Macron Mengancam Kaum Muslim. Di mana Peran Pemimpin Ummat Sebagai Perisai?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Nahdoh Fikriyyah Islam/ Dosen dan Pengamat Politik

 

Presiden Perancis Emmanuel Macron telah mengadakan pertemuan dengan dewan pertahanan negara, menyusul serangan mematikan terhadap seorang guru sejarah di pinggiran kota Paris. Macron menyatakan bahwa para Islamis tidak akan tidur nyenyak di Perancis, ketakutan akan berpindah posisi. Kemarin, ribuan orang turun ke jalan untuk mengikuti aksi demonstrasi di seluruh Perancis. Pawai dilakukan sebagai solidaritas dukungan terhadap guru bernama Samuel Paty. Pria berusia 47 tahun itu jadi korban pembunuhan seorang pemuda 18 tahun yang disebut-sebut sebagai ekstrimis Islam.

Pemuda asal Chechnya, Rusia itu memenggal kepala Samuel Paty di luar sekolah di Conflans-Sainte-Honorine, barat laut Paris, Jumat (16/10/2020). Remaja 18 tahun itu membunuh Paty setelah sang guru menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada murid-muridnya saat pelajaran sekolah. Tersangka yang diidentifikasi sebagai Abdullakh Anzorov.  Kini, jumlah orang yang ditangkap bertambah menjadi 10. Polisi menyelidiki kemungkinan kaitan dengan kelompok ekstremis Islam.

Sebelum mengecam ekstrimis Islam, Emmanuel Macron secara terbuka membela dan berada disisi yang sama dengan mendiang guru sejarah itu. Menurut Macron, apa yang dilakukan sang guru hanyalah mengajarkan tentang kebebasan pandangan dan pendapat. Menurutnya, guru tersebut benar mengajarkan kebebasan untuk percaya atau tidak. Ia juga mengatakan serangan itu seharusnya tidak memecah belah Perancis karena itulah yang diinginkan para ekstremis. (idtoday.co. 19/10/2020)

Peristiwa yang terjadi di Perancis tentu saja mengejutkan bagi Perancis. Mungkin sebelumnya tidak pernah terpikir oleh Perancis bahwa warga minoritas apalagi imigran akan mampu bertindak sejauh yang dilakukan Abdullah Anzorof, yaitu memenggal guru sejarahnya. Tidak tanggung-tanggung, tembak mati ditempat adalah hukuman yang harus diterima Abdullakh dari pemerintah Perancis. Terlepas apakah perbuatan Abdullakh itu benar atau salah dimata dunia, kelak akan ada pengadilan yang seadil-adilnya dihadapan Sang Pencipta.

Pasca peristiwa tewasnya guru sejarah tersebut, pastinya memunculkan pro-kontra di kalangan masyarakat Perancis, dan juga dunia. Sebagian kelompok yang pro terhadap pemerintah Perancis mendesak agar keluarga Abdullakh dan ummat Islam meminta maaf. Namun ada juga yang mendukung tindakan tersebut karena mengingat Perancis adalah negara yang banyak terlibat melakukan kejahatan di beberapa Negara.

Perancis tercatat sebagai salah satu negara barat yang tidak kalah sadis terhadpaap kasus kejahatan perang dan kemanusiaan. Perancis berpartisipasi dalam pembentukan slave trade (bisnis perbudakan) khususnya warga kulit hitam, kemudian penindasan atas warga Haiti hingga ditimpa kemelaratan, dan membunuh ribuan manusia di Vietnam juga Algeria. Tidak pernah sekalipun Negara/pemerintah Perancis meminta maaf atas tindakan kejahatan- kejahatan tersebut. Dan kini, Negara Perancis dibawah pimpinan Macron, membuat ummat Islam di Perancis semakin tidak mendapatkan tempat dan kenyamanan disana.

Dengan dalil kebebasan berekspresi, Macron ternyata mendukung tindakan guru sejarah yang dipenggal Abdullakh. Padahal, alasan pemenggalan itu terjadi karena pelecehan terhadap keyakinan Abdullakh, yaitu menunjukkan karikatur Nabi Muhammad saw. Macron sungguh nyata telah menunjukkan sifat kemunafikannya. Jargon mengayomi kebebasan ekspresi di depan dunia seolah-olah berlaku umum tanpa rasis. Buktinya, Abdullakh Anzarof mengekspresikan haknya membela Nabi saw dari pelecehan justru ditembak mati tanpa proses hukum dan tanpa mencari kebenarana alasan perbuatan Abdullkah tersebut. Intinya, jika ummat Islam yang membela agamanya, hukuman tindak ditempat paling tepat. Inilah wajah asli Macron, rezimnya dan ideologinya.

Cara paling ampuh yang ditempuh oleh Macron menyudutkan ummat Islam adalah mengaitkan Abdullahk dengan kelompok berbahaya ekstremis Islam. Dengan alasan memerangi kelompok esktremis, Macron mengharap dukungan dan simpatik dunia terhadapa guru sejahra tersebut yang hanya mengajarkan kebebasan berpendapat. Jika yang menjadi pendukungnya adalah sesame Negara barat atau Negara sekuler, itu wajar. Tetapi miris jika yang mendukung adalah kaum muslim terlebih para pemimpinnya. Karena  seharusnya, para pemimpin negeri muslim layak menyerukan perang bagi pemerintah Perancis atas tembak mati Abdullkah dan luka kaum muslimin akibat pelecehan nabinya.

Macron semakin merasa diatas angin dan mengancam kaum muslimin dengan jaminan bahwa kelompok ekstrismis Islam tidak akan tidur nyenyak di Perancis. Dan ucapannya kini sedang ia buktikan. Tetapi apakah Macron hanya menunjuk kelompok extrimis Islam sebagaimana yang  disebutkan? Tentu saja tidak. Ia hanya mengelabui dunia. Pada hakikatnya Macron sedang menabuh genderang permusuhan terbuka dengan Islam dan kaum muslimin. Ekstremis hanya alasan yang dibuat-buat agar tindakan semena-mena terhadap Islam dan kaum muslim yang minoritas di Perancis dianggap sah-sah saja.

Ancaman Macron kepada ummat Islam terbukti nyata. Kabarnya, pemerintah Perancis sedang menutup sementara masjid di sebagian wilayah Paris sebagai tamparan keras bagi pengikut dan pembela tindakan pemenggalan guru sejarah tersebut. Bahkan mesjdi- masjid di  Paris sedang mengalami banyak aksi terror dan barbar. Hingga sekolah- sekolah Islam juga dilarang beroperasi sementara. Jika yang dituju adalah kelompok yang dianggap esktrimis, kenapa masjid dan sekolah yang jadi sasaran? Bukankah hal ini sekali lagi membuktikan bahwa sebenarnya bukan kelompok ekstimis yang dibenci oleh Negara Perancis, melainkan Islam, pemeluknya, serta symbol-simbolnya.

Tidak cukup hanya dengan penutupan masjid dan sekolah sementara waktu, kelompok kulit putih pun juga beraksi. Dua muslimah bernama Kenza dan Amel ditususk berkali-kali yang berlokasi dekat dengan Menara Eiffel. Penyerang wanita berkulit putih tersebut menyebutkan gelar “Dirty Arabs” (orang-orang Arab yang kotor).  Hal ini membuktikan bahwa pemerintah Perancis dan masyarakatnya yang liberal saling mendukung tindakan islamophobia yang dilegalkan dibalik jargon hak dan kebebasan.

Sebelum peristiwa ini, Macron juga telah menoreh luka untuk ummat Islam dengan menyatakan  Islam adalah masalah bagi dunia. Apa sesungguhnya yang diinginkan oleh Mcron? Masalah apa yang ia maksud? Adakah ia paham ajaran Islam hingga menyebutnya sebagai masalah bagi dunia? Dan Adakah yang merespon pernyataan Macron dari sekian banyak pemimpin negeri-negeri muslim di dunia ini? Kendatipun ada satu semisal Erdogan yang mengecam ucapan Macron, namun sungguh, gertakan Erdogan tidak berpengaruh besar bagi Perancis untuk menghentikan hembusan kebenciannya terhadap Islam.

Peristiwa pemenggalan guru sejarah tersebut seperti mengsyaratkan bahwa ucapan Mcron mengandung kebenaran. Oleh karena itu, ia terus mengobarkan dukungan terhadap Samuel. Sebagaimana ia sampaikan bahwa dunia bersama Perancis. Sungguh, agenda kriminalisasi terhadap Islam dan kaum muslimin akan terus berlanjut dari musuh-musuh Allah. Karena pada intinya, mereka tidak ridho jika Islam kemballi bangkit dan berhadapan dengan mereka.

Sampai kekuatan ummat itu terwujud, kafir Barat akan terus memojokkan dan menghina kaum muslimin. Berbagai cara terus diupayakan demi membangun opini islamophobia di dunia. Lalu, pemimpin negeri muslim manakah hari ini yang mampu membuat Perancis meradang ketakutan? Dimanakah sosok pemimpin sebagai perisai yang didambakan oleh ummat?

Kerinduan ummat akan hadirnya sosok pemimpin yang mampu menggetarkan Negara kafir barat seperti Perancis semakin menggelora. Jika dipahami sebenarnya posisi Negara barat seperti Perancis sangatlah rapuh dan diselimuti ketakutan. Mereka tidak menyangka bahwa pemuda berusia 18 tahun bisa mengguncang Perancis. Satu pemuda saja bisa membuat Perancis kelakabakan, apalagi seandainya ada pemimpin ummat yang mampu membuat Perancis semakin tidak berdaya.

Sayangnya, fungsi pemimpin sebagai perisai kini mandul di bawah sistem demokrasi kapitalis. Penguasa-penguasa negeri muslim tidak memiliki keberanian dan kekuatan dalam membela agama, Nabi, dan kaum muslimin. Padahal syariat islam mengajarkan bahwa seorang pemimpin adalah laksana perisai sebagai pengayom dan pelindung. Dan dengannya rakyat merasa terjaga dan terpelihara.

Semoga kerinduan dan kebutuhan hadirnya pemimpin ummat yang bertaqwa dan menjalankan syariat Allah akan segera terwujud. Hari itu akan menjadi mimpi buruk bagi Perancis dan Negara-negara Barat lainnya yang menyatakan permusuhan dengan Islam. Dan tindakan Abdullah membela kemuliaan Rasulullah saw semoga mendapatkan ampunan dari Allah swt.  Dengan demikian, kepemimpinan ummat di bawah aturan syariat Islam adalah satu-satunya jawaban yang ditakutkan Negara kafir Barat dan menjadi harapan bersama ummmat Islam sedunia.

Allah swt telah menjanjikan datangnya kembali kejayaan Islam yang kedua mengikuti metode kenabian. Dan tugas yang seharusnya dialukan adalah berjuang bersama untuk mewujudkannya.

 

Wallahu a’lam bissawab.

 

 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.