‘Klepon’, Kue Tradisional Mendadak Viral

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Ayla Ghania (Pemerhati Sosial)

Isu ‘klepon tidak islami’ nampaknya adalah isu receh. Receh tapi viral. Nyatanya si klepon ramai dibincangkan di dunia maya. Sempat menjadi trending topik di twitter tanggal 22/7. Komentar netizen bersahutan hingga MUI pun angkat bicara. Tercipta lagu dangdut ‘klepon’ yang dinyanyikan Putri Sagita. Influencer Jovi Adhiguna pun terinspirasi membuat menu baru, Namba Kwaiipon. Perpaduan klepon dan boba.

Klepon Halal

Berawal dari gambar klepon bertuliskan “Kue klepon tidak Islami, Yuk tinggalkan jajanan yang tidak islami dengan cara membeli jajanan islami, aneka kurma tersedia di toko syariah kami. Abu Ikhwan Aziz”. Jika melihat sekilas narasi tersebut, orang akan berfikir ‘hanya demi melariskan dagangan kurma lalu menjatuhkan makanan nusantara’. Yang menjadi tertuduh pertama tentunya muslim karena ada nama yang kearab-araban disana.

Namun, jika diperhatikan dengan seksama, ada sesuatu yang aneh. Kata Islami tidak cocok dilekatkan dengan makanan. Islami dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna bersifat keislaman; akhlak. Dalam Islam, makanan lebih tepat dilekatkan dengan halal atau haram.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an :
“Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu” (TQS Al Baqoroh : 168)

Makanan yang halal menjadi wajib bagi setiap muslim. Halal tidak hanya dilihat dari bahan utama saja, tetapi juga bumbu, bahan pelengkap juga proses pembuatannya. Cara mendapatkan makanan harus dengan jalan yang halal. Makanan yang tidak halal bisa menghalangi terkabul doa kita. Hadits dari Abu Hurairah RA, dia berkata, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya Allah SWT itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang yang beriman sebagaimana Ia memerintahkan kepada para Rasul-Nya dengan firman-Nya, ‘Wahai para Rasul! Makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rezekikan kepada kalian’. Kemudian beliau menyebutkan, ada seseorang yang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu. Dia mengangkatkan tangannya ke langit seraya berkata, ‘Wahai Rabbku’, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan.” (HR Muslim).

Begitu pula dengan makanan yang mengandung najis tidak boleh kita makan. Najis menurut Asy Syafi’iyah adalah ‘sesuatu yang dianggap kotor dan mencegah sahnya sholat tanpa ada hal yang meringankan’. Kaedah hukum najis dan haram disebut para ulama :

“Setiap najis diharamkan untuk dimakan, namun tidak setiap yang haram dimakan itu najis.” (Majmu’atul Fatawa, 21: 16).

Dengan demikian, klepon dengan bahan dasar tepung beras ketan dan gula merah bertabur kelapa parut adalah penganan halal. Selama tidak ditambah bahan makanan lain yang mengandung najis dan haram.

Upaya Adu Domba
Isu klepon akhirnya memancing pelecehan terhadap Islam. Muncul gambar tandingan klepon pakai songkok dan klepon pakai sorban. Komentar pun banyak mengolok-olok “apa harus baca syahadat dulu baru makan kue klepon?”. “Semoga klepon mendapat hidayah”. “Klepon pernah ‘murtad’ jadi onde-onde”. Dan masih banyak lagi olok-olok lainnya.

Pengguna Twitter, Afwan Riyadi @af1_ tanggal 21 Juli menulis “Kalau memang pembuatnya adalah seorang pedagang kurma; meme sangat bodoh. 1. Memangnya pesaing dari Kurma adalah Klepon? Kenapa harus dilawan dgn kasar begini? 2. Kalau jualan, bagaimana kita bisa membeli dagangannya? Gak ada akun/no kontaknya”.

Lanjutnya “Ini meme dibuat ‘orang lain’. Sepertinya tujuannya untuk mengolok-olokkan umat Islam. Membuat seakan-akan orang Islam ini konyol dalam membuat fatwa & gemar merusak image produk dagang orang lain”.

Akun Mayumi Fojimoto melakukan penelusuran nama Abu Ikhwan Aziz di semua medsos. Awalnya tidak ada akun yang bernama Abu Ikhwan Aziz. Setelah 16 jam postingan, muncul dua akun di medsos memakai nama tersebut. Beberapa jam kemudian hilang dan muncul lagi tiga akun Abu Ikhwan Aziz yang mengupload gambar-gambar dagangan.

Akhirnya, ia menyimpulkan bahwa akun Abu Ikhwan Aziz adalah false flag, yaitu operasi dengan bendera palsu. Dia yang membuat isu namun seolah pihak tertentu (muslim) yang membuatnya (ngopibareng.id, 22/7/2020).

Wakil Ketua MPR dari PKS, Hidayat Nur Wahid (HNW) mengatakan isu klepon sebagai upaya adu domba dan pengalihan isu aktual. Mengingat tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba muncul dan langsung viral. HNW menambahkan bahwa sesuatu yang tiba-tiba heboh tanpa ujung pangkal biasanya ada maksud tersembunyi (detik.com, 22/7/2020).

Bahkan ada yang mengkaitkan dengan sejarah masa lalu bahwa ‘klepon’ adalah sandi operasi PKI masa lalu. ‘Klepon” singkatan dari ‘Kelelepno pondok-pondok’ yang berarti ‘tenggelamkan pondok pesantren’. Yel-yel patroli bakar-bakar pesantren dan persekusi ulama tahun 19571965 adalah : “Pondok bobrok”. “Langgar bubar”. “Santri Mati” (portal-islam.id, 25/7/2020)

Islam Perlu Dibela

Bukan kali ini saja, Islam dijadikan bahan candaan, bahan olok-olok. Bahkan muslim sendiri sadar tak sadar ikutan dalam permainan ini. Mulai dari gambar/ video sholat sambil joget-jogetan, sholat sambil teleponan, sholat pakai helm, gambar injak Al-Qur’an sampai upaya pembakaran baliho bergambar Habib Rizieq Shihab.

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab : “Sesungguhnya kami hanya Bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah : “Apakah dengan Allah, ayat-ayat Nya dan Rasul Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maag, karena kamu kafir sesudah beiman …” (TQS. At taubah : 65-66)

Ketika penguasa saat ini kurang peduli atas kasus pelecehan agama, maka kembali kepada diri setiap muslim untuk membela Islam. Sebagian orang menganggap Islam tidak perlu dibela karena Islam adalah agama yang besar. Ada juga yang beralasan demi mencegah konflik horizontal, umat Islam harus bersabar. dan mengalah. Alih-alih menambah kemuliaan Islam, tapi sebaliknya Islam terus dihinakan.

Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan mengokohkan kaki kalian (TQS. Muhammad : 7)

Allah SWT juga berfirman dalam surat Al-Fath : 8-9)
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Supaya kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mendukung beliau, memuliakan beliau…. “ (TQS. Al fath : 8-9)

Masih banyak ayat lain yang memerintahkan kita untuk membela Islam. Pun demikian, saat ini masih banyak muslim yang kurang peduli dengan agamanya. Kondisi ekonomi yang serba sulit akhirnya menyibukkan muslim baik laki-laki maupun perempuan untuk mencari duit. Besok mau makan apa, besok belanja apa. Jangankan urusan membela agama, menuntut ilmu (agama) yang harusnya wajib ‘ain saja menjadi nomor sekian.

Seberapa banyak ilmu kita tentang Islam ternyata berpengaruh terhadap besar kecilnya kepedulian kita terhadap pembelaan Islam. Jika kita belum memahami membela Islam adalah sebuah kewajiban, maka tentu kita akan terus diam. Akhirnya, kita harus adil membagi waktu antara urusan dunia dan akhirat. Jangan sampai kesibukan kita dengan urusan dunia justru mencelakakan kita di hari kemudian. Wallahu a’lam bish showab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.