Khilafah, Ancaman atau Jaminan?

Oleh : Vikhabie Yolanda Muslim

Hingga saat ini, dunia masih mengalami krisis besar yang dihadapi akibat wabah covid-19 yang mencekik. Hal ini pun secara langsung menyerang dan meruntuhkan berbagai benteng pertahanan yang ada dalam tatanan global. Tak terkecuali sistem kesehatan dan juga ekonomi dunia.

Pandemi yang melanda selama kurang lebih 6 bulan lamanya, secara nyata telah membongkar rapuhnya kondisi sistem kesehatan dunia selama ini.

Covid-19 pun telah memporak-porandakan negara-negara maju maupun berkembang yang ada di dunia karena sistem kesehatan yang tak mumpuni dan memadai. Kebutuhan mendesak fasilitas medis juga meroket sangat tajam hanya dalam hitungan hari, sementara sarana, prasarana hingga tenaganya sangat terbatas, sedangkan vaksin nya hingga saat ini belum juga ditemukan.

Tak hanya sistem kesehatan, sistem ekonomi pun hancur dibuatnya. Banyak kegiatan ekonomi global terputus bahkan terhenti. Covid-19 pun merugikan banyak bisnis kapitalis dan menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaan, Sebuah krisis global yang tak ada satupun negara selamat darinya (cnbcindonesia.com). Ketidakpastian mengenai kapan akan berakhirnya wabah ini sangat mengkhawatirkan semua pihak, yang tentu akan membuat kondisi perekonomian semakin meluncur ke bawah. Fakta ini menambah deretan problematika betapa sistem ekonomi dan kesehatan yg berjalan di berbagai negara telah gagal dalam mengatasi masalah yang diakibatkan oleh makhluk mikroskopis tak kasat mata ini.

Jikalau sistem dunia saat ini tak mampu dalam menghadapi beratnya problematika akibat pandemi, tentu dibutuhkan sebuah jaminan solusi global yang mampu mengatasi semuanya. Maka pada hakikatnya, jalan keluar terbaik bagi masalah wabah saat ini ialah menyadari kebutuhan terhadap sistem alternatif yang tentu komprehensif.

Bagi seorang muslim, solusi sekaligus jaminan satu-satunya yang bukan ilusi ialah dengan kembali pada sistem ilahi yang kebenarannya hakiki. Ialah sistem khilafah yang selama 1300 tahun telah dan pernah menjadi perwujudan nyata berlakunya sistem ilahi. Dan memperjuangkan tegaknya bagi seorang muslim tentunya ialah salah satu jalan untuk menjemput pertolongan Allah, terlebih pada masa pandemi saat ini.

Namun ditengah kaum muslimin yang kini sedang berjuang menyadarkan ummat, justru seruan untuk memahami dan menegakkan kembali sistem khilafah direspon negatif oleh rezim.

Salah satunya seperti pernyataan yang dilontarkan oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Krsitianto yang mengatakan bahwa penyebar paham khilafahisme akan diburu seperti paham marxisme, komunisme, kapitalisme, liberalisme (tribunnews.com). Padahal penyebutan tentang khilafahisme sendiri juga jelas pengucapan yang salah kaprah. Lantas ada kepentingan apa gerangan? Bukankah memperjuangkan sistem yang murni dari ajaran agama terlebih untuk menyelamatkan kepentingan rakyat ialah hak seluruh anak bangsa ?

Maka hal ini ialah salah satu bentuk dari takutnya rezim pada hadirnya kembali sistem Islam ke tengah-tengah rakyat.

Mengapa ? Karena sistem khilafah lah satu-satunya jaminan yang menjadikan rakyat sebagai tuan, dan penguasa sebagai pelayan rakyat. Sregala sumber daya alam yang terkandung di darat dan laut adalah milik rakyat. Yang pengelolaannya diserahkan pada penguasa untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Para pemangk kebijakan tak punya hak untuk menjual kekayaan alam negeri kepada pengusaha swasta, lebih-lebih kepada asing. Seperti yang terjadi saat ini, justru penguasa bermain di belakang rakyat dengan para oligarki kapitalis pemilik kepentingan yang justru merugikan rakyat.

Perampokan ini sumber daya alam merajalela hingga rakyat tak sedikit pun mendapatkan hasilnya. Maka, jangan berharap negeri ini sejahtera jika sistem demokrasi-kapitalis masih bercokol di sini.

Sistem Khilafah yang sedang dianggap ancaman ini justru memiliki sistem yang kuat untuk menopang berbagai sistem secara global. Sistem komprehensif yang memiliki solusi nyata atas problematika rakyat yang tentu saja tak memberi tempat pada para kapitalis lintah darat penghisap asset negeri. Maka wajar, para pendukung kapitalis pun tak akan rela jika sistem Khilafah menaungi negeri.

Akhirnya segala daya dan upaya untuk menyingkirkan semangat memperjuangkan khilafah dari rakyat pun dilakukan, termasuk dengan menciptakan narasi sesat yang mengatakan khilafah adalah ancaman bagi keutuhan NKRI, lalu mengkriminalisasi organisasi ataupun kelompok serta para pengemban dakwahnya.

Kebutuhan umat akan adanya sistem Islam ini mutlak adanya. Yang terbukti mampu menciptakan stabilitas global karena bersumber langsung dari Sang Pembuat Hukum yang tentu memberikan berkah untuk seluruh ciptaan-Nya. ”Dan tidaklah engkau mengharap Al-Qur’an diturunkan kepadamu, melainkan sebagai rahmat dari Rabb-mu.” (QS. Al-Qashash [28]: 86).

Lantas, hal ini jelas menunjukkan bahwa khilafah bukanlah ancaman, melainkan jaminan yang tentu menjadi solusi. Maka, penerapan aturan Islam adalah kebutuhan yang mendesak untuk memutus mata rantai kegagalan sistem yang menyusahkan rakyat saat ini, terlebih yang semakin terpuruk akibat covd-19, agar umat dapat terjamin hidup dalam rasa aman, damai, dan sejahtera dalam segala lini kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *