Lockdown di Indonesia : Antara Solusi dan Masalah

Oleh; Ummu El Roya

Corona mengancam dunia. Virus asal cina ini menebar begitu cepat. Demi menyelamatkan bangsa, berbagai negara melakukan lockdown.

Cina sebagai tempat virus corona sempat dianggap tak tanggap dalam menanggulangi masalah ini. Namun, Cina kemudian melakukan lokcdown. Meski langkah lockdown yang dilakukan dianggap paling dramatis dan kontoversial. Puluhan juta orang terkunci, tak bisa bergerak bebas. Namun kurang dari dua bulan, langkah dramatis ini dianggap berhasil oleh pejabat kesehatan.

Kemudian, di Filipina, semua transportasi darat, laut, dan udara masuk dan keluar dari wilayah ibu kota Manila akan dihentikan hingga pertengahan April. Di Amerika Serikat, pinggiran New Rochelle, pinggiran Kota New York diberlakukan “zona penahanan” . Semua tempat pertemuan umum pun ditutup. National Guard telah dikerahkan untuk membantu memberikan makanan dan mensterilkan area publik.

Ada sejumlah pertanyaan yang muncul mengenai upaya lockdown yang dilakukan Cina dan negara lainnya. Salah satunya adalah apakah hal itu tidak melanggar kebebasan warga dan melumpuhkan mata pencaharian mereka.

Bagi sejumlah negara yang memiliki kekuatan ekonomi, lockdown adalah solusi tepat dan berpotensi pada keberhasilan. Contoh Cina, di tengah kondisi terkunci, masyarakat masih bisa makan dan berobat, karena negara Cina mensuplay semua kebutunan rakyatnya.

Amerika Serikat. Negara adikuasa ini tak bisa lari dari ancaman Virus. Merespon pendemi virus corona, Amerika berikan stimulus ekonomi sebesar US 8,3 miliar untuk membiayai riset terkait vaksin. Selain itu Amerika memberikan beberapa fasilitas. Seperti keamanan makanan, fasilitas gratis untuk tes corona, asuransi pengangguran, dll.

Sementara bagi negara yang memiliki perekonomian lemah, lockdown seperti buah simalakama. Jika dilakukan lockdown secara benar, negara tak bisa membiayai rakyat seperti negara besar. Karena posisi Indonesia yang sangat lemah di sisi ekonomi. Akhirnya, lockdown di Indonesia akan menjadi masalah baru. Terutama kalangan bawah.

Musibah akan bertambah dahsyat, jika negara tak mampu memutus ketergantungan terhadap asing. Perekonomian Indonesia kacau sebelum wabah ini terjadi. Defisit 2020 mencapai Rp. 125 triliun, utang luar negeri mencapai Rp. 6070 triliun tentu kini makin rentan.

Tak hanya hambatan hutang, ketidakmampuan Indonesia untuk segera memeriksa orang yang terkena virus juga dihubungkan dengan alat yang minim akan menambah kesengsaraan.

Tak bisa diragukan lagi, sistem Islam memang solusi dari setiap problematika umat. Saat wabah menjangkit Rasulullah Saw bersabda ” Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.” Pesan tersebut diaplikasikan Sayyidina Ummar bin Khattab ketika melakukan perjalanan ke Syam yang notabene sedang terjadi wabah.

Pada masa Khalifah Abdul Majid I telah mengirimkan 1.000 sterling dan 3 kapal besar yang memuat makanan, sepatu dan keperluan lainnya pada saat peristiwa The Great Hunger atau the Great Irish Famine (1845-1852) melanda seantero Eropa.

Kemudian mengenai ketergantungan pada asing. Selama Indonesia menjadi negara pengekor akan sangat sulit dilakukan, kecuali telah terwujud kepemimpinan global yang menaungi seluruh negeri muslim dengan payung Khilafah Islamiyah.

Waallahu ‘alam bishowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *