Lockdown pun Butuh Sistem Islam

Oleh: Yeni Rifanita, S.Pd (Ibu dan Penggiat Opini Ideologis Lubuklinggau)

Beberapa hari terakhir Indonesia kembali dikejutkan dengan angka penderita Covid-19 alias Corona yang melonjak tajam.

Jumlah pasien positif corona di Indonesia bertambah menjadi 117 orang. Angka tersebut muncul setelah pada Minggu (15/3), pemerintah mendapati 21 kasus baru. Sebelumnya, jumlah pasien positif corona hingga Sabtu (14/3) hanya berjumlah 96. Juru Bicara Pemerintah khusus penanganan virus corona, Achmad Yurianto mengatakan spesimen positif didominasi dari Jakarta. (CNN-Indonesia)

Sebenarnya bukan hal yang mengejutkan jika virus ini kian menjadi pandemi yang bergerak dengan cepat menelan banyak korban. Pasalnya, saat munculnya wabah ini sejak awal tahun lalu pemerintah Indonesia sendiri seolah menganggap enteng dan acuh dalam melakukan tindakan preventif untuk mencegah virus ini menyebar di Indonesia.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti mengatakan bahwa jumlah wisman pada Januari 2020 masih mencapai 1,27 juta atau tumbuh 5,85% dibanding Januari 2019. Walaupun sejak bulan Desember terjadi penurunan wisman sebanyak 7,62% (katadata.co.id). Artinya jumlah kunjungan wisata dari Wisatawan mancanegara (wisman) masih terus dibuka walaupun wabah ini sudah merebak hampir seluruh negara di dunia.

Yang terbaru bahkan sebanyak 1.044 penumpang kapal MV Columbus asal Australia masih diterima masuk ke Indonesia melalui Pelabuhan Tanjung mas Semarang. Walaupun mereka di klaim negatif virus Corona, tetap saja ini adalah hal yang mengkhawatirkan.
Desakan agar Presiden Indonesia melakukan lockdown dari berbagai pihak belum bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini. Presiden hanya mengeluarkan himbauan:

Saatnya kerja dirumah, belajar dirumah, ibadah dirumah
Mengatasi wabah yang telah mendunia ini sepatutnya kita membutuhkan solusi tegas dan efektif. Bukan hanya solusi spontanitas dan pragmatis. Hal ini jauh sebelumnya telah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam beserta para Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan beliau.

Wabah adalah Qadla yang merupakan hak prerogatif bagi Allah untuk mengadakannya diatas muka bumi. Namun bukan berarti kaum muslimin mensikapinya dengan pasrah saja tanpa ada ikhtiar penyembuhan. Telah cukup banyak pemaparan yang menggambarkan bahwa dahulu saat Daulah Islam terkena wabah berbahaya, Khalifah menerapkan lockdown atas wilayah yang terkena wabah tersebut, misalnya saja pada masa Khalifah Umar bin Khattab, saat wilayah Syam terkena wabah beliau mengumpulkan para sahabat untuk dimintai pendapat. Hingga Abdurrahman bin ‘Auf mengingatkan beliau atas perintah nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)
Sehingga pada saat itu Umar memutuskan untuk mengkarantina (lockdown) wilayah Syam, dan tidak boleh ada yang memasuki wilayah tersebut. Namun, bukan berarti Umar membiarkan penduduk Syam mati ditelan wabah tanpa penanganan lebih lanjut. Umar bin Khattab tak henti-hentinya memberikan bantuan berupa penyediaan sandang dan pangan yang cukup bagi penduduk di wilayah terkena wabah. Bahkan Umar pun membatasi makanan nya karena teringat-ingat dengan rakyat yang menjadi amanah beliau dunia akhirat.
Jika lockdown ini diterapkan atas Indonesia, banyak hal yang harus dipersiapkan oleh pemerintah mengingat banyak rakyat yang berada dibawah garis kemiskinan. Mereka kerja berhari-hari untuk makan saja masih sulit, banyak dari masyarakat yang bekerja diluar rumah seperti pemulung, supir, ojek, kurir dll yang kesulitan makan apalagi jika harus memasok pangan hingga 14 hari, maka mau tidak mau hal ini tetap mengharuskan mereka kerja keluar rumah. Dan harus dipikirkan bahwa jumlah penduduk yang bekerja seperti ini cukup banyak. Maka pemerintah harus mengupayakan penyediaan sandang terutama bagi mereka yang kesulitan ini. Karena jika hanya lockdown saja tanpa memperhatikan kebutuhan pokok mereka sama saja dengan membunuh perlahan.

Andai saja Daulah Islam masih tegak berdiri, tentunya penyediaan pangan seperti ini tidaklah sulit. Karena sejatinya kekayaan alam ini sangat luar biasa melimpah. Sebenarnya amat mudah bagi penguasa untuk sekedar memberikan bantuan pangan pada masyarakat. Namun apalah artinya jika sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini. Bahkan masker saja ditimbun dan dikapitalisasi oleh para kapital. Tak hanya itu Semua kekayaan negeri diserahkan pada asing, rakyat tak menerima apapun walau hanya remahannya saja.

Mari kita berikhtiar semampu kita. Ambil hikmah dari Qadla yang Allah tetapkan ini, saatnya kita kembali pada cara hidup sesuai syariat, kebersihan, pergaulan, pakaian, cara konsumsi makanan dan minuman serta kehidupan bernegara dan politik yang harus dikembalikan sesuai aturan sang Khaliq.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah : 208).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *