Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire, Pengalihan Isu Atau Cerminan Masyarakat yang Rusak?

Oleh: Arina Husna (Aktivis Muslimah, Probolinggo)

Seperti baru kemarin mendengar kabar muncul nya kerajaan ubur-ubur, kencang terdengar kabar yang serupa. Warga jateng di hebohkan dengan muncul nya kerajaan Agung Sejagat. Belum reda berita viral itu, di bandung Sunda Empire tak kalah geger nya. Kedua nya viral dalam jangka waktu yang berdekatan di tengah heboh nya masyarakat pada kasus Asuransi Jiwasraya. Keraton Agung Sejagat yang mengklaim sebagai penerus Kemaharajaan Nusantara, Majapahit, ini memiliki pengikut sebanyak 425 orang dan terus bertambah seperti yang di lansir oleh suara.com. Lebih cepat berkembang di banding Keraton ini, Sudan Empire bahkan telah menyebar ke aceh, sekalipun pengikut nya masih puluhan (cnnindoneisa.com).

Rakyat sendiri menuding kasus ini sebenarnya hanya sebagai pengalihan isu di tengah carut marut nya negeri +62 ini, mulai dari Natuna, Jiwasraya, Asabri, hingga kasus suap KPU. Di tambah lagi rakyat nya yang suka dengan hal viral, semakin mudah memecah konsentrasi masyarakat pada masalah politik itu tadi. Jadi, sebenarnya mereka adalah pengalihan isu, atau murni kemunculan mereka sendiri?

Kita tidak bisa memungkiri opini bahwa muncul nya 2 kerajaan itu hanyalah pengalihan isu. Sebab keberadaan kedua nya di Indonesia sudah lama. Seperti video pidato Sunda Empire yang viral di ambil dari pada tahun 2018, mengapa viral nya baru-baru ini?

Tapi kita harus ingat pula. Subur nya fenomena seperti ini hanya ada di sistem kapitalisme. Keputusasaan masyarakat atas beban ekonomi yang mencekik, di tambah masalah sosial keluarga, membuat nya tak berpikir rasional. Sehingga masih saja percaya akan hal yang berbau kerajaan seperti ini. Yang tidak lain karena iming-iming perbaikan ekonomi.

Bayang kan, kado awal tahun dari pemerintah. Berupa BPJS naik, subsidi listrik akan di cabut walau tidak jadi, subsidi tabung gas 3 kg yang akan di cabut pula walau masih wacana, harga kebutuhan pokok di pasar makin melambung, apa tidak membuat rakyat nya stres? Belum lagi masalah internal lain nya.

Maka islam punya solusi. Sebab islam, ketika di terapkan secara kaffah akan menjadi rahmatan lill’alamin. Dan penerapan secara kaffah hanya bisa melalui sebuah konstitusi bernama Daulah atau negara. Ketika sebuah negara menggunakan sistem islam akan berbeda hasil nya ketika menggunakan sistem kapitalisme yang bobrok sejak lahir. Daulah sendiri punya kewajiban untuk membekali rakyat nya dengan setumpuk ilmu, membenarkan aqidah tiap insan nya, membentuk masyarakat yang penuh iman dan ketaqwaan. Ketika masalah hadir, masyarakat nya telah paham konsep rezeki, kematian, takdir, sehingga pemecahan nya tidak menyimpang.

Selain itu pula, tidak akan terjadi kasus yang membuat masyarakat nya pening perkara ekonomi yang buruk. Dengan penerapan sistem islam, bagian ekonomi, sosial, keamanan, semua nya terjamin. Sehingga tak ada cerita nya masyarakat galau karena harga telor naik. Tidak dalam sejarah Daulah islam. Maka masyarakat nya hanya fokus pada pengembanan dakwah islam ke penjuru alam. Maka tidak akan di temui kasus seperti Keraton Agung Sejagat ini. Apalagi di tambah kasus manipulasi uang.

Masih yakin pake sistem kapitalisme?

Wallahu’alam bi as-showaab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *