Kurikulum Darurat Gagal, Mengunci ‘Learning Loss’ Generasi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Watini Alfadiyah, S.Pd. (Praktisi Pendidikan)

 

Permasalahan generasi belum tersolusi dengan adanya kurikulum yang ada saat ini. Terlebih dimasa pandemi kini kurikulumpun ditinjau kembali. Masa pandemi yang panjang dan tidak jelas ujungnya tidak bisa disikapi dengan cara menunggu. Kementerian Agama (Kemenag) merespons masalah ini dengan menerbitkan Kurikulum Darurat .

 

Kurikulim yang sifatnya sementara dan berlaku pada masa pandemi Covid-19 ini lebih menekankan pada pengembangan karakter, akhlak mulia, ubudiyah dan kemandirian siswa. (Minggu/07/02/2021/sindonews.com)

 

Kini, pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat pandemi Covid-19 telah berlangsung selama 10 bulan. Tak hanya menimbulkan tantangan bagi siswa, guru maupun orangtua, salah satu efek PJJ berkepanjangan ialah learning loss atau berkurangnya pengetahuan dan keterampilan secara akademis.

Potensi learning loss, melansir laman Kemendikbud, Minggu (31/1/2021), bisa terjadi karena berkurangnya intensitas interaksi guru dan siswa saat proses pembelajaran.

 

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Rachmadi Widdiharto mengatakan, Kemendikbud memahami kekhawatiran learning loss tersebut di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai. (Minggu/31/01/2021/Kompas.com)

 

Solusi telah dicari, namun tak bisa mengunci permasalahan yang sedang dihadapi. Dimasa pandemi, kini kurikulum Darurat dari Kemenag dan Kemendikbud telah terbukti tidak efektif untuk memandu dalam rangka mencapai tujuan pendidikan dimasa darurat saat ini.    Bagaimana tidak karena masalah-masalah pembelajaran selama pandemi terus terjadi dan semakin berat untuk dirasa oleh generasi. Bahkan, orang tua dan guru selaku pendidikpun ikut menanggung beban langsung dari penerapan kurikulum pendidikan yang ada. Disisi lain, sekulerisme ternyata masih tetap menjadi pijakan akan lahirnya kurikulum darurat tersebut.

 

Dengan demikian, jelas sudah bahwa learning loss generasi telah gagal disolusi dengan adanya kurikulum sekuler. Dimana keberadaan kurikulum Agama sekedar menekankan aspek peningkatan Ubudiyah dan kurikulum Kemendikbud menekankan pada penyiapan manusia kapitalistik.

 

Lain halnya dengan sistem Islam, dimana keberadaan negara

menyadari akan tanggung jawabnya dalam urusan pendidikan generasi warga negaranya. Sebagaimana

Rasulullah Saw. bersabda:

 

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

 

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

 

Adapun tujuan utama pendidikan  yakni menetapkan politik pendidikan yang bisa membangun kepribadian islami (aqliyah dan nafsiyah) yang kuat.

Negara dalam sistem Islam akan mengembangkan kurikulum dalam bentuk yang bisa mengembangkan metode pemikiran, pemikiran analitis dan keinginan pada pengetahuan untuk meraih pahala dan keridlaan Allah Swt.

 

Kurikulum dalam sistem Islam dibangun berlandaskan akidah Islam, sehingga setiap pelajaran dan metodologinya disusun selaras dengan asas Islam.

Negara memberlakukan kurikulum yang seragam dan serentak di semua jenjang pendidikan, sehingga tidak ada satu pun institusi pendidikan yang menerapkan kurikulum  bertentangan dengan kurikulum negara.

Kurikulum dalam sistem pendidikan Islam disusun bersumber dari  syariat-Nya. Syariat yang berkaitan dengan pendidikan formal terpancar dari akidah Islam dan mempunyai dalil-dalil syar’i, semisal  pemisahan antara murid laki-laki dan perempuan.

 

Sedangkan berbagai peraturan administrasi di bidang pendidikan, merupakan sarana dan cara yang diperbolehkan (hukumnya mubah) yang dipandang efektif oleh penguasa dalam menjalankan sistem pendidikan dan merealisasikan tujuan pendidikan.

Karenanya, kurikulum dalam sistem pendidikan Islam tidak mudah berganti-ganti karena telah digali dari proses berpikir yang cemerlang, yang bersumber dari akidah dan hukum syariat, bukan karena pesanan pihak mana pun. Bahkan adanya kurikulum tersebut tidak boleh dikendalikan oleh pihak asing dalam penerapannya.

 

Sebagaimana Allah Swt. berfirman :

 

… ۗ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

 

Artinya : “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman”. (QS Al-Nisâ’ [4]: 141)

 

Jadi, secara struktural, kurikulum pendidikan Islam dijabarkan dalam tiga komponen materi pendidikan utama, yang sekaligus menjadi karakteristiknya, yaitu: (1) pembentukan kepribadian islami); (2) penguasaan tsaqâfah Islam; (3) penguasaan ilmu kehidupan (iptek, keahlian, dan keterampilan).

 

Dengan kita memahami garis besar sistem pendidikan Islam maka akan kita dapati  seluruh aspek pendidikan. Demikian pula, jika kita membahasnya lebih detail mulai dari sistem dan strateginya yang sangat sesuai dengan aturan syariat, niscaya tidak dapat diragukan lagi kredibilitasnya.

 

Maka, satu-satunya harapan kita dalam mencari solusi pendidikan hari ini adalah pada sistem yang sempurna, yang diciptakan oleh dzat yang Maha segalanya.

Sudah tidak diragukan lagi bahwa sistem pendidikan dalam bingkai sistem Khilafah Islamiyah adalah sistem pendidikan yang sempurna, sistematis, integral, dan menjangkau seluruh aspek kehidupan. Lantas, masihkah kita ragu menjadikan kurikulum sistem pendidikan Islam sebagai pengunci ‘learning loss’ generasi? Wallahu’alam bi-ashowab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.