Korban Begal Jadi Tersangka, Kok Bisa?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh Mardiani

 

Belakangan ini telinga kita sudah begitu familiar ketika mendengar tindak kriminal seperti kekerasan seksual, pembunuhan, pencurian, dan kejahatan lainnya. Beberapa hari yang lalu kita dikagetkan dengan kasus percobaan pencurian yang di lakukan oleh sekelompok pelaku begal, namun ironisnya lagi korban tersebut di tetapkan sebagai tersangka.

Kasus kejahatan seperti ini, terjadi tak hanya satu dua kali saja, tetapi sudah berulangkali, nampaknya kejahatan yang sudah begitu merajalela di negara ini belum juga bisa membuka mata kita lebar-lebar mengapa kriminalitas semakin tahun semakin meningkat.

Seperti peristiwa yang di alami oleh seorang pria yang berinisial AS ini. Sudah jatuh tertimpa tangga pula kasihan. Begitulah nasib yang dialami M alias AS (34), seorang pria di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sekarang di tetapkan sebagai tersangka. AS yang menjadi korban percobaan pencurian kini justru harus meringkuk di dalam penjara gegara ia melakukan perlawanan untuk membela dirinya terhadap empat orang pria yang berusaha membegalnya.

AS ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan setelah dua orang pelaku begal itu diketahui tewas di tangannya. Namun ironisnya, dua pelaku begal lainnya yang berhasil melarikan diri saat melihat dua kawannya sudah tersungkur, kini justru menjadi saksi atas kasus pembunuhan di lakukan AS tersebut.

Ke empat pelaku itu masing-masing berinisial OWP, P ,W, dan H. “Peristiwa itu berawal saat korban percobaan pencurian M alias AS pria asal Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, akan melakukan perjalanan menuju ke Lombok Timur. Ketika sudah tiba di TKP, AS kemudian langsung dihadang oleh ke empat orang pelaku begal yaitu P dan OWP, bersama dua rekannya yaitu W dan H, lalu mereka pun segera melakukan aksinya dengan berusaha mengambil paksa sepeda motor milik AS tersebut, sebagaimana yang diungkap oleh Wakapolres Lombok Tengah Kompol Ketut Tamiana.

Ketika keempat pelaku akan mengambil sepeda motor miliknya, AS pun tak hanya tinggal diam. Ia juga berusaha membela diri dengan melakukan perlawanan kepada ke empat pelaku begal dengan senjata tajam yang dibawanya. Lalu pelaku begal, P dan OW yang juga membawa senjata tajam itupun tewas di tangan AS setelah terjadi perkelahian tersebut, akibat luka tusuk yang di alami bagian dada dan punggung ,
“Sedangkan kedua pelaku begal lainnya yaitu W dan H berhasil melarikan diri ketika melihat dua temannya sudah tersungkur.”
Jelas Tamiana. (DetikBali.com, 13/4/2022)

Kini AS seorang korban tersebut telah di tetapkan menjadi tersangka, bukankah korban harusnya di lindungi di berikan rasa aman?
Ke mana peran polisi sesungguhnya yang katanya sebagai pengayom masyarakat, melindungi,dan melayani serta melakukan penegakan hukum di masyarakat dengan adil? tapi kini fakta yang ada justru berbanding terbalik dengan apa yang di rasakan oleh masyarakat . Ketika pihak kepolisian yang menangani kasus ini menyatakan bahwa di larang membunuh di negara kita, karena dilindungi oleh hukum. Yah memang benar, membunuh tidaklah di benarkan sebab di dalam Islam sendiri juga sangat menghargai nyawa seorang muslim, tetapi dalam peristiwa ini pihak kepolisian tidak menempatkan kasus ini sebagaimana harusnya. Ketika video pernyataan dari pihak kepolisian itu viral di sosial media, banyak masyarakat yang merasa aneh dan bertanya-tanya dengan keputusan tersebut. Mengapa korban yang berusaha membela dirinya itu di tetapkan sebagai tersangka? Salahkah jika kita membela diri dari tindak kejahatan? Setiap orang pasti berfikir untuk membela diri ketika dalam situasi seperti itu, banyak masyarakat yang merasa keberatan dari pernyataan tersebut, ini berarti jika kita mengalami hal demikian kita tidak boleh membela diri, kita berarti harus rela kehilangan harta bahkan nyawa menjadi taruhannya.
Pernyataan dari pihak kepolisian ini membuat masyarakat kecewa dan merasa begitu tidak adil dengan hukum yang berlaku. Masyarakat merasa telah kehilangan pelindung di negara ini, tidak ada lagi rasa aman yang ada hanyalah rasa takut. Membela diri di penjara dan jika tidak membela diri dari kejahatan harus rela kehilangan harta dan nyawa.

Jika dianalisis lebih dalam, mengapa hal seperti ini bisa terjadi, yakni karena negara ini menganut sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme membuat setiap individu berlomba mencari harta atau untung sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan, apakah cara yang ditempuhnya halal atau haram, baik atau buruk. Adapun dari management sanksi yang diberikan kepada pelaku tindak kejahatan hanya hukuman penjara saja, sehingga pelaku kejahatan pun tidak memiliki rasa jera dalam melakukan aksinya dan tidak bisa memberikan rasa takut bagi oranglain. Alhasil, kejahatan terus terulang, lagi dan lagi. Ini membuktikan bahwa hukum buatan manusia benar-benar tidak dapat digunakan dalam kehidupan.

Dalam pandangan Islam, membela diri di perbolehkan. sebagaimana Rasulullah juga menganjurkan seseorang saat sedang berhadapan dengan tukang begal atau tukang rampok dan di sekitar kita yang bisa menolong dan tidak ada aparat juga yang bisa menyelamatkan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang yang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang mendatangiku dan ingin merampas hartaku?”

Beliau bersabda, “Jangan kau beri padanya.”

Ia bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku?”

Beliau bersabda, “Bunuhlah dia.”

“Bagaimana jika ia malah membunuhku?”, ia balik bertanya.

“Engkau dicatat syahid”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Bagaimana jika aku yang membunuhnya?”, ia bertanya kembali.

“Ia yang di neraka”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim no. 140).

Jadi, tidak ada cara lain untuk menghentikan ini semua, selain kita harus kembali pada syariat Islam, peraturan yang berlandaskan Al-Qur’an dan sunnah yang tidak ada sedikitpun keraguan di dalamnya.
Caranya bagaimana? Yuk mari mengkaji Islam secara kafah (menyeluruh), jangan setengah-setengah, menemukan sosok guru yang tepat dan berteman dengan orang-orang salih, serta melakukan sesuatu yang membuat Allah Swt. rida dan menjauhi segala apa yang di benci Allah Swt..

Wallahu a’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.