Kemenangan Biden : Akankah Nasib Umat Islam Berubah?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh Rifdatun Aliyah (Aktivis Dakwah Nganjuk)

Pemilu (Pemilihan Umum) Presiden AS ke-46 telah usai. Berdasarkan proyeksi media AS, Joe Biden dinyatakan menang atas Presiden petahana Donald Trump. Sepak terjang Biden dalam kampanye sebelum Pemilu dilaksanakan nampaknya membuahkan hasil.

Dalam kampanye, Joe Biden berjanji kepada umat muslim akan perlakukan agama Islam sebagaimanamestinya (jakbarnews.pikiran-rakyat.com/07/11/2020). Janji inilah yang membuat sebagian muslim bersimpati dan manaruh harapan kepada Biden.

Bahkan pada hari pertama masa kepresidenannya, presiden terpilih Biden berjanji akan mencabut larangan perjalanan pada pelancong dari 13 negara, yang sebagian besar negara mayoritas Muslim atau Afrika (wartaekonomi.co.id/10/11/2020). Lalu, akankah nasib umat Islam di dunia berubah dengan pergantian Presiden AS ini?

Sebagai negara pengemban ideologi kapitalisme, AS tentu akan tetap mengutamakan faktor ekonomi dalam aktivitas negaranya. Hubungan kerja sama yang dilakukan dengan negara-negara berkembang termasuk negeri-negeri Muslim tidak akan jauh dari prinsip ekonomi kapitalis yang diembannya. Biden telah merancang kegiatan perdagangan dengan negara lain khususnya dengan Indonesia untuk meningkatkan ekonomi AS. Dia akan menaikkan standar local content yang saat ini 51% untuk produk Made in America (cerdikindonesia.pikiran-rakyat.com/09/11/2020).

Sehingga nampak jelas bahwa hubungan kerja sama Biden dengan negara-negara berkembang hanya akan menjadikan negera tersebut sebagai sasaran untuk tetap menjadikan AS sebagai pemilik hagemoni perekonomian dunia yang kini sedang bersaing dengan China. Hal ini sesuai dengan fakta yang terjadi di Indonesia dimana rakyat tetap menderita meski pemerintah melakukan hubungan kerja sama dengan negara adidaya.

Meskipun pemerintah berdalih hubungan tersebut untuk menaikkan laju perekonomian, namun faktanya kerja sama tersebut hanya menguntungkan elit politik dan para kapitalis baik dari pihak swasta maupun asing atau aseng. Oleh karena itu, tidaklah patut umat Islam berharap kepada sistem kapitalisme dan juga negara serta para pengembannya.

Umat Islam seharusnya berkaca dan kembali kepada sistem Islam yang telah mendapatkan jaminan berkah dan rahmat dari Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (TQS. Al A’raf : 96).

Penerapan syariat Islam merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Allah SWT juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu” (TQS. Al Baqarah : 208).

Penerapan syariat Islam yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam institusi negara Islam yang kemudian dilanjutkan oleh kepemimpinan Khulafaur Rasyidin dan para Khalifah telah mampu membawa kaum muslimin kepada derajat kemuliaan. Tak hanya itu, perkembangan ilmu, sains dan teknologi yang dikembangkan para ilmuwan muslim telah membawa cahaya peradaban manusia secara global. Bukankah setiap muslim merindukan ketenangan dan ketenteraman hidup? Maka semua itu hanya dapat diraih dengan penerapan sistem Islam dalam segala aspek kehidupan yang dijalankan oleh muslim bertakwa dalam naungan negara Islam yakni Khilafah Islamiyah.

Allahu a’lam.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.