Kemiskinan Makin Ekstrim

Oleh Sumiati (Pendidik generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif)

 

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Demikianlah dua bait dari lagu Koes Plus yang menggambarkan Indonesia. Walaupun fakta tak seindah syair sang para pujangga.

Dikutip oleh Liputan6.com, Bandung – Wakil Presiden Ma’ruf Amin berharap lima kabupaten di Provinsi Jawa Barat bisa mengentaskan kemiskinan ekstrem di daerahnya pada akhir tahun ini. Hal itu dia sampaikan dalam rapat kerja membahas penanggulangan kemiskinan ekstrem di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (29/09/2021).

Tujuan mengentaskan kemiskinan di Indonesia dalam rapat kerja anggota dewan, memang kabar baik. Sayang, jika penanggulangannya tanpa melibatkan sistem Islam, lagi-lagi rakyat akan menjadi korban. Betapa tidak, sistem ekonomi kapitalis demokrasi ini, mengelola ekonomi berdasarkan kebenaran menurut manusia saja. Tak mengembalikan pada hakikat pengelolaan ekonomi.

Dalam sistem kapitalis, mereka fokus dalam hal memproduksi barang. Padahal tak selamanya barang tersebut dibutuhkan oleh masyarakat. Jika sebagian individu menghendaki produksi barang tersebut, walaupun barang tersebut tidak begitu bermanfaat bagi masyarakat, maka akan mereka produksi. Bagi mereka, makin banyak produksi, makin dianggap sebuah negara maju. Tak memperdulikan kemanfaatan atau halal dan haram, bahkan tak peduli, apakah hasil produksi tersebut merata didistribusikan kepada masyarakat atau tidak.

Makanya tak perlu heran, jika terjadi ketidakmerataan kesejahteraan masyarakat dalam hal kebutuhan pokok mereka. Mereka abai terhadap hal ini, mereka lebih fokus pada kesejahteraan para pemilik modal yang bisa membayar pajak. Karena hakikatnya negara yang menerapkan sistem kapitalis, hidup di atas pajak yang diminta dari rakyat. Jadi bukan negara yang memenuhi kebutuhan rakyat, tetapi rakyatlah yang menanggung beban negara. Bahkan negara mendorong rakyat bekerja sebebas-bebasnya. Tak peduli kehalalan dan keharamannya.
Cara Mengatasi Kemiskinan dengan Meneladani Rasulullah saw.

Cara mengatasi kemiskinan yang pertama yaitu dengan memotivasi seseorang untuk bekerja sesuai dengan keahlian dan kemampuan. Rasulullah saw. selalu memberikan motivasi pada sahabat-sahabatnya yang terjebak dalam kemiskinan untuk selalu giat bekerja.

Apapun pekerjaannya itu, Rasulullah saw. sangat menghargainya, asal tidak meminta-minta. Dalam kehidupan sehari-harinya, Rasulullah saw. juga melakukan hal tersebut. Beliau menggembala kambing serta mendagangkan harta Sayyidah Khadijah, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Mendorong Proyek-Proyek Ekonomi di Antara Kaum Muslim

Cara mengatasi kemiskinan yang kedua yaitu mendorong proyek-proyek ekonomi di antara kaum muslim. Rasulullah juga menganjurkan seseorang yang tidak memiliki modal awal untuk bekerjasama dengan orang lain. Contohnya, jika ada orang yang tidak memiliki lahan, maka ia bisa menggarap lahan orang lain dengan sistem bagi hasil. Cara tersebut juga telah dibuktikan oleh kaum Anshar dan Muhajirin.

Mengharamkan Riba

Cara mengatasi kemiskinan yang ketiga yaitu dengan mengharamkan riba. Perlu diingat, Rasulullah saw. sangat melarang umat Islam menerapkan praktik riba. Hal ini karena praktik riba dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, membuat orang miskin semakin miskin, membuat orang kaya makin kaya, serta merugikan masyarakat kecil.

Mengelola Keuangan dengan Baik
Cara mengatasi kemiskinan yang keempat yaitu dengan mengelola keuangan dengan baik. Pada zaman Rasulullah saw. pernah ada seorang Anshar yang datang meminta-minta pada Rasulullah saw. Rasulullah saw. pun tak memarahinya. Akan tetapi, beliau bertanya perihal apa yang dimilikinya. Seorang Anshar itu menjawab jika ia mempunyai sepotong kain kasar dan sebuah gelas untuk minum.

Rasulullah saw. lantas meminta dua barang itu untuk diserahkan padanya. Kemudian, Rasulullah saw. melelang dua barang milik seorang Anshar itu, dan laku dua dirham. Rasulullah saw. kemudian menyerahkan uang dua dirham tersebut kepada seorang Anshar itu.

“Belikanlah yang satu dirham, makanan, lalu berikan kepada keluargamu. Lalu belikan lah satu dirham yang lain sebuah kapak, lalu bawakan kepadaku,” perintah Rasulullah saw.

Setelah beberapa saat, seorang Anshar itu pun kembali menemui Rasulullah saw. dengan membawa kapak. Rasulullah saw. lantas mengikatkan sebatang kayu pada kapak tersebut.
Beliau pun memerintah seorang Anshar itu untuk mencari kayu bakar dengan kapaknya dan kemudian menjualnya. Setelah beberapa hari, seorang Anshar itu menemui Rasulullah saw. sambil membawa uang 10 dirham.

“Ini lebih baik untukmu dari pada engkau datang meminta-minta,” ujar Rasulullah saw.

Memanfaatkan APBN (Baitul Mal) dengan Sebaik-baiknya
Cara mengatasi kemiskinan yang ke lima yaitu dengan memanfaatkan APBN (Baitul Mal) dengan sebaik-baiknya. Uang negara yang didapat dari pajak dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kemiskinan.

Hal itulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. terhadap ahli shuffah. Orang-orang miskin dari kalangan Muhajirin yang tidak memiliki rumah, dan tinggal di emperan masjid Nabawi. Rasulullah saw. pun memberdayakan mereka dengan menggunakan simpanan umum harta negara.

Wallahu a’lam bishshawwab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *