Keterbatasan Fisik dan Mental; Produk Gagal?

Oleh: Mia Fitriah Elkarimah

Kisah pilu seorang perempuan di Surabaya viral di aplikasi percakapan whatsapp. Wanita bernama Dina Oktavia (21) ditinggal sang suami karena melahirkan bayi yang mengalami kelainan pada wajah atau cacat (detiknews, 03/12/2019)

Beberapa bulan yang lalu dari Grobogan, Jawa Tengah seorang ibu meninggalkan anaknya yang lumpuh.

“Bagaimanapun ini cucu kandung saya, sudah seperti anak sendiri. Saya itu kadang tak kuasa menangis melihat nasib Rosma,” ujar Mbah Rani. Ayah Rosma, Rustomo sudah lima tahun ini meninggal dunia akibat penyakit jantung yang dideritanya. Sementara ibunda Rosma, Sumarni, kabur begitu saja meninggalkan anak kandungnya tersebut (kompas.com 5/10/2019)

Memiliki anak adalah sesuatu yang sangat diharapkan oleh sebuah pasangan suami dan istri di dunia ini. Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah dan titipan yang Allah swt berikan kepada orangtua. Keberadaan anak sebagai penyempurna kebahagiaan dalam keluarga. Tidak jarang pasangan yang belum dikarunia anak pun akan melakukan berbagai usaha demi mendapatkan anak. Karena rumah tanpa anak akan terasa sepi dan tak berwarna.

Titipan Allah swt yang paling berharga itu hendaklah kita jaga, rawat dan didik. Jika orangtua dapat menjaga, merawat dan mendidiknya dengan benar maka anak tersebut akan menjadi penenang jiwa dan penyejuk hatinya.

Dan bagaimana ketika Allah menguji orang tua dengan hadirnya anak dengan keterbasan fisik dan mental, yang selalu berkaitan dengan masalah medis, selalu membutuhkan perawatan fisik, pengawasan serta perhatian lebih banyak, tak henti-hentinya komentar yang kurang bijak atau menyinggung yang selalu hadir di tengah-tengah mereka.

Maka, Hendaknya mereka bersabar, keterbatasan anak itu bukanlah produk gagal yang gampang saja kita tinggalkan, itu juga ciptaan Allah. Tapi ketahuilah keterbatasan seseorang itu tidaklah mutlak bahwa dia tidak berguna hidup di dunia, ada keistimewaan yang harusnya kita ketahui, karena Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu yang diciptakan. Berapa banyak dari mereka yang berprestasi dan justru menginspirasi banyak orang

Keterbatasan itu juga sebagai ujian, Allah menguji hamba-Nya dengan cara yang berbeda. Terkadang berupa kelapangan dan kenikmatan, namun terkadang juga berupa kesempitan dan musibah; Ada yang diuji dengan kecacatan, bahkan kesempurnaan fisik juga sebuah ujian.

Marilah kita mencoba untuk ikhlas jangan sampai menyia-nyiakan mereka. Ketika kita menerima ujian itu, yakinlah bahwa kita bisa melewati setiap ujian yang diberikanNya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *