Ketika Pariwisata sebagai Magnet Penarik Devisa

Oleh : Widhy Lutfiah Marha (Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Keindahan pesona alam Indonesia ternyata belum sepenuhnya bisa dimanfaatkan dengan baik. Terbukti banyaknya destinasi pariwisata di negeri ini. Pariwisata diklaim dapat menjadi sumber devisa instan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, belum bisa mensejahterakan negeri dan rakyat. Hal ini di karenakan pariwisata era kini hanya menjadi “ajang bisnis”. Sama persis dengan sektor yang lain. Berorientasi profit, bebas nilai.

Bahkan baru-baru ini ditemukan fakta bahwa beberapa tradisi kesyirikan masih banyak dilakukan di sekitar tempat wisata di Indonesia. Seperti yang terjadi di Sumedang, pada Even Tari Umbul Kolosal ribuan warga diharuskan melakukan tarian yang membuat mereka jatuh pingsan dan kesurupan karena tak kuat menahan teriknya matahari.

“Jadi tegang begini ya. Sirine ambulan hampir semuanya berbunyi, belum lagi yang berteriak-teriak karena kesurupan. Terus yang pingsan karena kepanasan juga malah tambah banyak,” kata Yudi Permana (39), salah seorang pengunjung asal Kec. Situraja, saat diwawancara di sekitar Kantor Satker Jatigede . (https://kabar-priangan.com, 31/12/2019)

Di tempat lain, di Daerah Berau, Kalimantan, tradisi adat Buang Nahas di Kampung Talisayan, Kecamatan Talisayan, kembali digelar masyarakat. Tradisi adat yang selalu digelar di akhir bulan Safar tahun Hijriah tersebut, bertujuan untuk membuang segala keburukan dan berdoa bersama untuk mendapat keselamatan, kemakmuran, dan dijauhkan dari segala bencana. Namun, masyarakat dan panitia pelaksana Buang Nahas tahun ini, sangat kecewa. Kecewa kepada Camat Talisayan Mansyur yang disebut tidak merestui tradisi adat mereka dengan alasan bertentangan dengan akidah Islam.

“Susah sudah kalau bicara akidah. Karena masing-masing berbeda pandangannya soal akidah,” katanya saat ditemui di lokasi acara. (https://m.berau.prokal.co, 31/12/2019)

Dari dua berita diatas menunjukkan bahwa masih sedikit fakta yang terjadi tentang pariwisata. Padahal pariwisata sering diwarnai dengan berbagai kejadian aneh dan unik. Seperti tarian Umbul Kolosal yang berjumlah 5.555 peserta, banyaknya peserta membuat tarian tersebut unik dan berbau klenik . Kondisi ini ditambah dengan adanya kejadian kesurupan sehingga membuat aneh dan berbau mistis.

Selain itu, pariwisata tidak sedikit menimbulkan bahaya berupa kemaksiatan, syirik, dan kematian. Adat, budaya dan kearifan lokal perannya pun sudah bertambah menjadi objek wisata penghasil devisa.

Sulit dipisahkan adat dari masyarakat itu sendiri jika terjadi pertentangan, kecuali ada sikap tegas dari tokoh dan pemuka agama bahwa adat harus tunduk dengan syariat bukan menarik manfaat. Karena masyarakat menilai adat sebagai turun temurun dari satu generasi ke generasi, ditambah ada nilai Islamnya sehingga dianggap tidak bertentangan dengan agama.

Selain adat dijadikan objek pariwisata, Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan Amalia Adininggar Widya mengatakan di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, sektor pariwisata dapat menjadi kunci pertumbuhan ekonomi suatu negara. Amelia menjelaskan kalau salah satu “jalan pintas” yang bisa digunakan untuk menyelamatkan devisa negara adalah lewat sektor pariwisata. Dan pariwisata menjadi kunci dan solusi dalam menghadapi dampak ekonomi akibat perang dagang AS dan China. (http://www.monitorday.com, 29/06/2019).

Ungkapan tersebut berlebihan karena bisa menyesatkan publik karena menjadikan Indonesia fokus dengan pembangunan non strategis lupa dengan Indonesia punya kekayaan sumber daya alam yang strategis.

Jika sumber daya alam dikelola termasuk bidang lain yang strategis seperti pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, dan lain-lain tentu lebih berdaya dari pada sektor pariwisata.

Indonesia dan berbagai daerah disibukkan menggenjot pariwisata dengan terus berupaya melibatkan semua sektor untuk menunjang aspek pariwisata. Padahal, sibuknya pemerintah menggenjot pemasukan devisa lewat pariwisata melupakan eksploitasi sumber daya alam oleh pihak lain. Andai diambil alih atau dikelola sendiri tentu lebih strategis dalam menambah devisa.

Dengan demikian, di balik pariwisata yang kini dijadikan sebagai magnet penarik devisa sebenarnya menimbulkan bahaya nyata dilihat dari beberapa hal. Pertama, merusak aqidah melalui pelestarian adat mistik dan syirik. Kedua, kebijakan menyesatkan yang mengelabui rakyat bahwa mereka harus mengambil receh-receh pemasukan dari pariwisata untuk ekonomi mereka, padahal untuk usaha-usaha besar tetap dikuasai para kapitalis. Ketiga, jalan mulus liberalisasi budaya dan agama. Keempat, penjajah asing dibiarkan bebas menguasai Sumber Daya Alam strategis yang melimpah di negeri ini.

Dari analisis tersebut, sungguh sesuatu yang absurd rakyat akan sejahtera dengan berharap pariwisata sebagai jawaban lemahnya perekonomian di Indonesia. Hal ini karena lebih banyaknya bahaya nyata akibat pariwisata dibanding manfaat yang di dapat dari devisa. Terutama bahaya liberalisme yang akan semakin bablas seiring digalakkannya sektor pariwisata.

Liberalisme akan semakin merasuk parah karena Indonesia tidak mempunyai benteng negara yang melindungi umatnya. Sudut pandang materialis sekulerisme telah menjadikan materi, yakni devisa sebagai tujuan utama digalakkannya pariwisata. Terlepas sudut pandang Islam menilai dan menempatkan adat dan pariwisata tersebut.

Pariwisata dan Sumber Devisa dalam Islam

Pariwisata seharusnya diatur dan terikat dengan hukum Islam. Pariwisata yang mengandung madharat atau bahaya, unsur mistis, dan syirik akan dilarang. Tujuan pariwisata dalam Islam bukan untuk meraih materi berupa manfaat, pendapatan dan kesenangan semata. Tetapi, pariwisata dalam Islam dijadikan ajang silaturahmi, tadabbur, dan menumbuhkan serta menambah keimanan.

Pariwisata meski bisa menjadi salah satu sumber devisa, tetapi dalam Islam tidak akan dijadikan sebagai sumber perekonomian negara. Tujuan utama dipertahankan pariwisata hanya sebagai sarana dakwah. Negara tidak akan mengeksploitasi pariwisata untuk kepentingan ekonomi dan bisnis.

Sektor pariwisata tentu tidak lepas dari sektor yang lainnya, semuanya berakar pada asas yang sama, yakni akidah dan ideologi yang diemban oleh negara.

Hanya, negara yang menerapkan Islam yang mampu melawan setiap upaya penjajahan dan liberalisasi. Pariwisata jika taat aturan Islam akan berbuah pahala dan indah seperti surga dunia sekaligus membawa ke surga akhirat.

Ada empat sumber tetap bagi perekonomian dalam negara Islam, yaitu pertanian, perdagangan, industri dan jasa. Keempat sumber inilah yang menjadi tulang punggung bagi negara dalam membiayai perekonomiannya. Negara juga mempunyai sumber lain, baik melalui pintu zakat, jizyah, kharaj, fai’, ghanimah hingga dharibah. Semuanya ini mempunyai kontribusi yang tidak kecil dalam membiayai perekonomian negara.

Dengan demikian hanya Islam sebagai negara (Khilafah) yang mampu mensejahterakan rakyat. Negara Islam tidak akan berharap pada pariwisata sebagai penambah devisa. Negara Islam akan membuat potensi sumber daya alam yang sudah ada dikelola dengan benar sesuai hukum Islam sehingga membuat masyarakat sejahtera tanpa berharap pada sektor pariwisata magnet penarik devisa.

Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *