Kemenkes Reaktif Soal Virus Corona, Pesakit Yang Sedang Menderita Lupakah?

Oleh: Nahdiyyah Fikrul Islam

Kementeri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto mengatakan kesehatan adalah pondasi ketahanan nasional suatu bangsa. Ia mengatkan bahwa sektor tersebut perlu diperhatikan betul.

Hal tersebut disampaikan saat memberikan pembekalan bagi dokter spesialis (Kamis, 23/1). Ia mengatakan kasus yang sedang terjadi di Kota Wuhan, China telah membawa pengaruh besar pada negara itu. Virus corona yang sudah membunuh 17 jiwa membawa dampak ekonomi luar biasa. Hal tersebut hendaknya menjadi perhatian bagi semua masyarakat untuk menjaga kesehatan karena dapat mempengaruhi berbagai hal, termasuk pertahanan nasional suatu bangsa. Apalagi, dalam waktu dekat China akan merayakan imlek yang diperkirakan berdampak pada sisi ekonominya. Hal itu juga ditandai saham-saham di China mulai turun.Terkait antisipasi dampak dari virus corona itu, Terawan mengatakan pemerintah telah menyiapkan fasilitas kesehatan. Hal itu termasuk rumah sakit khusus sebagai rujukan.Meskipun demikian, ia mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan dengan cara mencuci tangan dan menggunakan masker apabila batuk dan pilek. Terawan mengimbau masyarakat jangan panik karena dapat menimbulkan keresahan, terutama saat menerima informasi terkait virus corona yang masih simpang siur. Sebelumnya, Kementerian kesehatan menyatakan telah meningkatkan kesiapsiagaan mencegah dan menangani kemungkinan penyebaran virus corona ke wilayah Indonesia.

Semua tentu sepakat dengan perkataan Menteri Kesehatan. Terawan Agus tersebut bahwa kesehatan adalah salah satu bagian penting yang harus diperhatikan oleh suatu Negara. Sebab kesehatan rakyatnya adalah modal besar bagi Negara untuk menopang sektor kehidupan yang lain. Tentunya sehat menunjukkan sejahtera. Namun pernyataan-pernyataan Kemenkes Terawan tersebut bisa menimbulkan beberapa hal yang memunculkan dikritik.

Pertama, pernyataan Kemenkes Terawan untuk memberikan perhatian dengan sungguh-sungguh tentunya diharapkan bukan sekedar omdo dan harapan. Karena pada kenyataannya jutaan masyarakat Indonesia menunggu faskes yang terjangkau dan berkualitas internasional. Mampukah Negara menyelengarakannya? Bagaimana caranya? Sementara tarif BPJS justru dinaikkan terus dan mutunya itu-itu terus. Mampukah Pemerintah mendengar keluhan pelayanan kesehatan dan faskes yang terus dialami pesakit/pasien?

Kedua, Menteri Terawan bicara kesehatan di Indonesia, tetapi membawa contoh virus Korona di China. Betul sih, tingkat kesehatan yang buruk akan mempengaruhi kondisi perekonomian Negara. Sebab aktifitas ekonomi akan terganggu. China yang mengisolasi dua kota tentunya akan melumpuhkan semua aktifitas public dua kota tersebut. Dan Cuma dua kota kan? Dampak dari buruknya kesehatan bukanlah ekonomi melainkan bicara selamat dan tidaknya pasien ditangan para medis.

Pertolongan, nyawa dan keselamatan adalah masalah utama yang seharusnya menjadi fokus perhatian pemerintah dalam kesehatan bukan soal ekonomi.

Karena meskpun berdampak, tetapi tidak akan segenting urusan nyawa. Tidak bisa transaski offline, sekarang online sudah bisa. Kirim file penting bisa lewat email. Dan serangan virus juga diantisipasi dengan penawarnya. Malah menambah income bisnis penawar virus bukan? Jadi, tidak berdampak sangat besar dan tidak pada kategori akan membahayakan perekonomian yang berujung pada kebangkrutan. Tetapi kelihatannya, Kemenkes justru membawa kearah ekonomi bukan keselamatan nyawa manusia. Kenapa harus berfikir soal ekonomi yang utama? Betul-betul kapitalis.

Ketiga, pemerintah melalui pernyataannya telah menyiapkan antisipasi terhadap penyebaran virus corona yang sedang marak diperbincangkan saat ini di dunia. Kenapa pemerintah begitu responsif dan seperti latah untuk virus corona? Apakah pengidap corona mayoritas di negeri ini? Hingga begitu menjadi perhatian besar pemerintah dan menyiapkan rumah sakit khusus. Jika dikabarkan bahwa pengidap virus corona dan penyebarnya adalah warga China, lalu pelayanan khusus itu untuk siapa? warga China yang datang ke Indonesia? Aneh bukan, untuk rakyat yang nyata-nyata tidak mampu membayar sakitnya dan menebus obatnya bahkan juga tidak menular, tidak ada penanganan khusus tuh, misalnya bagi yang tidak mampu ada rumah sakit khusus, mudah dan murah. Nothing bukan? Bahkan jika dikabarkan pun virus corona dari kelelawar, Indonesia sudah lama mengenal makanan dari daging kelelawar di Minahasa. Tidak pernah ada yang terdengar kena virus corona. Virus itu juga kenapa baru lahir hari ini? jawabannya bukan takdir ya. Karena semua tentu terjadi dengan biiznillah. Namun ada andil manusia dalam merusak segala hal dibumi ini bukan?

Keempat, cukupkah penangkalan virus dengan cuci tangan dan memakai masker saja? Tentu harus ada edukasi yang benar untuk menjaga kesehatan.

Tidak sekedar cuci tangan, tetapi cuci tangan yang sesuai prosedur kesehatan dan masker yang sesuai standar kesehatan. Kalau soal cuci tangan dan masker tidak perlu disampaikan, masyarakat juga sudah tahu. Kemudian jika Menkes mengatakan jangan panik dan sudah diantisipasi, ya awes. Jangan diungkit-ungkit lagi. Tinggal jalankan dan beri edukasi ke masyarakat. Jangan sampai rakyat sibuk virus Corona kiriman China, tetapi melupakan muslim Uyhgur yang diisolasi di Kamp mereka. Ya, kalau bicara keimanan, setidaknya pemerintah China merasakan balasan balik atas perbuatannya karena menindas hak-hak warga Uyghur.

Dalam sistem kapitalisme ini memang aneh, fokus kerjanya selalu dalam perhitungan untung rugi. Rujukannya selalu aktifitas ekonomi. Padahal begitu banyak aspek kehidupan yang juga tidak benar untuk diabaikan. Urusan pemeliharaan kesehatan ya urusan kebijakan pemerintah bagaimana mengurusi rakyatnya dengan aturan yang benar memelihara kesehatan. Ekonomi jelas memiliki keterkaitan dengan kesehatan, tetapi dalam memeliharanya bukan pengobatan.

Sebab jika kondisi ekonomi bagus, masyarakat sejahtera, makanan juga terpelihara dari yang tidak dibutuhkan kesehatan tubuh. Hingga daya tahan tubuh (imun) masyarakat tetap memiliki kekebalan dan tidak mudah terserang penyakit. Lalu, dimana masyarakat akan menemukan sistem kehidupan yang bisa memahamkan pentingnya kesehatan dengan kesadaran dan bagian dari kewajiban Negara untuk menyelenggarakan faskes yang murah dan mudah?

Sistem itu hanya ditemukan dalam sistem Islam. Sistem yang memahami bahwa kesehatan adalah bagian dari hak pokok masyarakat yang harus dipelihara dengan benar. Faskes harus mudah secara adminstrasi dan murah dalam biaya. Tidak boleh diberatkan dan di kasta-kasta menurut kondisi ekonomi.

Karena itu termasuk kedzaliman. Sistem Islam di bawah naungan Kekhilafahan selama lebih 13 abad telah berhasil memiliki sistem kesehatan yang termasyhur dan terbaik di zamannya.

Bagaimana tidak? Aturan islam yang diterapkan dalam Negara, membuat individu dan masyarakat saling mengamalkan ajaran Islam. Baik diri maupun keluarga dan lingkungan. Makanan yang distandar pada halal dan toyyib. Negara juga mengontrol makanan yang masuk ke Negara jangan sampai membawa penyakit pada rakyat. Tidak boleh sembarangan masuk. Tidak perlu lebel halal karena Negara langsung yang menerapkan hukum halal-haram. Semua terjaga dan terkontrol.

Masyarakat juga aktif menjaga Negara dan lingkungan. Jika ada yang melanggar aturan langsung dilaporkan demi pencegahan dan memberi efek jera pelaku. Dalam kurun waktu per dua tahun, hanya ada 20 pesakit yang ditanagani dokter. Bahkan seorang doketr pernah kembali ke provinsi asalnya karena ditempat tugasnya hampir tidak ada yang berobat. Sebab semua masyarakatnya memahami Islam dengan baik ditopang Negara. Tentunya Negara itupun dalam kondisi ekonomi terbaik.

Menkes Terawan memang sudah sigap menyiapkan pencegahan. Secara teknis tentu ia tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi sebenarnya untuk isu yang tidak terlalu penting haruskah sereaktif itu? Sementara masyarakat pesakit terbanyak bukanlah pengidap corona bahkan belum ada ketarangan laporan jelas jumlah atau bahkan ada tidaknya terinfeksi. Harusnya Negara fokus saja pada pesakit yang ada saat ini dan melayaninya dengan bijaksana dan amanah bukan menambah sakit dengan menaikkan beban premi. Karena beban ekonomi rakyatpun sudah tidak mampu ditanggung lagi beratnya. Masalah kesehatan akan terus jadi polemik dan masalah sampai kesehatan dibina sesuai aturan Islam. Apa susahnya menerima aturan Islam untuk menyelesaikan problem negeri ini? Demi kebaikan dan keselamatan bersama dan mengharap berkah dari yang Maha Kuasa, why not!.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *