Mahasiswa Berkelas, Idaman Surga

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Hartini (Aktivis Dakwah Kampus di Surabaya)

 

Mahasiswa yang dikenal sebagai penyampai ide atau suara dari rakyat ke pemerintah. Mahasiswa juga dikenal sebagai Agent of Change di tengah masyarakat. Banyak sekali slogan untuk mahasiswa saat ini. Namun realitas di lapangan tidak se-apik slogan yang di dengar oleh masyarakat.

Melihat potret mahasiswa saat ini, akan dapat disimpulkan satu kata di benak kita: BURAM. Fase dimana harapan bangsa  bahkan peradaban sedang dipersiapkan di tangan para generasi mudanya, yang justru generasinya sedang kehilangan arah dan gantung dengan paham kebebasan atau liberalisme. Banyak mahasiswa yang mengadopsi pemikiran dari barat misalnya sekularisme liberalisme. Yang itu akan membuat mahasiswa menjadi kian bebas dan hedonis. Karena sesungguhnya suatu pemikiran yang diambil oleh individu akan membentuk perilaku atau tindakan dalam aktivitasnya. Bisa dibayangkan jika yang diambil ide sekulerisme, pemisahan agama dari kehidupan yang menjadi asas. Mahasiswa akan menjadi kehilangan moral bahkan tujuan hidupnya.

Mahasiswa berkelas itulah idaman semua para orang tua yang menginginkan anaknya yang berubah status dari pelajar ke mahasiswa menjadi mahasiswa yang berkualitas dan mampu membanggakan negara dan keluarga. Tentu tidak akan didapat begitu saja tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Seorang pendaki gunung, tidak akan dianggap sebagai pendaki, hanya dengan mimpi jadi pendaki.

Seorang pengusaha sukses, tidak akan dinyatakan sukses, sebelum dunia melihat kesuksesan secara nyata. Begitu pula menjadi mahasiswa yang berkualitas apalagi jadi ahli surga, tentu bukan perkara sederhana.  Mahasiswa, merupakan suatu fase kehidupan yang dipilih oleh manusia.  dimana Fase ini dipenuhi dengan warna-warni kehidupan. Di dalam Islam,  fase mahasiswa disebut sebagai masa dimana seseorang sudah seharusnya faham dengan beban hukum yang wajib ditanggungnya. Seperti halnya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk mana yang halal dan mana yang haram. Karena ekspektasinya mahasiswa adalah agent yang mempunyai pemikiran yang kritis. Dan paham terhadap lingkungan yang sedang terjadi bukanlah pasif dan tidak peduli dengan segala hal yang menimpa negaranya. Hal ini penting untuk disadari karena mahasiswa adalah pelanjut estafet perjuangan.

 

Mahasiswa berkelas adalah mahasiswa yang berprestasi aktif, intelektual tinggi namun tetap syar’i. Syar’i dalam artian konsisten di jalur syariat Islam, ditengah lingkungan dan arus hedonis yang sangat melanggar syariat ini. Mahasiswa yang anti mainstream dan mahasiswa yang melawan arus kini sangat langka untuk ditemui titik melawan arus gimana lingkungan getol bermaksiat, mahasiswa berkelas ini getol menyuarakan anti gaul bebas. Saat lingkungan kampus sibuk mikirin masalah pribadi, mahasiswa berkelas ini sibuk mikirin solusi dari permasalahan sebuah bangsa. Karena permasalahan sebuah bangsa saat ini sangatlah kompleks, mulai dari aspek ekonomi yang mempunyai problem PHK besar-besaran. Aspek pendidikan yang menetapkan kebijakan pendidikan jarak jauh membuat angka buruh diri naik. Dan yang paling terlihat yaitu aspek kesehatan, permasalahan pandemi covid belum juga tertuntaskan bahkan angka positif covid19 kian naik dan meningkat.

 

Untuk menjadi mahasiswa harus dididik sejak dini mulai dari remajanya harus di persuasi dengan lingkungan yang mendukung dengan kebaikan dan menjadi individu yang bertaqwa. Masyarakat pun harus menjalankan fungsinya untuk saling mengingatkan yaitu amal ma’ruf nahi mungkar. Dan tentu saja, negara harus mampu menciptakan iklim yang kondusif untuk menambah kembang mahasiswa melakukan riset dan perubahan melalui kebijakan dan sistem sanksi yang ampuh untuk mempersiapkan generasi cemerlang. Tentu saja, kita tidak bisa berharap pada sistem saat ini. yang menerapkan kapitalisme liberal. Yang menjadikan materi sebagai tujuan tertinggi. Yang tidak memperhatikan Kesejahteraan Rakyat, ketenangan lingkungan. Namun menjadikan keuntungan sebagai tujuan yang dicapai walaupun harus mengorbankan nasib rakyatnya. tentunya ini berbeda dengan Islam , Islam merupakan agama yang sempurna dan paripurna. mempunyai aturan dalam seluruh aspek kehidupan, meletakkan pembuat hukum sebagai satu-satunya yang tertinggi yaitu Allah.

Wallahua’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.