Kesultanan Melayu Champa (Vietnam dan Kamboja)

Oleh: Gesang Ginanjar Raharjo

Champa merupakan salah satu kerajaan tertua di Asia Tenggara yang masih serumpun dengan bangsa Melayu dan Jawa. Kerajaan ini berdiri pada tahun 192 M. dan mencapai kejayaan pada abad ke 7 hingga ke 10 M, kerajaan ini juga melakukan perdagangan rempah-rempah dan sutera antara China, Kepulauan Melayu (Nusantara), India, hingga ke-Khilafahan Abbasiyah di Baghdad, dari sinilah masyarakat Champa mulai mengenal dan bersosialisasi dengan Kaum Muslimin. Keberhasilan kerajaan ini pernah membendung serangan dari Kerajaan Cina pada masa Dinasti Sui, dan juga membendung serangan Kerajaan Mongol dimana pada saat itu kerajaan-kerajaan di Eropa dan kekuasaan Islam di Baghdad hancur diserang oleh pasukan Mongol. Namun di wilayah Nusantara Melayu ada dua kerajaan yang sanggup membendung serangan Mongol, yaitu Kerajaan Champa dan Kerajaan Majapahit di Jawa.

Islam datang di wilayah ini sekitar abad 10-11 Masehi yang disebarkan melalui para pedagang dan ulama berasal dari India, Persia, dan Arab yang memang saat itu wilayah-wilayah ini adalah bagian dari Ke-Khilafahan Islam. Sebelum Islam tersebar di wilayah ini Kerajaan Champa menganut ajaran Hindu-Budha yang memang sudah lama tersebar di wilayah Asia Tenggara, kerajaan ini juga sering terlibat peperangan dengan kerajaan-kerajaan lain di wilayah Kamboja dan Vietnam, seperti Kerajaan Khmer (Kamboja) yang menjadi musuh bebuyutan kerajaan Champa, invasi Khmer pada tahun 982 M. menyebabkan Kota Indrapura, ibu kota Champa hancur lebur yang akhirnya dipindahkan ke Vijaya, namun perang terus berlanjut yang mengakibatkan sekitar 60000 rakyat Champa tewas dan sisanya dijadikan budak, mereka yang selamat melarikan diri ke Malaka, Aceh, dan wilayah lain di Sumatra.

Selain kerajaan Khmer, musuh paling kuat bagi Champa adalah kerajaan Annam yang berada di Vietnam, kerajaan Annam adalah sebuah kerajaan Indo-China dari etnis Dai Viet, salah satu etnis Cina Selatan yang berhijrah ke wilayah Vietnam dan akhirnya banyak melakukan penakhlukan untuk memperluas kekuasaan mereka termasuk Kerajaan Champa.

Pada abad 10 Masehi Islam mulai berpengaruh di wilayah Champa, setelah Raja Che Bo Nga (Jendral Bunga) memeluk Islam melalui dakwah Sayyid Hussein dan mengganti namanya menjadi Sultan Zainal Abidin, dengan masuknya Raja dan keturunan Kerajaan Champa kedalam Islam, menjadikan mayoritas masyarakat Champa ikut memeluk dan mencintai Islam sebagai agamanya. Sejak itulah Champa menjadi salah satu Kesultanan Islam di wilayah Asia Tenggara. Sultan Che Bo Nga (Sultan Zainal Abidin) naik tahta setelah ayahnya, Sultan Tra Hoa Bo De (Sultan Darman Syah) menyerahkan kekuasaannya pada 1335, Sultan Che Bo Nga menikah dengan Dewi Nareswari (Siti Zubaidah) putri dari Sultan BharuBhasa (Sultan Mahmud Syah) yang berkuasa di Kesultanan Jembal, Kelantan Melayu.

Pada masa pemerintahan Sultan Che Bo Nga, Kesultanan Champa mengalami kemajuan dan kejayaan. Tahun 1377 Sultan Che Bo Nga berhasil memukul mundur 120000 pasukan Dai Viet yang dipimpin oleh Raja Tran Due Thong dan Jendral Le Qui Ly yang akan menyerang Kota Bal-Ngwe, dalam peperangan ini Raja Tran Due Thong bersama para ratusan pasukannya tewas ditangan tentara Muslim Champa, pasukan Tran Due Thong yang tersisa melarikan diri ke Hanoi, Sultan Che Bo Nga juga berhasil menakhlukan Hanoi setelah putri Duong Khong, yang menuntut balas atas kematian ayahnya, Raja Tran Due Thong, dalam peperangan ini pasukan Champa didukung oleh pasukan dari tanah Melayu, Segenting Kra. Pasukan Muslim Champa dipimpin oleh Sultan Che Bo Nga berhasil menawan enam putri Viet termasuk Duong Khong, Namun Duong Khong akhirnya dibebaskan setelah memeluk Islam dan dinikahi oleh Sultan Che Bo Nga.

Hanoi kembali ditakhlukkan oleh pasukan Sultan Che Bo Nga pada 1388 pada masa Raja Tran Da Hien yang menggantikan Raja Tran Due Thong yang tewas ditangan pasukan muslim Champa, Pasukan Champa berhasil merebut Hanoi dan memperoleh banyak harta rampasan perang yang sebagiannya dihadiahkan kepada Kerajaan Ming di China. Sementara Raja Da Viet, Tran Da Hien melarikan diri ke pedalaman Hanoi. Kesultanan Champa bangkit menjadi sebuah kekuatan besar yang disegani pada masa itu.

Namun kegemilangan ini tidak berlangsung lama, pada Februari 1390, Sultan Che Bo Nga beserta pasukannya berlayar di Sungai Hoang Giang, kesempatan ini digunakan oleh Raja Tran De Hien dan anaknya Tran Khat Chan untuk menghalangi kapal Che Bo Nga dan pasukannya di sungai Hoa Trieu, namun pasukan Champa menyadari hal ini yang akhirnya mengejar pasukan Dai Viet, dalam situasi ini Laksamana Champa La Khai berkhianat dengan memberitahu posisi kapal Che Bo Nga kepada tentara Dai Viet, Tran Khat Chan pun langsung bertindak cepat ketika mendengar informasi tersebut, tak membuang waktu bersama pasukannya dan Laksamana La Khai, kapal Tran Khat Chan menuju lokasi kapal Che Bo Nga yang tanpa disadari oleh Pasukan Champa, pasukan Tran Khat Chan menyerang kapal dan berhasil membunuh Sultan Che Bo Nga.

Selepas kematian Sultan Che Bo Nga kekuasaan Champa diambil alih oleh La Khai, Namun dalam pemerintahannya Kesultanan Champa menjadi merosot dan melemah. Kelemahan kepemimpinan La Khai menyebabkan ia dibunuh oleh panglimannya sendiri. Sementara itu, kerajaan Dai Viet terus memperluas kekuasaannya yang akhirnya Kesultanan Champa berhasil ditakhlukan pada 1471. Masyarakat dan keturunan Sultan Champa diusir dari tanah kelahirannya, mereka berhijrah ke Kamboja, Kelantan, Melaka, dan Aceh. Dari keturunan Champa ini ada yang menjadi pembesar di tanah Melayu bahkan salah satu Sultan Aceh adalah keturunan Champa, yakni Syah Po Ling.

Pada abad 14-15 seorang putri Champa bernama Candra Wulan menikah dengan Ibrahim Zainudin Al Akbar As-Samarqaniy atau Ibrahim Asmoro. Dari pernikahan ini lahirlah Syeikh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Ampel) yang kelak menjadi salah satu Wali di pulau Jawa. Sementara itu keturunan Kesultanan Champa di Kelantan, Wan Bo Tri Tri atau Sultan Maulana Sharif Abu Abdullah menikah dengan Nyi Mas Rara Santang, Putri Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran di Jawa Barat, dari pernikahan ini lahirlah Syeikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang juga menjadi salah satu Wali di Jawa. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *