Kesehatan dan Ekonomi Pedagang di Kala Pandemi

Oleh : Fathimah al-Fihri (Aktivis Dakwah)

Salah satu yang terkena dampak di tengah pandemi ini adalah pedagang pasar, dimana aktivitas dipasar tentu saja berjumpa banyak orang, banyak transaksi yang dilakukan. Karena pasar merupakan peneyedia kebutuhan sehari-hari masyarakat. Dengan begitu tidak heran jika banyak pedagang pasar yang positif Covid-19.

“Kami DPP IKAPPI mencatat data kasus Covid-19 di pasar seluruh Indonesia adalah 529 ditambah laporan terbaru yang kami terima dari Sumatera Selatan ada 19 temuan baru kasus Covid di Pasar Kebun Semai Sekip Palembang. Jadi total kami mencatat perhari ini positif Covid-19 di pasar sebanyak 529 orang dan yang meninggal sebanyak 29 orang,” ujar Dimas dalam keterangannya, Sabtu (12/6/2020). (Sumber : Okezone, 13/6)

Dilansir dari Kumparan, 11/6. Ratusan Pedagang dan pengunjung pasar Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengusir petugas COVID-19 dari Gugus Tugas Kabupaten Bogor. Insiden itu terjadi Rabu (10/6). Suasanan di Pasar Cileungsi cukup mencekam ketika para massa berusaha mengusir petugas yang akan melakukan pemeriksaan. Anggota TNI dan Polri kemudian turun tangan untuk menenangkan massa.

“Pendekatan penanganan pasar beda dengan pendekatan penanganan sekolah, perkantoran, dan juga kawasan industry. Pasar itu ada karakter yang berbeda. Pertama itu ada penjual dan pembeli. Jadi ada orang, ada barang, dan ada uang,” ujar Hermawan kepada Okezone, Minggu (14/6/2020). (Sumber : Okezone, 14/6)

Covid-19 tersebut tidak hanya mengjangkit beberapa pedagang pasar, melainkan ratusan pedagang pasar. Lingkungan pasar yang mengharuskan bertemu banyak orang menjadi salah satu penyebab penularan tersebut, terdapat pula uang yang menjadi bahan transaksinya dan ditambah dengan pedagang pasar yang tidak melakukan protocol kesehatan. Bukan tak ingin, namun pedagang pasar banyak yang tidak faham akan hal itu.

Dengan begitu, menjadi tugas Pemerintah untuk melakukan pendekatan kepada pedagang pasar, karena pedagang pasar itu berbeda dengan yang lain. Dari persebaran Covid-19 pada pedagang pasar, bukankah membuktikan bahwa Pemerintah tidak tepat dalam melakukan pendekatan? Pendekatan dilakukan dengan tidak pesuasif dan tes juga dilakukan di pasar, sehingga warga pun menolaknya, sampai-sampai terjadi kericuhan hingga melibatkan TNI dan Polri.

Dalam hal ini, bukankah juga membuktikan bahwa Pemerintah tidak tepat jika hanya menyediakan sarana tes serta himbauan agar patuh saja, namun tidak diimbangi dengan pendekatan supaya warga sadar akan protocol kesehatan, pemberian jaminan pemenuhan kebutuhan. Sehingga para pedagang pun tak perlu memaksakan berjualan dikala pandemi ini yang akan menyebabkan persebaran tersebut semakin cepat. Setelah melakukan himbauan yang tepat seperti di atas, Pemerintah pun juga wajib menindak tegas dengan memberikan sanksi.

Berjualan ataupun beraktivitas di luar di kala pandemi ini, tentulah sangat membahayakan bagi nyawa setiap orang. Menjamin keselamatan rakyat merupakan tugas seorang pemimpin, dimana pemimpin nantinya akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya itu. Jika banyak nyawa yang melayang karena kebijakan Pemerintah yang abai terhadap rakyatnya, lantas apakah pemimpin seperti ini yang diharapkan rakyat?

Rakyat butuh perlindungan untuk hidupnya dan yang dapat melindungi adalah seorang pemimpin. Namun saat ini pemimpin justru mementingkan perekonomiannya diatas keselamatan rakyat. Rakyat tetap harus bekerja meski keberadaannya diluar sangat membahayakan bagi dirinya maupun orang lain. Semakin banyak rakyat yang tumbang akan pandemi ini, bukankah akan semakin memperburuk perekonomian pula?

Beginilah gambaran ketika aturan yang dipakai dalam kepemimpinan bukanlah berdasarkan hukum dari Allah, malah menciptakan hukum sendiri yang dibuat oleh manusia yang penuh keterbatasan ini. Rakyat terdzalimi Pemimpin malah menikmati. Hanya Allah yang mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, oleh karenanya tak sepatutnya manusia mengesampingkan hukum-hukum Allah yang jelas-jelas baik untuk makhluk-Nya.

Hukum Allah yakni Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi kaum muslimin. Sehingga ketika Islam diterapkan, pemimpin akan megutamakan keselamatan rakyatnya daripada perekenomian. Karena pemimpin dalam Islam mengetahui bahwa seorang pemimpin nantinya akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Sabda Nabi SAW :

الاءمام راع ومسئول عن رعيته

“Imam itu adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Al-Bukhori)

Dengan begitu, keselamatan rakyat merupakan yang lebih utama dari perekonomian. Jika rakyat sehat tentu saja perekonomian akan membaik dan selamat. Namun hal itu hanya ketika Islam diterapkan secara menyeluruh, tak lain dan tak bukan dengan sistem Pemerintah Islam yakni Khilafah. Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *