Mangga Manis dan Islam Nusantara

Oleh: Irma Ismail (Aktivis Muslimah Balikpapan)

Kalau lihat mangga manis, kenapa rasanya mau tertawa geli. Apalagi lihat kulitnya… hehehehe…gimana gitu rasanya. Semua berawal pada hari menjelang dzuhur, ketika kami sedang berkunjung ke salah seorang tokoh di kota kami, sebuah ormas yang cukup di kenal di masyarakat.
#######

“Mbak…Indonesia ini sudah tenang, aman dan toleransinya paling tinggi di dunia, demokrasi berjalan baik. Jadi ga usah di ubah-ubah lagi dengan yang lain. NKRI sudah final mbak… Islam di Indonesia itu jelas, nusantara banget, ga usah bawa arab ke sini. Pokoknya sudah final, negara lain aja mencontoh Indonesia, kok ya mbaknya mau mencontoh Arab, lah di di Arab aja, TKW ga dilindungi…jadi mbak, sudahlah ga usah cape-cape,Islam Nusantara itu sudah pas…” panjang lebar Ibu Fulanah membeberkan apa yang ada dipikirannya.

Sebenarnya, awal pembicaraan tidak ke situ, tapi ini kenapa larinya ke Islam Nusantara ya…

“Ibu benar, bahwa toleransi di Indonesia jadi panutan bagi negara lain, tetapi yang membuat toleransi itu ada, adalah Islam bu. Benar, Islam berasal dari Arab, tapi Allah mengatakan bahwa Islam untuk seluruh alam, untuk umat manusia semuanya. Bahkan orang Arab yang beragama Islam juga sama dengan kita, beribadah mengikuti aturan Islam. Tidak dengan budayanya. Apa yang diperintahkan Islam maka berlaku bagi semua. Bagaimana mereka sholat ya sama dengan kita, karena sumbernya sama…”jawabku singkat, berharap ada diskusi lebih lanjut.
“Hm…maaf, mbaknya apa dari pesantren ?”
“Oh tidak bu, kami belajar mengikuti kajian dengan kitab-kitab berbahasa Arab juga yang kami pelajari ” jawab kami hampir berbarengan.
Dan terlintas di benakku saat itu, ini seperti dalam kitab at takattul al hizbiy

“Oo belajar Islam tidak dari Pondok pesantren tho…maaf nggih, mbak..ini misalnya saja ya…kalau mbak lihat mangga manis, yang warna kulitnya sudah matang, baunya harum, pasti enak kan dimakan. Kita kupas dan dimakan dagingnya, pasti lezat dan nikmat, nah sayangnya mbak itu hanya makan kulit mangganya aja, ga enak kan mbak ? meski daging dan harumnya enak, tapi mbak dapat kulitnya aja. Nah itulah perumpamaan orang yg belajar Islam tapi tidak di Pondok Pesantren…cuma dapat kulitnya mbak, tetap tidak enak…..” jelas ibu itu.

Dan benar, seperti dalam kitab at takattul al hizbiy, jika mereka tidak bisa membantah argumen kita, maka mereka akan menyerang personal kita.
Tidak lama setelah itu kami pamit, dengan sedikit obrolan karena dengan halus beliau berdiri dan membuka pintu.
#######

Apakah kami marah ? Alhamdulillah tidak, kami berjalan ke masjid untuk sholat dzuhur dan mengadukan semua kepada Allah Robb semesta Alam.
Sedih, iya…karena selain muslimah, beliau juga tokoh panutan di sekitarnya. Tapi ini adalah fakta, bagaimana arus liberalisme, demokrasi dan pluralisme sudah benar-benar ada di sekitar kita. Merecoki pemikiran kaum muslimin, bahkan bisa memusuhi saudara seaqidah.
Perang pemikiran yang sudah merajalela dalam lini masyarakat.

Sungguh luar biasa, bahkan bagaimana pertarungan pemikiran itu sekarang sedang berlangsung.
Bagaimana kebenaran bisa diputar balikan.
Bagaimana kemaksiatan bisa difasilitasi.
Bagaimana kedzoliman terus terjadi.
Bahkan……
Bagaimana Ulama, pewaris nabi bisa di kriminalisasikan ?
Bagaimana hukum yang tidak adil terus dipertontonkan di muka dunia…maka pada akhirnya dunia akan melihat dan menilai sendiri.
Bagaimana arus kebenaran melawan kebathilan…

Kini saatnya ummat bersatu, merekalah musuh Islam.
Ulama mereka jadikan tersangka, terdakwa bahkan terpidana…mereka jadikan itu karena apa yang ada dalam pikiran, perkataan dan perbuatan Ulama sangat mereka takuti, mereka lupa atau tidak tahu bahwa Ulama adalah pewaris Nabi dalam menyampaikan Kalam Ilahi. Yang memberikan kabar dan peringatan kepada ummat manusia.

Maka saatnya kita bersama, berpegang erat di bawah panji Aliwa dan Arroya, melawan kedzoliman yang sedang terjadi.

Menumpas sistem kufur yang rusak dan merusak, mengganti dengan sistem yang shohih, untuk melanjutkan kehidupan yang penuh Rahmat…dan semua itu mustahil akan tercapai jika tidak dalam sebuah institusi negara, maka menegakkan Daulah Islamiyah adalah kewajiban kita bersama.

Jadilah bagian dari mereka yang memperjuangkan kembali tegaknya aturan Islam secara kaffah di muka bumi ini, tentu berbeda berjuang sebelum tegaknya Khilafah dengan nanti setelah berdirinya Khilafah….Smoga Allah memberikan kita keistiqomahan hingga ajal menjemput.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *