Khalifah Umar Tak Pernah Berambisi Menjadikan Anaknya Penguasa

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Abu Mush’ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Sungguh heran zaman sekarang semakin banyak orang ingin disamakan dengan Khalifah Umar bin Khattab ra. Padahal karakter mereka jauh dari kepribadian Khalifah. Jauh dari kepribadian yang Islami.

Khalifah Umar mewajibkan dirinya untuk blusukam setiap hari dalam rangka melayani masyarakat. Zaman sekarang, blusukan hanya dilakukan sekali sebelum pemilu.

Demi pencitraan agar terpilih kembali 2 periode banyak penguasa hanya sesekali blusukan. Setelah itu bertahun-tahun kemudian tak pernah lagi blusukan.

Rakyat pun ditinggalkan. Penguasa-penguasa semacam ini hanya tahu marah-marah daripada setiap hari mengontrol pelayanan kepada masyarakat.

Anehnya lagi, dalam sistem sekuler demi memberikan kekuasaan kepada anaknya, para penguasa mencoba menyingkirkan lawan politik keturunannya. Salahsatu strategi politiknya adalah menawarkan kekuasaan atau jabatan kepada mereka yang menjadi pesaingnya.

Apakah semurah itu harga diri para politisi sekuler dalam sistem demokrasi? Apakah semua orang bisa dibayar dengan uang jabatan dan materi?

Menjadi penguasa seperti semuanya mudah asalkan memiliki power atau kekuasaan. Apakah ini ciri pemimpin yang baik? Yang dipilih secara demokratis tetapi menyerahkan kekuasaan kepada keturunannya dengan cara yang tak elegan.

Begitulah konsekuensi hidup dalam politik demokrasi dimana tak ada yang namanya kawan dan lawan abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi.

Rakyat didekati ketika pemilu namun kemudian dicampakkan setelah berkuasa. Inilah ciri khas sistem politik demokrasi yang telah menular secara global.

Lalu mereka meminta untuk disamakan dengan Khalifah Umar? Padahal sistem yang ada di lingkungannya Sang Khalifah adalah sistem Islam dan sistem sekarang sistem sekuler.

Khalifah Umar dan para sahabat Rasulullah SAW yang mulia berkembang dengan baik dalam Sistem Islam. Khalifah Umar tak pernah bernafsu atau berambisi untuk menjadikan putra-putranya Khalifah.

Bagi nya jabatan Khalifah adalah beban bukan tujuan apalagi hasrat politik. Baginya belum tentu bisa lolos dari pengadilan Allah SWT jika gagal mengurus negara. Beliau takut dituntut di akhirat.

Beliau, sang Khalifah, berkata tak usah anakku menjadi Khalifah biar beban ini saya yang tanggung. Selain itu, ada sikap tegas kepada putranya seperti diceritakan dalam Republika.co.id (26/4/20).

Putra Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar pernah berbisnis unta. Abdullah membeli seekor unta yang amat kurus. Lalu Abdullah menggembalakannya di padang rumput di Madinah, tempat unta-unta sedekah milik Baitul Mal dan milik warga merumput.

Pada suatu ketika, Umar bin Khatab pergi untuk menjalankan pemeriksaan, sebagaimana diceritakan dalam buku Umar bin Khatab, Kehidupan Umar dalam Keluarga. Kemudian, Umar melihat seekor unta yang gemuk. Unta tersebut berbeda dengan unta lainnya karena pertumbuhannya yang baik. Lalu, Umar bertanya, “Siapakah pemilik unta ini?” mereka menjawab “Unta Abdullah bin Umar.”

“Unta ini ku beli menggunakan uangku sendiri,” jawab Abdullah.
“Unta ini dulunya sangat kurus, lalu aku gembalakan di padang rumput, setelah sekian lama unta ini menjadi gemuk. Aku memperdagangkannya agar memperoleh keuntungan seperti yang diharapkan oleh orang lain,” Abdullah menjelaskan kepada ayahnya

Umar membantahnya dengan nada keras yang meluap-luap, “Lalu ketika orang-orang melihat unta ini, mereka berkata, gembalakannya unta anak Amirul Mukimin, rawatlah, berilah minum secukupnya, sehingga untamu menjadi gemuk dan berlipat keuntunganmu. Hai anak Amirul Mukminin!”

Lalu, Umar melanjutkan, “Hai Abdullah bin Umar, ambillah modal awal pokok yang kamu gunakan untuk membeli unta ini, dan kembalikan semua keuntungannya ke baitul mall.”

Beginilah sikap tawadhu sang Khalifah yang tak dimiliki oleh para penguasa sekuler seperti sekarang.

Penguasa sekuler hanya memikirkan jabatannya. Dan menjalankan politik dinasti. Sedangkan pemimpin Khilafah setiap hari melayani hajat umat dan khawatir kepemimpinannya tidak diterima Allah SWT di dunia dan akhirat jika tidak amanah. []

Bumi Allah SWT, 20 Juli 2020

 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.