Link and Match Vokasi dan Industri, Bukti Bobroknya Pendidikan Kapitalisme

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Ummu Sayyidah

Sejak diluncurkan tahun 2017, program pendidikan vokasi link and match SMK dan industri diproyeksi telah menggandeng lebih dari 400.000 siswa-siswi SMK mulai wilayah Jawa, Sumatera hingga Sulawesi dengan rata-rata 200 siswa per SMK, hingga kini Kementerian Perindustrian menargetkan sebanyak 2.600 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan 750 industri yang akan terlibat dalam program pendidikan vokasi link and match pada tahun 2019 dan hingga tahap kesepuluh peluncuran program ini, jumlah yang terlibat telah melampaui target dengan mencapai 2.612 SMK dan 899 industri. Selanjutnya kita mengenal program ini tidak hanya swbatas agar terjaring link namun benar-benar harus menikah antara vokasi, smk, dengan industri.

Link and match antara sekolah vokasi dengan industri merupakan program yang menyedot dana yang cukup besar meski sekilas tujuan dari adanya ‘pernikahan’ ini terlihat banyak memberi keuntungan seperti mudahnya menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran, namun perlu dicermati bahwa ada bahaya yang sangat besar dari program ini, diantaranya perlu penyesuain kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri.

Penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri tentu saja dapat mengubah arah dan tujuan pendidikan. Dimana pendidikan adalah lembaga untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran dalam memahami arti hidup dan makna hidup yang sebenarnya sehingga tiapnorang mampu memahami arti kehidupan dengan benar, arti hakikat mengapa Allah menciptakan manusia dan tujuan manusia setelah hidup di dunia ini.

Namun dengan adanya program link and match ini, maka orientasi pendidikan akan disesuaikan dengan kepentingan industri yang sarat dengan prinsip kapitalisme. Kenyataannya industri kali ini adalah bentuk korporasi bisnis kapitalis dengan prinsip menggunakan biaya serendah-rendahnya untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya meski harus mengorbankan keselamatan jiwa manusia dan lingkungan sekalipun.

Alih-alih akan mempermudah mendapat pekerjaan justru adanya program ini disinyalir dapat memfasilitasi perbudakan modern era R.I.4.0 yang kini dikhawatirkan oleh banyak pihak termasuk dunia.

Pendidikan vokasi dalam perspektif Islam merupakan bagian dari sistem pendidikan Islam yang berlandaskan pada puncak kebenaran yakni akidah Islam, dengan landasan ini maka output yang nantinya dihasilkan adalah output yang tidak hanya ada dalam atmosfer kebenaran namun disertai kemampuan dan keahlian terapan yang sesuai dengan kebutuhan Islam dan kaum muslimin.

Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan seluruh kaum muslim, termasuk dalam mempelajari keahlian terapan, oleh karenanya untuk bisa bersekolah di sekolah vokasi pun akan sangat mudah karena gratis jika harus berbayar pun tidak akan mahal dan tetap terjangkau, berbeda dengan sekarang kita dapati, untuk bersekolah di sekolah vokasi harus merogoh kocek lebih dalam.

Dalam pendidikan Islam dilarang keras adanya link and match yang akan membahayakan fungsi pendidikan itu sendiri. Pendidikan vokasi dalam Islam ini salah satu bagian yang sangat penting untuk memuliakan Islam dimata dunia dengan berbagai keahlian terapan yang dipelajari, niscaya akan membawa pada masa kejayaan Islam dimasa datang.

Link and match yang kini dilakukan antara vokasi dan industri merupakan bentuk pemaksaan yang demi menguntungkan para kapital tanpa memikirkan kemurnian dari pendidikan itu sendiri yang tujuannya sangat mulia. Lagi-lagi ini adalah bukti bobroknya sistem pendidikan kapitalisme yang senantiasa mengedepankan kepentingan para pemilik modal semata.

Allahua’lam

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.