Lonjakan kasus infeksi, Bukti pemerintah tidak serius

Oleh : Fitri Amin

Bayak pihak seperti IDI, epidemiologi memprediksi akan melonjaknya kasus infeksi menjelang dan pasca lebaran. Seperti dilansir dalam Republika.com Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengingatkan semua pihak untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya lonjakan kasus Covid-19 usai Hari Raya Idul Fitri. Begitupun apa yang dikatakan oleh dewan pakar ikatan ahli kesehatan masyarkat Indonesia, Hermawan Saputra yang memperkirakan lonjakan pasien positif Covid-19 pasca hari raya diperkirakan satu harinya akan ada 1.000 kasus baru pasien positif.

Apalagi saat ini Indonesia menjadi negara tertinggi se-ASEAN dalam hal penambahan kasus baru, setelah adanya penambahan kasus baru sebanyak 973 kasus itu pun belum sampai pada puncaknya. Ditengah meningkatnya angka kasus corona, seharusnya menyadarkan pemerintah agar lebih serius lagi dalam hal menangani wabah corona ini bukan malah melakukan kebijakan yang justru memicu bertambahnya kasus, seperti saat ini pemerintah malah melakukan relaksasi PSBB, membuka kembali beroperasinya moda transportasi umum, dan market-market besar seperti mall pun kembali dibuka.

Jika dilihat apa yang dilakukan pemerintah dalam setiap kebijakannya untuk menangani covid-19 ini, banyak menuai kritikan dan protes oleh masyarakat, seperti saat melakukan relaksasi PSBB banyak cuitan di twitter dengan tagar #IndonesiaTerserah yang juga menjadi trending topik beberapa waktu lalu ini menunjukan kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah yang tidak serius dalam mengatasi wabah ini.

Apatah lagi saat ini pemerintah ingin menerapkan konsep New Normal yang sejatinya semua itu untuk kepentingan ekonomi para kapitalis bukan kesehatan rakyatnya. Bagaimana tidak dalam kondisi wabah yang belum stabil kita dipaksa untuk hidup normal. Sebab akibat dari pandemic corona semua sektor mengalami krisis, salah satunya sektor ekonomi sehingga berbagai upaya dilakukan agar bisa menyalamatkannya, tetapi semua itu hanya untuk kepentingan mereka dan para pemilik modal.

Dalam setiap kebijakan yang dilakukan pemerintah hari ini bukanlah untuk kepentingan masyrakat, jika memang benar ingin mengatasi wabah dan mementingkan kesehatan rakyat pastinya tidak akan membuat kebijakan tambal sulam yang justru memperpanjang masa wabah.

Hal ini menunjukan pemerintah berlepas tangan terhadap tanggung jawabnya untuk mengatasi wabah virus ini, beginilah potret pemimpin dalam sistem kapitalis sekuler mereka hanya bertindak sebagai regulator dan fasilitator saja. Yang melihat urusan rakyat hanya dari segi materi dan asas manfaat, namun jika tidak terdapat keuntungan didalamnya mereka enggan untuk mengurusi rakyat. Jadi wajar saja jika setiap kebijakan yang diterapkan selalu menyengsarakan rakyat tetapi menguntukan penguasa dan pengusaha.

Berbeda dengan kepemimpinan dalam sistem Islam, dalam Islam seorang pemimpin (kholifah) sangat meyadari bahwa negara memiliki tanggung jawab penuh dalam pengurusan urusan ummat ia akan benar-benar melakukan segala daya dan upaya untuk mengatasi segala permasalahan ummat sesuai tuntunan syara dan dalam setiap kebijakan yang dia keluarkan untuk mengurusi urusan rakyat akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah swt . seperti sabda Rasulullah saw “setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimitai pertanggung jawaban atas yang dipimpimnnya” (H.R Bukhari)

Apatah lagi ini berkaitan dengan nyawa ummat, yang dalam pandangan syari’at itu merupakan sesuatu yang urgent untuk dijaga. Maka apapun akan dilakukan untuk melindunginya serta lebih diutamakan dari apapun terutama ekonomi Rasulullah saw. bersabda
“Hilangya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak“ (HR. Nasai, Turmudzi)

Islam adalah agama sekaligus ideologi yang memiliki seperangkat aturan untuk meyelesaikan problematika kehidupan manusia, begitupun dalam penanganan wabah seperti saat ini, islam memiliki tiga prinsip dalam hal menanggulangi wabah yaitu :

Pertama, jika terjadi wabah maka akan dilaksanakan penguncian area yang terkena wabah atau saat ini disebut dengan kebijakan lockdown dan kebutuhan pokok masyarakat akan dipenuhi oleh negara. Rasulullah saw. bersabda:

“Apabila kalian mendengarkan wabah disuatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedang kamu berda di tempat itu maka janganlah keluar rumah” (HR. Muslim)

Kedua, isolasi yang sakit yaitu mengisolasi setiap yang terinfeksi agar tidak menularkan kepada yang lain. “sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sakit.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ketiga, mengobati hingga sembuh. Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan diadakan-nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram” (HR. Bukhari).

Semua ini akan terlaksana dan pandemi ini akan cepat berakhir kecuali kita kembali kepada islam yang kaffah dengan institusinya yaitu khilafah. Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *