KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN = JAHAT

Oleh : Desy C Sari

Pagi-pagi seperti biasa saya dan suami selalu sempatin untuk mengobrol, entah itu menceritakan tentang kelucuan anak-anak seharian di rumah atau apapun yang lagi viral saat ini. Lalu sampailah pada cerita tentang perkembangan virus corona di daerah kami tinggal.

Masyarakat yang hanya disibukkan dengan produk-produk yang mendadak menjadi primadona dan mulai langka di pasaran. Mulai dari masker, susu, vitamin, pembersih lantai, sabun dan lainnya yang sangat dibutuhkan untuk memerangi pandemi Covid-19 ini. Begitu banyak respon tetangga yang bermacam jenis tipe, ada yang kelewat santuy (santai cuy), ada yang tipe lebay (berlebihan) hingga menimbulkan “Panic Buying”.

Hingga sampailah suami cerita tentang postingan kawan kantornya yang berada di Jawa Barat, saking gregetnya teman suami ini dengan kondisi paniknya masyarakat di sana. Begini ceritanya, “Ma, temenku yang di Jawa Barat sampai menulis postingan gini Lo, ‘Sehabis dokter S3 bilang kalau UC100 itu bagus untuk meningkatkan daya tahan tubuh, padahal sedari dulu kita semua sudah tau kalau produk itu memang untuk meningkatkan kandungan Vit C dalam tubuh. Eh gak lama dari itu, produk UC100 mulai diincar dan langka di market-market karena diserbu pembeli. Nah, coba aja ya kalau ada orang yang berpengaruh seperti dokter yang kelewat S4 misalnya bilang kalau mi instan rasa kari ayam bisa juga meningkatkan daya tahan tubuh, apakah bakal punya nasib yang sama? Langsung diserbu pembeli gitu?’.” Seketika saya dan suami jadi tergelitik memahami fenomena ini.

Gambaran kecil diatas tidak sedikit kita temui, bahkan hampir di setiap ruang lingkup masyarakat kita menemukan hal demikian. Kepanikan berlebihan dari tipe masyarakat ini yang mengakibatkan sikap kesempatan dalam kesempitan itu lahir di tengah kebutuhan ekonomi setiap individu. Menunjukkan sekali bahwa kondisi ekonomi rakyat itu sebenarnya lemah. Tidak hanya ritel pemodal besar, bahkan pemodal kecil atau rakyat awam pun mengambil jalan ini sebagai sarana mengais rejeki.

Dicontohkan teman kantor suami yang dengan sengaja memfoto hasil pembelian susu kalengnya yang berkarton-karton hendak membayar dikasir lalu foto tersebut dibagikan di grup chating dengan caption “Susu kaleng ini bagus untuk daya tahan tubuh, stoknya sudah mulai menipis dan harga melambung. Kebetulan saya ada stok banyak, monggo yang butuh bisa beli di saya.” Menjadi kebiasaan buruk menimbun stok lalu menaikkan harga gila-gilaan saat barang menjadi langka. Adapun dengan sengaja menyebar hoax-hoax medis supaya orang membeli/tidak membeli produk tertentu. Penipuan-penipuan dengan modus jualan bahkan dengan modus penggalangan donasi kemanusiaan.

Subhanallah, fenomena ini membuat hati saya sangat tergerak untuk menuliskan artikel ini. Bahwasannya kejahatan dapat terjadi dikarenakan adanya kesempatan dan kurangnya edukasi pemahaman atau sosialisasi terhadap keamanan masyarakat supaya tetap terjamin. Dalam hal ini sudah menjadi tugas negara dalam mengatur keamanan masyarakat untuk kesejahteraan hidup selama menghadapi wabah Covid-19. Edukasi dan kepastian hokum atau tindakan Negara akan lebih berdampak maksimal. Sehingga tidak menimbulkan kepanikan yang berlebihan dan tidak sampai terjadi pelanggaran-pelanggaran individual. Himbauan dan sosialisai memang tidaklah cukup, sebab himbuan hanya akan menjadi wacana yang bisa diikuti atau tidak tergantung kepentingan orang masing-masing. Yang diperlukan adalah aturan terikat yang bersanksi bila ada yang tidak mematuhi.

Sayangnya, semua ini tidak masyarakat dapatkan secara menyeluruh sehingga membuat masyarakat berinisiatif atau melakukan tindakan secara mandiri. Tidak heran jika banyak tipe masyarakat yang berbeda-beda dalam menanggapi pandemik ini. Kalau saja kita sebagai masyarakat diatur dan dibantu kesejahteraannya dalam mensolusi kondisi saat ini, pastilah besar kemungkinan kita akan merasa aman dan nyaman untuk tetap di rumah tanpa memikirkan hal lain selain fokus dalam memutus rantai penyebaran virus ini. Kita akan dapat menjadi masyarakat yang satu pemikiran, satu perasaan dan satu tujuan. Sikap rasional ini yang harus kita ikuti. Bentuk ikhtiar kita seperti rajin mencuci tangan, belanja bulanan seperti biasanya. Jaga imunitas tubuh dengan asupan yang bergizi, olahraga dan istirahat yang cukup. Tetap berdiam diri di dalam rumah selama tidak ada kepentingan yang urgent. Upaya apapun yang sudah dilakukan dengan baik maka selanjutnya sikap yang terpenting untuk terus diterapkan adalah bertawakal kepada Allah SWT, ridha dan selalu tetap berprasangka baik kepada Allah SWT. Sama-sama kita berdoa demi kesembuhan para pasien yang terjangkit dan semoga ujian ini segera berlalu, aamiin. Allah hanya butuh kita sadar untuk kembali kepada semua aturan-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawabi
#PR6KelasBasic
#KelasArtikel
#Revowriter23

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *