Khilafah Tinggal Selangkah

Oleh Chusnatul Jannah (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Entah angin apa yang membawanya, kata ‘Khilafah’ kembali trending di jagat maya. Karena sudah sampai pada tahap ini, pembahasan tentang Khilafah tak lagi asing di meja-meja diskusi. Meski namanya dimonsterisasi, Khilafah makin terang benderang. Bagai artis pendatang yang sedang naik daun. Khilafah, tak lagi dianggap tabu. Siapapun yang menyebutnya tak lagi canggung. Walau noda hitam diberikan padanya, tak mengurangi kemurniannya sebagai ajaran Islam. Bahkan oleh ulama salaf, ia disebut mahkotanya kewajiban. Kewajibam syariat Islam dalam perkara-perkara muamalah dan uqubat tak bisa terlaksana tanpa institusi (negara) yang menerapkannya. Tidak lain adalah Khilafah.

Ide ini semula diperkenalkan kepada umat oleh Hizbut Tahrir Indonesia. Melihat perkembangan dakwah yang luar biasa, serta ghirah keislaman umat yang makin bergelora, Khilafah semakin mendapat tempat. Meski masih ada pula para pembenci yang tak menghendakinya. Pasca peristiwa 212, semangat umat mengenal lebih jauh tentang Islam makin tak terbendung. Mereka disatukan dalam satu ikatan kuat, yakni akidah dan ukhuwah Islamiyah. Menjadi tanda bahwa persatuan umat bukanlah utopia.

Khilafah adalah ajaran Islam. Itu fakta bukan hoax. Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam dengan satu kepemimpinan tunggal. Khilafah itu sistem, Khalifah itu pelaksana sistem, dan Islam sebagai asas sistem. Bagi yang masih latah menyebut Khilafah adalah ideologi, mungkin mereka kurang mengerti definisi. Definisi memang penting. Itu sebabnya Ibnu Sina pernah berkomentar, “Tanpa definisi, kita tidak akan pernah bisa sampai pada konsep.” Secara terminologis, ideologi adalah pemikiran mendasar yang dibangun diatasnya pemikiran-pemikiran cabang. Adapun menurut, Francis Bacon, seorang filsuf Inggris, mengatakan ideologi adalah sintesis pemikiran mendasar dari suatu konsep hidup.

Jadi, salah besar bila menganggap khilafah adalah ideologi. Jika mau perbandingan, maka paling pas adalah membandingkan Khilafah dengan demokrasi. Ada yang bilang khilafah itu ancaman. Ancaman untuk siapa? Tentu saja ancaman bagi kapitalisme, sekulerisme, liberalisme, dan para pengembannya. Sebab, sejatinya yang mengancam negeri ini adalah ketiga sistem ideologi rusak tersebut, bukan khilafah.

Khilafah itu warisan Islam. Bukan pemikiran baru yang dikarang manusia. Kalaulah khilafah itu terasa asing bagi kita, mungkin belajar Islam kita kurang jauh. Dan memang sengaja dijauhkan oleh musuh-musuh Islam tentang indah dan gemilangnya tinta emas peradaban Islam selama 13 abad memimpin dunia. Tujuannya, mereka ingin membutakan umat dari fakta sejarah Islam. Mereka ingin umat menenggelamkan diri dengan ideologi dan pemikiran yang mereka emban. Karena bila umat mulai bangkit dan tersadar, Islamlah satu-satunya ancaman bagi ideologi mereka.

Benar, khilafah tinggal selangkah. Menuju terwujudnya janji Allah dan bisyaroh nubuwwah. Khilafah tinggal selangkah. Bila umat sudah berkenan, tentu tak ada penghalang ia ditegakkan. Khilafah tinggal selangkah. Semakin dakwah ini ditekan, para pembenci Islam makin kelimpungan. Khilafah tinggal selangkah. Makin dicecar, makin membuat penasaran. Khilafah tinggal selangkah. Makin dihina, tak mengurangi keagungannya. Khilafah memang tinggal selangkah. Saat kezaliman memuncak, disitulah Allah berikan pertolonganNya.

Jadi, jangan terlalu anti Khilafah. Nanti Anda malah suka. Jangan terlalu benci Khilafah, nanti Anda bakal menyesalinya. Menyesal karena dulu menjadi terdepan sebagai pembencinya. Menyesal karena tak ikut memperjuangkannya. Menyesal karena ragu dengan janji Allah dan RasulNya yang tak mungkin berdusta. Ingat, penyesalan itu datangnya belakangan. Segera ambil tempat. Ikut menjadi pejuang atau pecundang. Selangkah lagi Khilafah ala minhajin nubuwwah itu berada di tengah-tengah kita. InsyaAllah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *