sanksi yang sudah di jatuh kan agar mampu memberikan efek jera bagi pelaku. Islam melarang segala aktivitas yang memberi peluang terjadinya KSA.

ISLAM juga mengatur interaksi antara laki-laki perempuan, mengatur kekerabatan dalam keluarga. Sistem pendidikan dalam Islam semakin memperkokoh syakhsiyah Islam, termasuk termasuk menyiapkan orang tua yang amanah dalam mengasuh, membesarkan, dan mendidik anak-anak dalam keluarga. Kesejahteraan individu wajib di penuhi oleh negara. Sanksi yang tegas yang memberikan efek jera dan mencegah juga ditetapkan oleh Islam. Sanksi bagi pelaku sodomi maka hukumnya seperti dalam hadist, “Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum nabi luth, maka bunuh lah pelaku dan yang di ajak melakukan nya (HR.Khamsah, kecuali An Nasa’i)

Tidak kalah penting keimanan dan ketaqwaan yang kuat baik pada rakyat maupun petugas negara menjadi benteng yang kokoh untuk selalu taat pada aturan Allah. Hal ini menciptakan suasana masyarakat yang senantiasa menjaga dari kemaksiatan dan mendorong kepada kebaikan, bukan masyarakat individualis sebagai mana dalam sistem kapitalis sekuler.

Dengan demikian tidak ada pilihan lain bagi kita selain menerapkan islam secara kaffah yaitu Daulah Khilafah. Negara akan mengubah kebebasan menjadi ketaatan hanya pada Allah SWT. Karena dengan itulah kekerasan dapat teratasi dengan tuntas.

Wallahu a’lam bish showab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.