KHILAFAH: Wis Wayahe

Oleh: Hanif Kristianto (Analis Politik-Media di Pusat Kajian dan Analisis Data)

Sudah banyak pembahasan seputar Khilafah. Dari pembahasan dalil dan argumentatif yang bisa diterima akal, hingga kontra-khilafah. Sudah banyak dipaparkan fakta dan bukti otientik hubungan Khilafah dengan Nusantara. Begitu pun banyak penelitian dan tulisan positif tetang khilafah. Sesungguhnya, kata ‘Khilafah’ selama medio 2019 mendapat perhatian serius semua khalayak.

Orang tak lagi salah sebut kata ‘khilafah’ dengan sebutan khalifah, khilafiyah, dan khofifah. Kefasihan menyebut ‘khilafah’ ini menjadi pertanda sudah masuk ke alam bawah sadar dan mudah diucapkan dengan lisan. Khilafah pun dikaji lembaga negara, kepolisian, militer, akademisi kampus, hingga diskusi jalanan. Tak ayal khilafah menjadi paling fenomenal dalam kajian yang menuntut keseriusan.

Bagaimana dengan kaum milenial, apakah tertarik dengan khilafah? Tak diduga kisaran 19,5% milenial Indonesia ingin khilafah. Angka yang fantastis dengan sambutan yang lebih heroik. Mahasiswa dan aktivis pergerakan kemudian melirik mengkaji serius apa dan bagaimana khilafah. Hal itu dilakukan setelah mereka sibuk mengkaji pemikiran liberal dan sosialisme. Dunia politik pun dihantui istilah khilafah. Lantas, bagaimana sudut pandang politik tiba-tiba istilah ‘khilafah’ menjadi bom waktu yang siap meledak?

Pertama, karena khilafah itu erat kaitannya dengan istilah politik. Apalagi, khilafah kemudian dipolitisir selama kampanye pemilu serentak 2019. Khilafah kian moncer dengan segenap peristiwa pendukungnya. Semisal, tuduhan radikal bagi kalangan oposisi yang diduga terpapar khilafah. Bendera tauhid, dan lainnya.

Kedua, media terlihat kepo dan menguliti perihal khilafah. Hal ini memang sudah waktunya, sebab pembicaraan yang paling hangat saat ini dan ke depan yaitu khilafah. Seolah ada oase baru dari dahaga pemikiran untuk menghadirkan pemikiran yang lebih transformatif dan progresif.

Ketiga, pergerakan Islam—selain HTI—sudah berani mewacanakan khilafah sebagai solusi kehidupan umat Islam. Tampaknya, HTI yang ikonik dengan khilafah telah mampu menyalurkan energi barunya ke elemen pergerakan Islam. Hal ini mengonfirmasi bahwa ide khilafah itu umum milik umat Islam. Bukan dominasi HTI semata.

Keempat, kerinduan mendalam umat Islam akan kembalinya khilafah berdasarkan prediksi akhir zaman. Quran pun menegaskan dan sabda rasulullah pun telah menuturkan akan kembalinya khilafah. Hal yang paling fenomenal ialah penelitian dari National Intelegence Council (NIC) terkait tahun 2020 akan kembalinya kekuatan Islam baru yakni khilafah.

Kelima, demokrasi perlahan menuju liang kuburnya. Hal ini ditandai dengan kemunculan penguasa dzalim dan despotik. Kebijakan dan hukum yang tak berpihak kepada rakyat. Rasa keadilan yang dikebiri. Hak-hak rakyat yang banyak dimanipulasi. Serta, merebaknya perilaku koruptif, memperkaya diri sendiri, ingkar janji yang dipraktikkan politisi demokrasi. Kondisi itulah yang menambah daftar kemarahan rakyat.

Keenam, menguatnya pengaruh global China dan India yang mengakibatkan Amerika Serikat geram. Perubahan geopolitik dan geoekonomi dunia lambat laun menggusur hegemoni kapitalisme global. AS yang selama ini bercokol di wilayah negeri kaum muslimin merasa khawatir tergusur. Belum lagi, meningkatnya kesadaran umat Islam terkait penjajahan yang dilakukan oleh negara kapitalisme dan sosialisme.

Ketujuh, rapuhnya institusi internasional dalam mengatasi persoalan yang menimpa umat Islam. Semisal PBB yang tak mampu menyelesaikan persoalan Palestina, Rohingnya, Uighur, Yaman, dan lainnya. Sementara, penguasa di negeri-negeri kaum muslim seolah lembek dan tak berdaya untuk mengerahkan tenaga menyelesaikan persoalan kaum muslim di negeri lainnya. Alhasil, umat pun mencari jalan sendiri untuk berharap pada institusi persatuan global yakni khilafah untuk menyelesaikan persoalan itu.

Jika ditelaah lebih dalam lagi, 2019 adalah tahun bridging (jembatan) khilafah. Adapun tahun 2020 merupakan fase-fase pembentukan langkah mewujudkan nyata khilafah. Ketika prediksi NIC secara data menguatkan. Kemudian dikuatkan dengan dalil quran dan sunnah. Maka wis wayahe (sudah waktunya) khilafah itu tampak di depan mata. Musuh-musuh Islam memang sudah menyusun seribu langkah untuk menghalang khilafah, namun apa daya tak mampu membendung kenyataan perwujudannya. Mereka bisa saja memprediksi bahwa mendung akan hujan, tapi mereka tak akan mampu menolak air hujan yang turun dari atas awan. Wayahe… Wayahe…. Wayahe….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *