Ketika Hijab Di Panggung Miss Universe

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Ratna Kurniawati (Aktivis Remaja)

 

Ajang Miss Universe memang tidaklah asing terdengar di telinga kita dan bukan merupakan hal baru lagi. Adapun kontes kecantikan ini selalu identik dengan penampilan para perempuan cantik di berbagai belahan dunia dengan busana yang menampakkan auratnya.  Bahkan terjadi pro dan kontra di Indonesia ketika ada kontestan dari Indonesia yang mewakili untuk ajang Miss Universe karena tidak sesuai dengan budaya dan norma ketimuran.

Tapi kenapa ajang ini menjadi tabu untuk wanita berhijab? Ya, karena ajang ini mengadakan sesi swimsuit atau penilaian catwalk dengan menggunakan bikini. Tentu saja ini sangat berbanding terbalik dengan wanita berhijab yang diharuskan untuk berpakaian tertutup.

Tahun 2020 ada kontestan muslimah Halima Aden yang merupakan wakil dari Negara Somalia di ajang kontes ratu sejagat ini yang membuat gebrakan baru menggunakan hijab lengkapnya di panggung ini. Banyak yang menduga akan gagal karena ada sesi pakaian renang di kontes ratu sejagat yang melarang menggunakan burkini.

Selain, Halima Aden sebelumnya ada Nurul Shamsul yang merupakan perempuan berusia 20 tahun berwajah Melayu keturunan Malaysia dan Indonesia yang berhasil menjadi perempuan pertama yang masuk dalam final 20 besar di Miss Universe New Zealand 2018. Tak cuma itu, Nurul Shamsul ini juga memecahkan rekor sebagai perempuan berhijab pertama yang masuk dalam final Miss Universe New Zealand 2018 ini.

Hijab dan Industri Fashion  Barat

Didalam dunia fashion Barat, hijab dianggap sebagai suatu pilihan bukan sebagai suatu kewajiban. Menutup aurat adalah pilihan dan selera masing-masing orang, bukan sebagai wujud ketakwaan. Namun peluang bisnis dari hijab ini sangatlah sayang dilewatkan dan diabaikan begitu saja.

Tren fashion hijab dikalangan muslimah semakin meningkat, akhirnya industri fashion Barat juga harus beradaptasi dan memanfaatkan momen tersebut untuk merancang busana yang menutup aurat.

Sikap “ramah” Barat terhadap hijab dan pakaian Islami bukan berarti mereka telah menerima Islam, namun tidak lebih hanya karena peluang bisnis yang menjanjikan.

Bisnis Hijab di terima, bagaimana dengan Islamophobia?

Meski bisnis hijab di terima di kalangan Industri Fashion di Barat, namun Islamophobia semakin meningkat. Di Inggris, Prancis, Jerman, dan beberapa negara Eropa lainnya, anti-Islamisme, kekerasan verbal dan fisik, dan diskriminasi terhadap muslim telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Serangan ke masjid, serangan fisik dan verbal terhadap muslim, dan diskriminasi terhadap pemeluk Islam di berbagai bidang pendidikan dan pekerjaan hanyalah beberapa contoh Islamophobia di masyarakat Barat.

Tak hanya di Barat, Islamophobia bahkan telah mengglobal di belahan bumi lain seperti Australia, Cina, dan lainnya. Contoh terbaru dari Islamophobia di Barat adalah perilisan beberapa kali kartun yang menghina Rasulullah Muhammad Saw. di Denmark dan Prancis.

Khilafah adalah Perisai Kaum Muslim dari Islamophobia

Islamophobia bukanlah hal baru bagi Islam dan Muslim. Islamofobia telah ada sejak zaman Rasulullah Saw. Islamophobia yang menjangkiti dunia saat ini menunjukkan pada kita bahwa orang-orang kafir tidak akan pernah berhenti menghina, mendiskriminasi, menyerang dan bahkan membunuh umat Islam karena kebencian mereka.

Selama tidak punya pelindung, umat Islam akan selalu menjadi sasaran kebencian mereka. Hal ini merupakan sinyal mendesaknya kebutuhan kita terhadap kembalinya Khilafah Rasyidah yang berposisi sebagai perisai (junnah) umat Islam, di mana pun dia berada.

Sebagaimana sabda Baginda Nabi Muhammad Saw.,

إنما الإمام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به

”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu bagaikan perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.”

(HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud)

Wallahu a’lam bishshawab

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.