Kepentingan Terselubung di atas Penderitaan Muslim Uyghur

Oleh: Anggun Permatasari (Aktivis Muslimah dari Jakarta Utara)

Terkuaknya pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap bangsa Uyghur yang terjadi di wilayah Xinjiang oleh pemerintah Cina membuat masyarakat dunia Internasional marah. Segala bentuk kecaman, aksi solidaritas hingga peringatan dilontarkan kepada pihak pemerintah Cina.

Dikutip dari laman berita BBC News Indonesia, Sebuah komite hak asasi manusia PBB mendengar adanya laporan yang dapat dipercaya bahwa Cina menahan satu juta orang Uyghur di “pusat kontra-ekstremisme”.

Gay McDougall, anggota Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial, mengajukan klaim pada pertemuan PBB yang digelar dua hari di Cina. Dia mengatakan dia prihatin dengan laporan bahwa Beijing telah “mengubah wilayah otonomi Uyghur menjadi sesuatu yang menyerupai kamp interniran besar-besaran”. Ratusan Muslim di wilayah Ningxia berhadapan dengan pihak berwenang pada hari Jumat untuk mencegah masjid mereka dihancurkan.

Penindasan pemerintah Cina terhadap etnis minoritas muslim Uyghur sangat keji, dan jelas melanggar HAM. Betapa tidak, mereka disiksa, dipaksa minum alkohol dan makan daging babi yang jelas itu diharamkan dalam keyakinan sebagai muslim. Mereka juga dilarang shalat jumat dan shalat berjamaah di masjid.

Pemerintah Cina mencuci otak Muslim Uyghur agar melupakan keyakinannya, menghapus simbol-simbol Islam. Bahkan, mereka dipaksa bersumpah akan setia pada pemimpin negara komunis tersebut yaitu Xi Jinping.

Perlakuan pemerintah Cina menampakkan adanya cengkeraman rezim atas wilayah Xinjiang yang luasnya sekitar 1,6 juta km² dan populasi penduduk 21 juta jiwa dengan 46% diantaranya muslim Uyghur.

Banyak hal yang tidak diketahui publik dari wilayah Xinjiang. Ternyata wilayah Xinjiang memiliki kekayaan alam melimpah. Xinjiang memiliki 20% cadangan batu bara, gas alam dan minyak bagi Cina. Selain itu, kaya akan tembaga, timah, emas, perak, dan seng.

Apabila kita melihat di peta dunia, wilayahnya merupakan jalur strategis penghubung Cina dengan negara-negara Asia Tengah, Eurasia dan Timur Tengah yang tentunya sangat penting untuk melancarkan program One Belt One Road (OBOR).

Namun, yang menarik dari maraknya pemberitaan mengenai kondisi muslim Uyghur adalah selain dibeberkan PBB, beberapa sumber justru berasal dari negara barat yaitu Amerika Serikat. Fenomena ini menunjukkan adanya perebutan pengaruh dalam percaturan politik dunia antara Amerika Serikat dan Cina.

Kondisi ini dimanfaatkan AS untuk menampar Cina dan mengambil alih perhatian dunia akan eksistensinya sebagai negara super power.

Laman berita online CNBC Indonesia mewartakan, China mengecam media Amerika Serikat (AS) The New York Times. Kecaman itu disampaikan China terkait artikel soal bocornya dokumen penanganan etnis Uyghur dan minoritas Muslim di wilayah Xinjiang.

Sebelumnya The New York Times melaporkan dokumen setebal 403 halaman yang berisi arahan dan laporan tentang pengawasan dan pengendalian populasi Uyghur.

Sementara itu, saat ini Beijing merupakan mitra dagang terbesar Baghdad, dan Irak adalah pemasok minyak terbesar kedua bagi China. Berdasarkan data kantor berita Xinhua, nilai transaksi perdagangan antara China dan Irak pada tahun lalu tercatat lebih dari US$30 miliar. Dan sama-sama kita ketahui bahwa Irak sebelumnya telah porak-poranda akibat serangan dan blokade ekonomi yang dilakukan Amerika Serikat.

Selain itu, program kerjasama di kawasan Asia pada dasarnya tidak lepas dari konsep indo-pasifik Amerika Serikat (AS) dan memastikan kerjasama proyek infrastruktur dalam konteks indo-pasifik berjalan mulus. Ini terjadi karena posisi AS saat ini masih sebagai poros kekuatan ekonomi global. Dan sudah menjadi pemahaman bersama, bagi AS semua negara merupakan kompetitor.

Jika kita melihat sejarah, wilayah yang dulunya merupakan Turkistan timur dan sejak tahun 1949 berhasil ditaklukkan Cina komunis, ternyata tidak hanya menyita perhatian pemerintah Cina namun negara-negara barat seperti Amerika Serikat.

Selain letaknya yang strategis untuk jalur perdagangan dan kepentingan militer. Kekhawatiran akan kebangkitan Islam membuat mereka dengan sekuat tenaga melakukan tekanan dan melancarkan isu-isu terkait sentimen agama terhadap Islam dan muslim Uyghur.

Pada dasarnya, Xinjiang merupakan tanah milik kaum muslimin. Uyghur dahulu adalah bagian dari wilayah daulah kekhilafahan Ustmaniyah. Selama 1.400 tahun Uyghur tetap menjadi negeri muslim walaupun pernah dikuasai Mongol pada abad 13M.

Sama halnya seperti Palestina, Kashmir dan negeri-negeri muslim lainnya yang saat ini sedang didzalimi. Harusnya, umat Islam di berbagai belahan bumi sama-sama berjuang untuk merebut kembali tanah tersebut dari kafir penjajah dan mengembalikan kehormatan kaum muslimin yang telah diinjak-injak.

Hal ini digambarkan seperati hadist Nabi: “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim].

Namun, kondisi saat ini dimana kaum muslimin tersekat-sekat di bawah bendera nasionalisme sangat tidak memungkinkan untuk berjuang bersama. Batas teritotial dan alasan perbedaan hukum undang-undang yang berlaku menyebabkan kita hanya bisa mengutuk dan mengutuk tanpa melakukan tindakan konkret.

Adanya persatuan umat muslim hanya bisa terwujud jika seluruh kaum muslimin bersatu di bawah bendera Islam dalam bingkai daulah khilafah. Dengan adanya daulah Islam, umat muslim akan terjaga kehormatannya dan kafir penjajah tidak semena-mena memanfaatkan untuk kepentingan mereka.

Dalam surat al Imran ayat 103 Allah swt. berfirman: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah seraya dengan berjama’ah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”

Wallahualam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *