Kurikulum Moderasi,Tersesatkah Kurikulum +62?

Oleh : Riatun Hasanah

Moderasi beragama harus menjadi bagian dari kurikulum dan bacaan di sekolah. Heeemm apa itu Moderasi? Moderasi memiliki 2 arti. Moderasi adalah sebuah homonim karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Moderasi memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga moderasi dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan. Trus apa itu moderasi beragama? Bedanya apa dengan moderasi? Jika perhatikan niiih muslimah makna dari moderasi dengan moderasi beragama yang di gembar gemborkan oleh Kementrian Agama Fahru Razi ternyata memiliki makna yang berbeda.

Akhir-akhir ini Kemeterian Agama aktif mempromosikan pengarus utamaan moderasi beragama. Moderasi beragama adalah cara pandang kita dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.Menurut Menag, moderasi beragama diimplementasikan dalam sejumlah program strategis, antara lain review 155 buku pendidikan agama, pendirian Rumah Moderasi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), dan penguatan bimbingan perkawinan.

Kementrian Agama juga menegaskan bahwa “Moderasi beragama harus menjadi bagian dari kurikulum dan bacaan di sekolah. Kami telah melakukan review 155 buku pelajaran, muatan tentang pemahaman keagamaan yang inklusif diperkuat,” kata Menag seperti dikutip dari laman resmi Kemenag” tegasnya. Sebagai tindak lanjut KMA 183 tahun 2019, nantinya madrasah akan menggunakan buku yang sebelumnya telah dinilai Tim Penilai Puslibang Lektur dan Khazanah Keagamaan. Sebanyak 155 buku telah disiapkan, termasuk untuk PAI, akan menjadi instrumen kemajuan serta mempererat kehidupan berbangsa dan bernegara. Materi sejarah khilafah, jihad, dan moderasi beragama dalam buku ini disajikan secara integratif, sehingga siswa MI, MTs hingga Madrasah Aliyah atau MA dapat memperoleh literasi yang luas atas keserasian tiga materi itu dalam perkembangan peradaban Islam,” kata Umar pada (15/12/2019) lalu.

Materi khilafah dan jihad yang dulunya menekankan pada aspek fikih akan lebih pada kajian sejarah. Bagaimana mungkin materi yang wajib dipelajari di dalam islam diganti hanya menjadi pengetahuan sejarah semata. Ini sangat menyesatkan, terlebih lagi pada pendidikan yang memang sejatinya akan menjadi doktrin yang melekat pada pengetahuan setiap anak didik.

Fachrul Razi menjelaskan ratusan judul buku yang direvisi berasal dari lima mata pelajaran, yakni Akidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, Alquran dan Hadis, serta Bahasa Arab.

Dalam buku agama Islam hasil revisi itu masih terdapat materi soal khilafah dan nasionalisme. Meski demikian, buku itu akan memberi penjelasan bahwa khilafah tak lagi relevan di Indonesia”. Ini jelas penyesatan yang keliru pada ajaran islam tentang ajaran khilafah. Bahkan ini akan mulai diterapkan pada tahun pelajaran 2020/2021, pembelajaran di MI, MTs, dan MA akan menggunakan kurikulum baru untuk Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab. KMA 183 tahun 2019 ini akan menggantikan KMA 165 tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah,” kata Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag Ahmad Umar dalam rilis yang diterima detikcom pada Sabtu (11/7/2020)

Heeemm apa yang salah dngan rancangan Kementrian Agama (Kemenag) tersebu? Sekilas memang tidak ada yang keliru, tetapi jika kita mau menelaah lebih dalam lagi ternyata ini akan memiliki implikasi yang sangat berbahaya bagi pengetahuan para peserta didik dengan materi pembelajaran khilafah dan jihad. Di sini pemerintah berusaha untuk menempatkan ajaran islam tentang khilafah dan jihad hanyalah histori sejarah belaka tanpa ada kewajiban setiap kaum muslim didalamnya untuk melaksanakannya bahkan memperjuangkannya.Jelas sekali ajaran ini bukan berasal dari ajaran islam yang bahkan ini sangat jelas ingin meniadakan ajaran islam yang mampu menggeser kepentingan- kepentingan diri mereka. Sistem yang mengemban kepetingan-kepentingan belaka ini tidak lain adalah sistem kapitalisme. Sistem ini bahkan memisahkan peran Tuhan dari kehidupan.

Jika kurikulum saat ini memang tidak sesuai dengan islam terus kurikulum islam itu seperti apa siiih muslimah?

Heeeemm itu pertanyaan yang bagus muslimah, di dalam islam Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk shalat, puasa, zakat dan haji. Tetapi islam itu sangat sempurna dengan segala kesempurnaanya karena diturunkan dari Zat yang Maha Sempurna yaitu Allah SWT. Kita sudah diberikan contoh oleh Rasulullah SAW dari bangun tidur sampai bangun negara lhooo. Dan memberikan pendidikan serta bagaimana penerapannya pun tentu Rasulullah SAW sudah mencontohkan itu.

Kegemilangan yang paling jelas terukir adalah ketika Dalam bidang pendidikan, khilafah Islam sangat memperhatikan agar rakyatnya cerdas. Anak-anak dari semua kelas sosial. Pendidikan dasar yang terjangkau semua orang. Negaralah membayar para gurunya. Selain 80 sekolah umum Cordoba yang didirikan Khalifah Al-Hakam II pada 965 M, masih ada 27 sekolah khusus anak-anak miskin. Di Kairo, Al-Mansur Qalawun mendirikan sekolah anak yatim. Dia juga menganggarkan setiap hari ransum makanan yang cukup serta satu baju stel untuk musim dingin dan satu baju stel untuk musim panas (mediaummat.news).

Tidak hanya gemilang dalam mefasilitasi masyarakatnya, sistem pendidikan yang ditegakkan berdasarkan kurikulum pendidikan islam ini tentu juga sangat berbeda dengan kurikulum- kurikulum lain yang d hasilkan dari ideologi sekularisme-kapitalisme atau sosialisme-komunisme yang berkeinginan hanya mewujudkan struktur masyarakat sekuler-kapitalis atau sosialis-komunis. Sebaliknya, sistem pendidikan yang berbasiskan ideologi Islam sangat mengedepankan pembetukan karakter yang islami untuk membangun struktur masyarakat Islam, yang tentu saja akan berbeda dengan dua sistem ideologi di atas.

Khilafiah adalah ajaran islam yang harus di tegakkan untuk menjamin semua kebutuhan masyarakat terpenuhi dari segala lini kehidupan. Tapi bagaimana itu bisa terwujud jika ajaran islam yang menjadi solusi itu dihilangkan perannya dalam kehidupan dan hanya diingat sebagai sejarah semata.
Allahua’lam..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *