Konflik Minyak Timur Tengah Dan Cara Islam Membangun Hubungan Bilateral Dan Multilateral (Bagian Satu)

Oleh: Abu Mush’ab Al Fatih Bala (Pemerhati Politik Asal NTT)

Pasca kematian Pemimpin Pasukan Al Quds Garda Revolusi Iran Jenderal Qassem Solaimeni tidak terjadi Perang Dunia Ketiga (World War 3) antara AS dan Iran seperti yang dicemaskan banyak pihak. Hubungan negara-negara di Timur Tengah kembali normal.

Nampak bahwa Iran malah berhasil menjalin hubungan dengan banyak negara semisal Indonesia dan Arab Saudi. Hubungan ini tidak memedulikan kemarahan AS dan sangsi ekonominya terhadap Iran. Tentu saja AS mengetahui usaha merapatnya Iran ini ke berbagai negara, dan kelihatan membiarkannya saja.

Serangan AS terhadap Bandara Internasional Baghdad, Irak, yang menewaskan petinggi militer Iran tak lebih dari serangan nyamuk kecil yang perlu sedikit ditepuk. Sebaliknya serangan udara Iran ke dua pangkalan militer AS yang kosong di Irak dianggap AS sebagai seekor lalat yang terbang di atas nasi, cukup dikipas atau diperangkap dengan lem lalat.

Iran tidak memilih opsi militer yang lebih luas kepada AS dalam rangka mengusir tentara militernya di Irak dan seluruh jazirah Arab. Iran lebih memilih langkah damai sebagaimana yang dilansir oleh CNBC Indonesia pada tanggal 17 Januari 2020. Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan ingin menghindari perang dengan AS, setelah kedua negara saling melakukan serangan yang menelan banyak korban pada awal bulan ini.

Ia juga mengatakan Iran masih mungkin untuk mengadakan dialog dengan dunia. “Pemerintah bekerja setiap hari untuk mencegah konfrontasi militer atau perang. Tentu saja, ini sulit. Namun orang-orang memilih kami untuk mengurangi ketegangan dan permusuhan (dengan dunia).” Pidato Rouhani ini disiarkan di telivisi dan dilansir juga oleh kantor berita AFP, Kamis (16/1/2020).

Pernyataan Presiden Iran sangat aneh karena kata “banyak korban” jiwa tidak ditemukan di kedua belah pihak. Korban serangan udara oleh AS terhadap Iran hanya menewaskan beberapa tokoh penting Iran dan sebaliknya serangan balasan dari Iran ke pangkalan militer AS di Irak tidak memakan korban sama sekali seperti yang diakui oleh Trumph lewat siaran persnya.

Sesungguhnya manuver Iran di Timur Tengah berhasil dimanfaatkan (baca: diperalat) untuk menekan Irak bahwa militer Iran sangat kuat. Dan perlu bagi Irak untuk mempertimbangkan keputusan anggota majelisnya yang memutuskan secara tidak terikat meminta AS menarik semua pasukannya dari Irak. Kekhawatiran yang sama juga dirasakan oleh negara-negara teluk lainnya.

Iran yang dicitrakan sebagai negara kuat anti AS berhasil menjadi opini. AS sukses dalam hal ini sehingga membuat negara Eropa ramai-ramai merapat ke Iran membuat kerjasama luar negeri. Lagi-lagi AS mengetahuinya dan membiarkannya saja tanpa memberikan ancaman lebih serius daripada sekedar sangsi ekonomi.

Sangsi terhadap Iran ini sebenarnya sudah berlaku puluhan tahun sebelum Jenderal Soleimani tewas. Nyawa Jenderal Soleimani ternyata tak melebihi harga nilai aset nuklir dan minyak Iran. Iran merasa aman saja walaupun dituduh memiliki kepemilikan senjata nuklir.

Sedangkan Israel merasa aman tidak terganggu dengan Iran. Israel merasa negara teluk tidak akan memperhatikan langkah terorisme Israel di Palestina karena negara-negara Teluk ketakutan dan sibuk menjalin kerja sama dengan Iran.

Konflik Amerika Iran juga tidak mempengaruhi kepentingan minyak Amerika. Karena kenaikan minyak tidak membumbung tinggi, berkisar 1,6 Dollar, tidak seperti perang Teluk AS Irak dulu.

Malah di satu sisi menguntungkan perusahaan minyak AS seperti pengakuan Trader AS Mitch Kahn yang dikutip Kompas.com

Mitch Kahn, seorang trader minyak di New York Mercanthile Exchange (NYMEX) mengaku menyesal terlalu cepat menjual minyak bumi sebelum invasi AS ke Irak pada perang Teluk II pada tahun 2003. Di hari pertama pertempuran, harga minyak di AS melonjak tajam mencapai 10 dollar AS per barel.

Ini artinya kalau dijual setelah invasi Amerika akan melipatgandakan keuntungan dagang karena naiknya harga minyak. Kenaikan harga minyak tidak akan menyulitkan AS. Michael Widmer, seorang pakar komoditas di Bank of America mengatakan AS sudah memiliki cadangan minyak dan gas yang cukup, baik dari ladang minyak sendiri maupun di luar OPEC, sehingga tak lagi terlalu bergantung pada negara-negara Timur Tengah.

Konflik singkat AS Iran kemarin malah menurunkan produksi minyak negara OPEC dan kesempatan bagi AS dan negara Non OPEC lainnya mendongkrak produksi minyaknya.

Kecuali Arab Saudi, Konflik ini malah memberikan keuntungan bagi Arab Saudi untuk menaikkan produksi minyaknya dibandingkan negara-negara OPEC lainnya. Karena pesaingnya Irak sebagai penghasil minyak terbesar ke dua di Timteng (5 juta barrel per tahun) tampaknya akan menyetujui permintaan OPEC untuk menurunkan produksi minyaknya selambat-lambatnya akhir bulan Januari tahun 2020 ini.

Kesempatan emas ini dimanfaatkan AS untuk tetap berdiam diri menduduki ladang minyak Irak dan bagi Kesempatan juga bagi Arab Saudi dan Iran membangun kerjasama ekonomi tanpa keterlibatan Irak. Faktor politik dan ekonomi lebih dominan dari faktor persamaan aliran agama Sunni Syiah.

Bersambung….[]

Bumi Allah SWT, 25 Januari 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *