Lembaga Pendidikan, “Pabrik Buruh” Intelektual

Oleh : Lia Aliana (Aktivis Muslimah)

Lembaga Pendidikan sebagai pencetak kaum intelektual tempat dimana seseorang dibina dan diberi bekal pengetahuan, kini mengalami pergeseran bahkan penurunan fungsi. Pendidikan sejatinya adalah menciptakan tenaga ahli, ilmuan, cendekianwan, yang memberikan sumbangsih untuk kemaslahatan bangsa. Namun sistem kapitalis telah merubahnya menjadi sarana bisnis untuk kepentingan industri.

Hal ini sejalan dengan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang meluncurkan program “Pernikahan Masal” (Link and Mach) dan Kampus Merdeka. Sasarannya adalah antara pendidikan vokasi dengan industri, dunia kerja (DUDI). Tujuannya agar lembaga pendidikan menghasilkan lulusan siap kerja, menopang serta menjadi ujung tombak roda perekonomian industi yang kini melemah.

Dilansir dari lensaindonesia.com, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mendorong upaya membangun “perjodohan” atau kerjasama antara perguruan tinggi atau kampus dengan industri. Dia menjelaskan, bahwa Kemendikbud telah menjalankan program Kampus Merdeka. Salah satunya untuk menghasilkan mahasiswa yang unggul dan bisa menjadi pendisrupsi revolusi industry 4.0.

Jika dicermati program tersebut seolah keluar dari arah kebijakan yang sudah ditetapkan. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 menjelaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sayangnya tujuan pendidikan saat ini sudah berorientasi industri dan miskin visi. Tak jauh berbeda, lembaga pendidikanpun diharapkan mampu menjadi “Pabrik Buruh” demi keberlangsungan industri (kapitalis). Dikutip dari Merdeka.com, “Essensi daripada program ini sebenarnya yang paling diuntungkan ya mereka, adalah industri tentunya,” ucap Nadiem dalam sesi diskusi daring bersama Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud, Wikam Sakarinto pada Sabtu (27/6).

Tak dipungkiri, program ini membawa angin segar, seakan menjadi solusi seiring merosotnya perekonomian rakyat. Ditambah dengan konsep pendidikan di tengah masyarakat, mengharuskan untuk bekerja setelah melewati jenjang pendidikan. Gaji, penghasilan, jabatan yang diharapkan dari proses pendidikan.

Disisi lain kehadiran negara semakin mempertegas bahwa masalah pendidikan cenderung diserahkan pada mekanisme pasar. Bukannya mempersiapkan putera puteri terbaik bangsa untuk mengelola sumber daya alam yang melimpah, justru pemerintah menjadi pendukung, regulator dan katalis dari program tersebut.

Inilah buah dari penerapan sistem kapitalis-liberal segalanya diukur dari asas manfaat, bahkan kebijakan yang sifatnya untuk kepentingan umum harus dihitung untung ruginya. Maka tak heran, jika pemerintah begitu serius dalam mendukung serta memfasilitasi tumbuhnya lembaga pendidikan vokasi demi mendorong investasi, industrialisasi.

Investasi, industri, memulihkan ekonomi, hanyalah basa basi politik. Faktanya semua itu dilakukan dalam upayanya menancapkan hegemoni kapitalisme. Seluruh aspek pemerintahan termasuk dalam hal ini adalah pendidikan menjadi bagian pengokoh dan penopang kaum kapitalis yang tampil dalam wujud koorporasi.

Sehingga wajah lembaga pendidikan pun tak ubahnya seperti “pabrik buruh” menciptakan intelektual yang siap dipasarkan, tunduk pada kaum elit dan berujung menjadi budak penghamba kapitalisme.

Hal berbeda justru ditampakkan oleh sistem Islam. Terbukti dimasa kegemilangannya telah melahirkan ilmuan handal. Mampu menjawab tantangan zaman, sains dan teknologi. Sebut saja Al-Khawarijmi, penemu angka “nol”, Ibnu Sina dokter pertama dunia, Ibnu Abbas Al-firnas peletak dasar konsep pesawat terbang. Ditangan merekalah iptek berkembang pesat hingga saat ini menjadi rujukan ilmuan di abad modern.

Aqidah Islam adalah kunci keberhasilannya. Ridha Allah itulah motivasi tertingginya, karena sesungguhnya ilmu dibangun diatas iman, menuntutnya merupakan sarana untuk menambah ketaatan. Visi yang diembanpun begitu mulia tak sebatas pada meraup materi semata tapi keberkahan dan berfaidah. Prinsipnya sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat kepada orang lain.

Pendidikan dalam islam, outputnya tidak hanya sebatas akademis yang minim moralitas tapi melahirkan generasi tangguh, mental pejuang, berjiwa pemimpin, memiliki daya pikir yang kuat sehingga mampu menjadi agen perubahan di tengah umat.

Itu semua bisa terjadi bukan semata karena kecerdasan intelektual melainkan disebabkan oleh penerapan Islam yang sempurna disegala aspek kehidupan dalam tatanan negara.

Allah swt berfirman : jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pasti akan kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (Qs. Al-A’raf : 96).

Wallahu a’lam bish shawab

Refrensi :
https://www.lensaindonesia.com/2020/07/04/strategi-pemerintah-fasilitasi-perjodohan-kampus-dengan-industri.html/amp
https://theworldnews.net/id-news/mimpi-mendikbud-nadiem-lihat-orangtua-berlomba-lomba-daftarkan-anaknya-ke-smk
dikti3.ristekdikti.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *