Koalisi Jumbo Rasa Sambel Bawang

Oleh: M. Azzam Al Fatih (Pemerhati Politik)

Deal sudah, siapa yang berhak menduduki singgasana kekuasaan di negeri ini. Setelah dilantiknya presiden terpilih. meski diwarnai kontroversi sejak pemilihan yang dinilai curang hingga pelantikan banyak cibiran dari rakyat dan netizen. Bahkan diketahui tagar matikan televisi menjadi trending topik, menduduki peringkat pertama.

Berlepas dari kontroversinya, tetaplah dia pemegang kendali kekuasaan saat ini. Dengan rasa kepercayaan yang tinggi seolah tak punya rasa malu. berjalan menuju singgasana bak seorang raja yang bertahun – tahun dan selamanya ingin didudukinya.

Rasa riang dan gembira menyelimuti presiden terpilih beserta para pendukungnya. Berjalan dengan tegaknya, umbar senyum kebahagiaan dan berkelakar seperti orang kejatuhan rezeki yang tak disangka. Rasa sedih dan was – was hilang dalam sekejap.

Itulah calon penguasa kedepan, yang begitu gembira saat menerima jabatan. Padahal menurut Islam jabatan adalah amanah yang berat yang akan dimintai pertanggung jawaban, sehingga sebagian besar menganggap bahwa jabatan adalah musibah.

Saking bahagianya, mereka langsung bergerak cepat, menghubungi beberapa petinggi partai koalisi, para pengusaha, maupun para tokoh pendulang suara untuk negoisasi dan tawar – menawar sesuai kepentingan. Akhirnya terbentuklah sebuah kabinet menteri. Sontak dan sangat mengagetkan khalayak umum, siapa yang dipasang menjadi menteri . Khususnya para penjilat yang selama ini berkoar – koar membela mati – matian Jokowi. Sedih , pilu, kecewa dan seabrek rasa ngelu dalam hatinya. lebih pedihnya memberi jabatan kepada lawan politiknya.

Rakyat pun sama, namun tak begitu. malah sebagian pada nyinyir, pasalnya susunan menteri yang disusun tidak sesuai dengan kapasitasnya. Nyinyiran rakyat tak hanya di media sosial namun di dunia nyata pun nyinyir seolah tidak percaya pada kabinet yang di bentuknya.

Inilah koalisi jumbo rasa sambel bawang, sebuah koalisi yang menampung banyak partai baik pendukung maupun lawan. Begitu banyaknya partai otomatis akan bertambah pula para petinggi partai yang berharap kejatuhan kursi jabatan. Dari sekian banyaknya partai tentu mempunyai kepentingan masing-masing, baik yang merangkul maupun yang di rangkulnya.

Jumbo identik dengan sebuah tempat untuk menampung sesuatu yang lebih banyak sedangkan sambel bawang adalah menu spesial berupa sambel yang terdiri cabe rawet, bawang merah, garam, dan penyedap rasa. Di mana semua tanpa dimasak dan dominasi cabe rawet, hemmmm. Ups…, kok jadi ngomong kuliner yah. Heee.. Gak mengapa, karena memang ada kaitannya.

Koalisi jumbo sambel bawang sebuah koalisi penuh dengan dengan emosi dari setiap individu yang tidak mewakili partai. Mereka akan saling benci, dengki, dan dendam. Sebab di antara koalisi ada sebagian yang hati, kecewa karena tidak di beri jabatan apapun padahal dirinya telah berkorban banyak baik harga diri, aqidah, dan korban materi yang tak terhitung jumlahnya, dengan harapan mendapat jatah kursi menteri. Tapi sayangnya hanya isapan jempol doang, kan kecewa ndroo.

Bangunan koalisi jumbo sambel bawang tidaklah bertahan lama. Pada suatu titik mereka akan saling berbenturan karena kepentingan. Akibat benturan kepentingan Maka akan ada dua kemungkinan.

1. Siapa yang kuat hubungannya Dengan rajanya. Maka dia yang bertahan. Sedang yang lemah otomatis menjadi tumbal akan panasnya koalisi ini.

2. Koalisi akan bubar dikarenakan saking panasnya situasi yang terus dibumbui pedasnya emosi dan kedengkian. Dalam situasi ini, rakyat akan menilai sekaligus memilih jalan terbaik untuk negeri ini.

Di sisi lain, membuminya ide khilafah ditengah-tengah umat yang diemban oleh orang-orang yang ikhlas, menjadi alternatif lain bagi negeri ini. Setelah sekian lama meraka dikecewakan dan tertipu oleh demokrasi.

Mungkinkah bersatunya partai yang bersertui dalam pilpres kemarin, merupakan makar Allah SWT. Untuk memberi pertolongan kepada hamba-NyA yang terus terdzolimi. Akankah pula khilafah yang di janjikan segera tegak, seperti yang diprediksi oleh para ulama. Wallahu’Alam Bhishowwab.

Kita hanya berharap dan berdoa sambil terus berikhtiar sebagai kewajiban seorang muslim. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *