Lock Down Corona, Perlukah?

Oleh: Sri Yulia Sulistyorini, S. Si.

Virus Corona menjadi pandemi global hingga saat ini, banyak negara yang terdampak virus covid-19 ditandai dengan semakin bertambahnya jumlah korban baik meninggal maupun suspect, termasuk di Indonesia, sampai saat ini korban terus berjatuhan, data terakhir 172 orang terdampak virus covid-19, dengan jumlah meninggal 7 orang. Berbagai tindakan telah dilakukan oleh pemerintah dengan mengumumkan kepada masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, diantaranya dengan meliburkan siswa di sekolah, para pekerja dengan himbauan untuk belajar di rumah, bekerja dari rumah dan beribadah di rumah, kebijakan ini diperkenalkan dengan istilah social distancing. Namun tampaknya banyak masyarakat yang belum faham dengan himbauan tersebut, karena kenyataannya, masih banyak masyarakat yang beraktivitas sebagaimana hari- hari biasa, jalan-jalan masih ramai, tempat- tempat perbelanjaan, bahkan lokasi wisata masih dikejar, terbukti dengan ramainya kendaraan ke arah puncak, Bogor.

Kalau kita lihat lagi bagaimana virus covid-19 ini menyebar dan menular dengan begitu cepat, mestinya masyarakat faham akan bahayanya, dan berusaha untuk mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi dirinya, keluarganya dan orang-orang yang dicintainya meskipun kita faham bahwa qadha atau ketentuan Allah tidak ada yang bisa menolak, karena ajal setiap orang telah ditentukan waktunya. Tapi setidaknya sebagai muslim yang baik, sudah sepatutnya kita melakukan ikhtiar untuk melakukan pencegahan penyakit dan berdo’a agar tidak terkena penyakit yang mewabah.Apakah sudah cukup dengan ikhtiar dan do’a dari setiap individu atau keluarga yang ada di masyarakat? Tentu tidak, karena apa yang ada di fikiran orang tentu banyak yang berbeda-beda, ada yang care , ada pula yang cuek, entah karena mereka faham atau tidak, atau bahkan tidak tahu harus bersikap bagaimana, akhirnya pasrah saja, dan tidak mempedulikan dampak-dampaknya dan bertindak semaunya sendiri tanpa mempedulikan keselamatan orang lain.

kalau sudah begitu, tentu orang-orang yang sadar diri dan berupaya maksimal untuk kesehatan diri dan keluarganya tadi tidak akan bisa berbuat apa-apa juga terhadap orang-orang di sekelilingnya, apa yang menimpa mereka juga. Hal ini harusnya menjadi perhatian besar bagi pemerintah untuk bertindak tegas dan cekatan, karena penyebaran virus ini sangat cepat sekali, terlebih dengan jumlah penduduk yang cukup tinggi di Indonesia dan resiko-resiko tertularnya virus ini juga bisa dibilang sangat besar, ditambah resiko kematian orang yang positif terkena virus ini cukup besar di Indonesia yang masuk urutan ke dua setelah Italia.

Belajar dari kasus-kasus sebelumnya, di mana negara-negara yang terlebih dahulu terkena virus covid-19 ini, kita bisa mengambil hikmah dari kebijakan masing-masing negara yang berbeda-beda, ada yang cukup cekatan menghadapi penyebaran virus ini, ada pula yang lambat sehingga korban pun lebih banyak terjadi, di antara negara yang dikatakan cukup berhasil menghadapi virus ini, meskipun tidak 100 % adalah Vietnam, karena pemerintah Vietnam pada saat awal- awal virus ini masuk ke Vietnam, pemerintah langsung melakukan lockdown terhadap warga nya dan setiap orang mendapat penjagaan yang ketat, baik di tempat umum maupun di rumahnya masing-masing, tidak diperbolehkan setiap orang bebas berkeliaran di jalan-jalan dan pelayanan pemeriksaan warganya dilakukan dengan sigap, sehingga bisa cepat terdeteksi orang-orang yang terjangkit virus Corona ini.sehingga penyebaran nya pun dapat ditekan, bahkan 100% bisa sembuh. Beda halnya dengan Italia, atau Iran , tampaknya dua negara ini menyikapi dengan lambat terkait virus Corona ini, bahkan terkesan meremehkan, dan ternyata ketika virus ini kian merebak, mereka benar-benar kewalahan dengan semakin bertambahnya korban.

Setidaknya dari pengalaman-pengalaman sebelumnya bagaimana negara- negara yang terdampak virus covid-19 ini, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa tindakan untuk melakukan lockdown itu sangat penting dan segera dilakukan untuk menekan penyebaran wabah penyakit terkait virus Corona ini.

Apa sih sebenarnya lock down itu? Lockdown adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah penyebaran virus dengan cara melakukan karantina warga masyarakat atau suatu wilayah agar tetap tinggal di rumahnya masingmasing, tidak boleh keluar rumah dan bebas berkeliaran di jalan-jalan, dengan penjagaan yang ketat tetapi segala kebutuhan masyarakat sehari-hari disediakan oleh pemerintah, minimal selama 14 hari dengan asumsi masa inkubasi virus ini adalah 14 hari, jadi diharapkan orang-orang yang sekiranya suspect virus ini tidak menyebarkan ke orang lain, dan bisa segera diatasi dan terdeteksi siapa saja yang sudah positif untuk segera dilakukan isolasi dan pengobatan.

Dalam Islam juga telah ditentukan bagaimana mengatasi ketika terjadi wabah penyakit, di antaranya adalah melakukan isolasi terhadap wilayah yang terkena wabah penyakit atau istilahnya sekarang adalah lock down. Nabi (ṣallāllāhu ‘alayh wa sallam) bersabda, إذا سمعتم بالطاعون بأرض فلا تدخلوها وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا منها

“Jika kau mendengar tentang wabah (thā’ūn) di suatu daerah maka jangan mendatangi daerah itu. Namun jika wabah tersebut menimpa daerah tempat tinggalmu maka janganlah keluar darinya.” [HR al-Bukhārĩ dalam Ṣaḥīḥ-nya no. 5396, dan Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya no. 2218.]

Yang dimaksud dengan thā’ūn sebagaimana dijelaskan oleh penulis ‘Awn al-Ma’būd dan ulama lainnya adalah wabah yang menyebabkan kematian yang luas.

Imam al-Bukhārĩ meriwayatkan bahwa ‘Āisyah RA pernah bertanya kepada Nabi tentang thā’ūn, maka beliau menjawab, “Ia adalah azab Allāh yang dikenakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, namun juga menjadi rahmat bagi kaum mukmin. Tidaklah seorang hamba berada di suatu negeri yang terserang thā’ūn, namun ia tetap menetap di dalamnya, tidak keluar, bersabar dan mengharapkan pahala, serta ia meyakini bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan baginya, maka ia mendapatkan pahala syahid.” [HR al-Bukhārĩ dalam Ṣaḥīḥ-nya no. 6245.]
Dalam riwayat lain, Nabi bersabda, الطاعون شهادة لكل مسلم
“(Wafat karena) thā’ūn merupakan mati syahid bagi tiap muslim.” [HR al-Bukhārĩ dalam Ṣaḥīḥ-nya no. 2675, dan Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya no. 1916, dari Anas RA.] Dalam riwayat lain dari Abū Hurayrah RA, Nabi bersabda, الشهداء خمسة المطعون والمبطون والغرق وصاحب الهدم والشهيد في سبيل ا عز وجل
“Orang yang mati syahid itu ada lima kalangan, yaitu mereka yang wafat karena: (1) thā’ūn, (2) sakit perut, (3) tenggelam, (4) tertimpa reruntuhan dan (5) berperang di jalan Allah.” [HR al-Bukhārĩ dalam Ṣaḥīḥ-nya no. 624, dan
Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya no. 1914.]
Demikian lah mudah-mudahan menjadi pengingat diri dan menambah wawasan, serta menambah semangat kita untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Semoga dengan tawakkal kita semua bisa terhindar dari segala penyakit, termasuk virus Corona ini. Wallaahu a’lam bis showwaab.

Penulis adalah guru SMKN1 Anjatan.
Tinggal di Indramayu, Alhamdulillah pihak sekolah tempat penulis mengajar sudah sigap dalam kondisi saat ini di antaranya dengan membuat media pembelajaran online ketika siswa diinstruksikan belajar di rumah, di antaranya:
link
Belajar Di Rumah Dengan System Online | 1 | Pengenalan Virus https://youtu.be/JOEm6nBqu-c
Belajar Di Rumah Dengan System Online | 2 | Pengenalan Virus Corona https://youtu.be/2U176UGjzUk
Belajar Di Rumah Dengan System Online | 3 | Mitigasi Bencana Virus Corona https://youtu.be/Awglq-mHsMc
Belajar Di Rumah Dengan System Online | 4 | Cara Hidup Sehat https://youtu.be/FmkcZnRt0kM
Belajar Di Rumah Dengan System Online | 5 | Bersosialisasi Di Masyarakat https://youtu.be/ROi5lupJ1D0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *