Kesetaraan Gender Solusi Masalah Perempuan?

Oleh: Dina Wachid

 

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga mengatakan, salah satu dampak pandemi Covid-19 yang dirasakan perempuan adalah meningkatnya pekerjaan yang tak berbayar dan kekerasan berbasis gender. Ini dikarenakan masih kentalnya konstruksi sosial di masyarakat yang menempatkan perempuan lebih rendah daripada laki-laki.

Sebuah survei juga menunjukkan bahwa sebanyak 50 persen perempuan menghabiskan waktu 3-5 jam untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, sedangkan mayoritas laki-laki hanya menghabiskan waktu 0-2 jam untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. “Hal ini menyadarkan kita semua bahwa nilai-nilai kesetaraan gender dan pembagian peran dalam rumah tangga menjadi penting diterapkan, utamanya selama pandemi Covid-19,” kata Bintang.  (nasional.kompas.com, 12/03/2021)

 

Solusi Atau Ilusi?

Ketimpangan gender dinarasikan sebagai sumber permasalahan yang menimpa perempuan. Dengan memberikan kesempatan dan kebebasan bagi perempuan untuk berkiprah di ranah publik, diharapkan membuat perempuan setara dengan kaum lelaki. Perempuan bebas melakukan apapun yang diinginkan, tanpa takut ancaman atau tekanan dari manapun. Pilihan ada di tangan mereka dan tak boleh ada yang merampasnya. Dengan begitu, mereka bisa mendapat kebahagiaan dan kesejahteraan yang diidamkan.

Sekilas, ini sangat indah karena memberi ruang bagi perempuan untuk berekspresi lebih leluasa. Banyak dari kaum perempuan yang terpikat dengan pemikiran tersebut. Mereka kemudian berbondong-bondong keluar dari rumah untuk mengejar ‘mimpi’ dengan meninggalkan suami, anak-anak dan keluarganya. Bahkan, tanpa segan mereka melepas segala pelindung, membuka aurat, dan menanggalkan pakaian kehormatan mereka.

Berbagai tawaran menggiurkan mendatangi kaum perempuan dengan dalih memberi kesempatan untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri, hingga bisa berprestasi dan menghasilkan materi sendiri. Merayu dengan berbagai cara agar kaum perempuan mau melakukan segalanya untuk meraih kebahagiaan yang distandarisasi oleh paradigma kapitalisme liberal.

Materi yang berlimpah, kedudukan yang tinggi, jabatan yang prestisius di ranah publik, fisik menawan dan berbagai standar kebaikan menurut pola pikir sekuler yang berlepas dari norma agama terus didengungkan.

Kita lihat sendiri bagaimana kaum perempuan berjalan di alam kapitalisme liberal sekarang ini. Banyak diantara mereka yang sukses di karirnya, di bidangnya masing-masing. Kesuksesan yang seringkali harus dibayar mahal dengan kehilangan berbagai hal. Hilangnya peran sebagai ibu dan istri, jauh dari keluarga, hingga agama yang ditinggalkan demi menyesuaikan diri dengan alur sistem kehidupan yang sekuler liberal.

Di sisi lain, lebih banyak lagi perempuan yang menderita akibat tergilas roda dunia yang dikuasai kapitalis. Mereka menjadi mesin penggerak ekonomi yang profitnya dinikmati oleh para pemilik modal. Mereka dihisap darahnya demi menghidupi kapitalisme. Sedang imbalan yang mereka dapatkan hanyalah remahan, tak cukup untuk mengobati segala luka akibat kerasnya dunia kerja.

Dengan adanya pandemi ini, kaum perempuan juga turut menanggung beban lebih. Padahal, sebelum pandemi saja, kaum perempuan sudah dipaksa untuk ikut berjibaku dalam kerasnya dunia kerja. Mereka juga harus membanting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarga, dikarenakan penghasilan suami yang tak mencukupi atau karena ketiadaan pihak yang menanggung nafkahnya.

 

Solusi Ala Kapitalisme

Solusi kesetaraan gender muncul di alam Barat dengan sekulerismenya. Ia lahir dan tumbuh pada lingkungan yang memberi ruang kebebasan bagi manusia untuk membuat aturan sendiri.

Asas pemikiran yang menafikan aturan Tuhan dalam kehidupan menyebabkan kekeliruan dalam memandang setiap perkara. Menilai sesuatu dari sudut pandang masing-masing, dengan standar yang tak sama hingga saling bertentangan. Pertentangan tersebut akhirnya berujung pada dominasi mereka yang lebih kuat dalam mempertahankan prinsipnya.

Prinsip manusia yang hidup dalam sistem kapitalisme sekuler tentunya berporos pada manfaat. Segala cara adalah halal dilakukan untuk mencapai tujuan. Kebebasan yang lahir dalam sistem ini membolehkan bertindak sekehendak hati tanpa memikirkan hal lain selain materi.

Kesetaraan antara perempuan dan lelaki dianggap jalan keluar untuk menciptakan kehidupan yang adil bagi semua. Bila lelaki mendapat kesempatan mengejar pendidikan setinggi mungkin, maka kaum perempuan pun harus diberi kesempatan yang sama. Begitu pula di bidang ekonomi, politik, pemerintahan dan yang lainnya, harus ada kesetaraan antara pria dan wanita.

Memberi kesetaraan hak bagi perempuan, sejatinya adalah dalih untuk mengeksploitasi demi kepentingan kapitalis liberal. Seruan dan kampanye agar perempuan diberi ‘kebebasan’ dalam berbagai bidang merupakan racun berbalut madu. Manis, tapi mematikan perempuan.

Tujuan mereka adalah membuat perempuan jauh dari keluarga dan meninggalkan agamanya. Sehingga dengan begitu, perempuan menjadi tak terlindungi dan lemah. Tak ada penjagaan, membuat mereka mudah dimanfaatkan oleh para pengejar materi.

Dengan turutnya perempuan berkiprah di ranah publik akan menghasilkan materi yang kemudian mengalir ke kantong-kantong para kapitalis. Sanjungan dan penghargaan atas kerja dan prestasi mereka, sejatinya tipu muslihat yang melenakan agar para perempuan tetap mengikuti langkah-langkah liberalis kapitalis.

Solusi kesetaraan gender jelas berkelindan dengan sistem kapitalisme yang profit-oriented sehingga menjadikan kaum perempuan sebagai mesin pencetak uang. Perempuan dimanfaatkan begitu rupa untuk menghasilkan pundi-pundi hingga menanggalkan segala rasa malu dan kehormatannya. Bila sudah tak berdaya, mereka akan ditinggalkan begitu saja.

Sungguh malang nian nasib perempuan. Bila dulu, perempuan dimarginalkan dan dipandang buruk karena dianggap makhluk rendah, kini perempuan tetap direndahkan oleh sistem yang buruk.

 

Kembali Pada Islam

Berbeda halnya dengan Islam yang memiliki solusi jitu untuk mengatasi segala permasalahan terkait perempuan. Dengan bersumber pada sebuah aturan yang hakiki, Islam tidak hanya memberi solusi permasalahan, tetapi juga mampu menjaga dan menghormati perempuan dengan cara yang terbaik.

Dengan mengembalikan perempuan pada posisi yang seharusnya, maka mereka akan selalu terlindungi dan terjaga kemuliaannya. Kedudukan mulia yang telah ditetapkan Islam untuk kaum perempuan diantaranya adalah:

Pertama, perempuan memiliki tugas utama sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Posisi yang amat menentukan kehidupan umat manusia.

Kedua, perempuan berhak mendapat nafkah dari suaminya atau walinya. Bekerja bagi perempuan diperbolehkan, selama mendapat izin dari suami atau walinya dengan tetap memperhatikan aturan syariah.

Ketiga, Islam memberikan keringanan bagi perempuan untuk tidak mengerjakan shalat dan puasa pada bulan Ramadhan saat sedang haid atau nifas. Allah lebih mengetahui bagaimana kondisi kaum perempuan, sehingga apa yang ditetapkan adalah untuk kebaikan hambaNya.

Keempat, Islam menetapkan sejumlah hukum berkaitan dengan aktivitas perempuan di ruang publik. Adanya hukum menutup aurat dan jilbab, safar atau bepergian, larangan khalwat (berduaan) dan ikhtilat (campur baur) adalah untuk menjaga dan melindungi kemuliaan perempuan.

Kelima, perempuan berhak mendapat kehidupan yang tenteram. Allah berfirman dalam surat Ar-Rum Ayat 21:

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.

Keenam, kaum perempuan juga turut berperan di tengah masyarakat. Ini sesuai dengan firman Allah dalam surat at-Taubah ayat 71:

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

 

Begitulah panduan Islam dalam menjaga dan melindungi perempuan. Cara terbaik yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Baik. Pastilah akan menciptakan kehidupan yang baik pula.

Maka dari itu, sudah saatnya meninggalkan aturan rusak buatan manusia. Saatnya beralih pada aturan Islam yang hakiki. Dengan penerapan aturan Islam secara totalitas, maka kaum perempuan akan terlindungi hak dan kehormatannya. Dan hanya itu terwujud dalam bingkai negara khilafah yang akan menegakkan seluruh aturan Allah yang membawa pada keselamatan dan keberkahan. Wallahu a’lam bish-showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *