Kisah Anak Indonesia yang Dipenjara di Suriah Karena Orang Tuanya Ikut ISIS

Jakarta- Suara Inqilabi– Staf Khusus Presiden bidang Hukum Dini Purwono memberi penjelasan soal pernyataan Presiden Joko Widodo yang menggunakan istilah ISIS eks WNI dalam menyebut teroris pelintas batas dan eks anggota kelompok teror ISIS dari Indonesia.

Dini menyebut, Presiden Jokowi menggunakan istilah eks WNI agar konsisten dengan Undang-Undang 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan.

“Soal istilah, Presiden hanya ingin konsisten dengan UU Kewarganegaraan. Bahwa WNI kehilangan kewarganegaraan Indonesianya apabila dia bergabung dengan militer asing tanpa izin Presiden,” kata Dini saat dihubungi, Kamis (13/2/2020), melansir dari Kompas.com.

Selain itu, WNI juga kehilangan kewarganegaraan jika menyatakan keinginan untuk tidak lagi menjadi WNI.

Berbanding terbalik dengan polemik yang ada di tanah air mengenai pemulangan WNI eks ISIS, kisah beberapa bocah Indonesia ini mungkin bisa jadi pelajaran.

Mengutip dari BBC, tiga anak Indonesia ditemukan oleh wargawan BBC di Kamp Al-Hol di Suriah timur laut.

Saat ditemui mereka mengatakan tak tahu harus ke mana dan mungkin untuk sementara akan bertahan di Suriah.

Yusuf, Faruk, dan Nasa adalah tiga orang bocah asal Indonesia yang memiliki nasib yang sama.

Mereka tinggal sebatang kara dan tak miliki keluarga, ketiganya kini menjadi saudara di negara konflik tersebut.

Kisah mereka hampir sama saat dibawa orang tuanya ke negara yang tersebut saat terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Islamic State of Iran and Suriah (ISIS).

Mereka tak tahu apa yang dilakukan oleh kedua orangtuanya saat nekat tinggalkan Indonesia bahkan mereka belum cukup umur untuk mengetahui hal-hal itu.

Diusia mereka yang masih terbilang sangat muda ini mereka harus berjuang untuk bertahan hidup di negara yang entah mereka tak tahu seberapa jauh dari Indonesia.

Ketiganya menceritakan detik-detik mereka kehilangan anggota keluarga dan saling bertemu saat roket berjatuhan di tempat tinggal mereka di Suriah.

Faruk menceritakan detik-detik saat roket berjatuhan di kampung tempat tinggalnya dan keluarga di Suriah.

Di sebuah wilayah yang bernama Baghuz, ia tinggal bersama keluarganya sebelum pasukan anti-ISIS menggempur daerah tersebut.

“Terjadi serangan roket. Saya tak tahu (apa yang harus saya lakukan). Saya berlari … dan setelah itu saya tak pernah melihat lagi keluarga saya,” kata Faruk.

Tak hanya Faruk, kawannya Nasa pun juga masih ingat detik-detik puluhan roket berjatuhan di wilayah tempat tinggalnya.

“Pesawat menjatuhkan bom … orang-orang hilang, lalu saya menemukan Faruk,” kata Nasa.

Tak sampai di situ saja, ada beberapa anak yang dijadikan satu dengan orang dewasa di penjara yang dikuasai oleh otoritas Kurdi di Suriah.

Melihat fenomena yang terjadi dengan bocah-bocah asal Indonesia yang menjadi korban dari orangtua mereka saat ambil bagian dalam pemberontakan ISIS, Presiden Jokowi pun mengambil langkah.

Melansir dari BBC, Presiden Joko Widodo mengatakan ia telah memerintahkan pendataan WNI eks ISIS yang berada di Suriah.

Sementara itu, Menko Polhukam, Mahfud MD mengatakan, anak-anak WNI di bawa umur eks ISIS bisa dipulangkan ke Indonesia dengan beberapa pertimbangan.

Ia menjelaskan tidak akan ada satu kebijakan yang sama, dan setiap kasus akan diperlakukan berbeda. (*) Sosok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *