Kenapa Harus Poligami?

Oleh : M.Azzam Al Fatih (Pemerhati umat dan aktivis dakwah)

Entahlah, yang pasti tema tsb memang kerap di rembug dlm banyak forum. Baik itu di tempat kajian, di Kantor, atau yang paling banter saat ini adalah di medsos.

Sayangnya, menurut kaca mata saya yang ‘plus-minus’ ini, obrolan seputar poligami kebanyakan hanya dijadikan sebatas kelakar belaka. Sekedar main seru2an, layaknya anak kecil yang beradu layangan. Saling senggol.Terlalu asyik.

Ya, mrk.. kaum Bapak tersebut tidak memang berasa asyik kalau sdh membincangkan urusan ‘mendua’. Meskipun mrk beraninya main keroyokan, rame2. Itupun di dunia Maya.

Semoga mereka nggak lupa, bhw apa yang mereka jadikan bahan berkelakar tsb adalah salah satu perkara Sunnah yang mulia.

Aneh. Gemar berkelakar di dunia Maya,, namun takut akan dunia nyata.

Intinya ketika kaum Bapak tersebut sedang berada di rumah, maka dengan serta merta ‘keep silent’ atas urusan yang mengasyikkan tadi. Ya, mereka teryata takut membincangkan dengan istri dan keluarga di rumah.

Lucunya, dari sekian banyak orang yg getol menyuarakan poligami tersebut, tidak satupun di antara mereka ada yang berani ‘action’. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya keberanian untuk ber-istri dua.

Apa yang mereka takutkan?
Belum siap. Takut menghadapi banyak masalah. Takut nggak mampu adil, dll, dst..
Yang pasti, mereka memang banyak yang ‘tidak sanggup’, itu aja. Tapi sok pasang niat. Hmm!!

Itu sebabnya, knp saya jadi setengah protes, atau tiga perempat protes.

Ya..karena saya merasa prihatin. Prihatin pada mrk yg demen jadi kompor, profokator, tapi tak mau jadi pelopor.

Ini pun saya tidak bermaksud ngojok2in supaya kaum Bapak tersebut pada nikah lagi. Bukan, sumpah!

Tapi lebih menekankan, agar jgn sampai Syariat Poligami hanya dijadikan sebagai bahan guyonan, atau sekedar buat saling manas2in di antara mrk.
Sebab Rosul kita melaksanakan syariat tsb scr sungguh2, dan dalam rangka ibadah kepada Alloh SWT semata.

Maka seyogyanya bagi yang mengaku sebagai ummatnya, jangan sampai terkesan atau cenderung melecehkan salah satu Sunnahnya. Seolah olah poligami itu mrk jadikan suatu target. Padahal mereka sadar, bahwa target tersebut tidak mungkin akan dilaksanakan di kemudian hari. Pahala niat tidak akan didapat dengan cara seperti ini. Sebab niat itu adanya dihati. Bukan diumumkan setiap saat.

Poligami. Memang ia bisa tampak indah dari satu sisi, namun bisa jadi menakutkan dari kacamata yang lain.
Dan satu – satunya barometer yang layak menilai hanya syari’at. Dimana semua itu telah di atur oleh hukum secara jelas. Sangat jelas.

Ironisnya, banyak di antara mrk tdk berfikir secara Islami. Layaknya kaum filsafat. Pola fikir yg sia2. Menguras hati juga tenaga. Membikin diri terlalu larut dalam teori – teori. Sampai – sampai diperlukan banyak bilangan hari hanya untuk sekadar omong kosong.

Mereka sok intelek, sok faham tentang perasaan wanita, yaitu ‘rasa cemburu’

Dilema memang.

Namun apa hendak dikata? Soalnya banyak di temui kasus2 keterpurukan poligami, yg umumnya mereka ngaku2 sbg pengusung Islam. Yakni orang yang suka ambil enaknya saja dari syari’at. Demen poligami, bahkan menjadi ujung tombak dlm kampanye poligami. Tapi minus terhadap perjuangan Islam yang lain.

Hampir bisa dipastikan, bagi pelaku poligami yang tdk bisa memenuhi syarat dan ketentuan yg berlaku, hal itu hanya akan menjadi duri yang setiap saat mengoyak dan melukai hati pasangan.

Sehingga wajarlah jika kebencian sebagian kaum Emak mjdi kesumat. Ini semua akibat buruknya tata cara yg mrk jalankan dlm berpoligami, yaitu sesudah dan sebelum taadud.

Sampai – sampai banyak di antara kaum wanita yang menyatakan ‘lebih baik diracun ketimbang dimadu. Ngeri bukan?

Kesalahan dan keburukan sebelum berpoligami diantaranya yaitu;
Ada yang memulainya dgn selingkuh. Ada yg langsung nikah diam- diam. Ada pula yg sudah menikah dulu, baru memberitahu ke pihak kelga/istri. Pun ada yg ketika istri pertama tdk mengijinkan, dgn teganya si suami malah lsg menceraikan. Sadis!
Berkedok poligami, padahal sejatinya mau ganti istri. Yg demikian ini jangan sampai antum ngaku – ngaku sedang menjalankan Sunnah ya?!

Please, jangan merusak tatanan. Jangan menciptakan image bahwa Poligami itu buruk dan mengerikan. Poligami itu indah. Sangat indah. Bagi yg mampu menjalani.

Yah..meski seorang suami dibolehkan menikah lagi tanpa harus ijin sang istri. Namun thayyib-kah cara itu (menikah diam2)
Bukankah segala kebaikan itu hrs di awali dg kebaikan pula?

Maka, jika antum tidak punya cukup cinta utk membuat bahagia, setidaknya nggak usah cari masalah dgn menambah derita.

Ingat, ‘mempertahankan itu lebih baik, ketimbang memulai yang baru.

Semoga antum tidak menjadi orang hanya bisa menawarkan janji – janji keindahan syari’at, yang sejatinya tdk prnah antum jalankan.

Pahamilah hakekat kecemburuan. Dan pandailah menjaga perasaan.

Orang yang berpoligami, bukan berati dia tidak setia.
Orang yang setia, pun tdk dibenarkan menolak Syariat poligami.

Wallahu’Alam Bhishowwab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *