Kemelut di Balik 1 Triliun Dolar

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh Sumiyah Ummi Hanifah (Member AMK dan Pemerhati Kebijakan Publik)

 

Nama Kelompok Mujahidin Taliban kembali mengudara setelah hampir 20 tahun tersingkir dari Afghanistan. Hal ini tidak lain disebabkan karena organisasi yang dibentuk pada September 1994 ini berhasil mengambil alih pucuk pimpinan tertinggi di Afghanistan. Peristiwa ini ditandai dengan hengkangnya Amerika Serikat (AS) dari negeri tersebut. Banyak pihak yang mencurigai tindakan Amerika yang memilih angkat kaki dari Afghanistan, mengingat Amerika Serikat selama ini dikenal sebagai salah satu negara adidaya yang sangat berambisi untuk mencaplok kekayaan alam negeri-negeri kaum Muslimin.

Pertanyaan yang muncul adalah, ada apa di balik penarikan pasukan Amerika dari Afghanistan? Bukankah keinginan Amerika Serikat untuk menguasai kekayaan alam di Afghanistan belum tercapai? Di sisi lain, perpindahan kekuasaan ke tangan Taliban ini berhasil menguak fakta yang mencengangkan. Bahwasanya negeri yang selama ini dicap sebagai salah satu negara termiskin di dunia, ternyata memiliki kekayaan alam mineral yang spektakuler. Sayangnya, kekayaan alam tersebut belum dapat dimanfaatkan untuk kepentingan rakyatnya. Yang terjadi justru sebaliknya, menjadi incaran negara-negara barat yang terkenal rakus dan tamak.
Peperangan dan konflik berkepanjangan, yang telah menelan banyak korban, telah menjadikan Afghanistan hancur dan terpuruk. Namun, dengan adanya fakta yang baru terkuak ini, Afghanistan disebut-sebut akan menjadi negara paling kaya. Konon, potensi ekonomi negara itu mencapai 1 Triliun dolar AS atau setara dengan Rp14.000 Triliun (kurs. Rp14.000). Sebelumnya pada tahun 2010, seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa Afghanistan memiliki cadangan mineral alam melimpah, yang tentunya akan mampu mengubah ekonomi negara tersebut. Hal tersebut mengacu pada melimpahnya logam mulia (lithium) di wilayah Afghanistan, yang semakin hari semakin dibutuhkan dunia. Lithium ini digunakan sebagai pembuatan baterai dan elektronik. (radarsukabumi.com, Sabtu, 21/8/2021).

Oleh karena itu, dengan kekayaan alam yang fantastis ini, sangat wajar jika sejak dulu Afghanistan selalu menjadi rebutan. Adanya pergantian kekuasaan ke tangan Taliban, membuat rahasia kekayaan alam yang melimpah menjadi tersingkap. Namun, benarkah Taliban akan dengan mudah mengelola dan memanfaatkan kekayaan alam tersebut untuk kepentingan rakyat Afghanistan? Atau mungkin ada pihak lain yang justru ingin “memancing ikan di air keruh.” Yakni pihak ketiga yang juga ingin memanfaatkan situasi ini untuk ikut mengeruk kekayaan alam di negeri itu.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu melihat lagi ke belakang. Sebab, ternyata di sana masih ada China dan Rusia yang juga ikut “antre,” sama-sama ingin mencaplok kekayaan alam di negeri itu. Bahkan beberapa pihak menilai, tindakan Amerika Serikat yang angkat kaki dari Afghanistan itu pun semata karena memiliki maksud terselubung.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla. Beliau menilai, negara adidaya Amerika sengaja meninggalkan negeri jajahannya, agar di sana terjadi perang saudara. Sepertinya Amerika menduga, bahwa setelah menarik pulang tentaranya, maka di negeri itu akan terjadi perang saudara. Yaitu antara milisi Taliban dengan tentara Afghanistan yang selama ini telah dilatih Amerika. Namun faktanya tidak demikian. Tentara Afghanistan yang merupakan boneka Amerika tersebut memilih pergi meninggalkan Kabul, Ibukota Afghanistan. Mereka tidak ingin berperang melawan saudaranya sendiri. (liputan6.com, Sabtu, 21/8/2021).

Dari laman republika.co.id, pada Kamis,19/8/2021, menyebutkan pengambil Alihan Afghanistan oleh Taliban seolah memperlihatkan kebersamaan Rusia dan China. Hal ini sangat mungkin, faktanya hingga saat ini China masih mewaspadai kehadiran AS di Afghanistan. Selain itu China tentu berharap dapat mengisi “kekosongan” akibat penarikan pasukan Amerika Serikat. Apalagi yang diincar oleh negara tirai bambu itu, kalau bukan sumber daya alam Afghanistan yang menggiurkan. Bagi China, kehadiran AS diibaratkan seperti “mimpi buruk strategis yang besar.”

Pertarungan memperebutkan kekayaan alam senilai hampir 1 Triliun Dolar AS ini akan terus terjadi di bumi Afghanistan. Bahkan terjadi di seluruh negeri-negeri kaum muslimin. Sebab, kaum kapitalis tidak akan pernah membiarkan umat muslim hidup tenang, damai dan sejahtera. Sejarah telah mencatat bagaimana Amerika dan sekutu-sekutunya membumihanguskan Palestina, Suriah, dan negeri-negeri kaum muslimin lainnya. Mereka membantai umat Islam dengan tuduhan memerangi radikalisme dan terorisme. Padahal, siapa yang sesungguhnya lebih pantas disebut teroris?

Lihatlah, bagaimana mereka telah secara terang-terangan menunjukkan sikap memusuhi Islam. Dengan segala macam cara mereka terus memusuhi dan melakukan tipudaya terhadap Islam. Telah nyata kebencian mereka terhadap umat Islam dan ajarannya. Faktanya, Rusia sebagai negara yang berpaham sosialisme-komunisme, menyatakan niatnya untuk memerangi terorisme. Mereka pun secara tegas menyatakan bahwa Taliban adalah kelompok terorisme. Ini merupakan salah satu bukti bahwa negara-negara kafir harbi sangat membenci Islam. Usaha adudomba terus mereka langgengkan.

Sedangkan China dengan akal bulusnya ingin mencegah apa yang disebut “radikalisasi Islam” di negaranya. Sehingga berusaha menggaet Taliban, dengan maksud untuk meminta pertolongan. Apapun alasannya semua negara kafir harbi tidak boleh dijadikan sebagai teman kepercayaan.

Firman Allah,
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat (Kami), jika kamu mengert.” (TQS. Ali-Imran [3]: 118)

Perampokan sumber kekayaan alam milik umat Islam akan terus terjadi, apabila umat Islam tidak memiliki seorang Khalifah (pemimpin negara Islam). Khalifah adalah “junnah” (pelindung umat) yang akan menerapkan hukum-hukum Islam di seluruh penjuru dunia. Khalifah adalah perisai yang akan melindungi seluruh jiwa, raga, dan harta umat Islam dari pihak manapun. Umat Islam hendaknya menerapkan sistem pemerintahan Islam (Khilafah), agar memperoleh keridaan dan juga pertolongan dari Allah Swt. Dengan Khilafah, pemimpin negara akan mengomando para tentara Islam untuk melawan musuh-musuh Allah. Dengan bersatunya umat Islam dalam ukhuwah Islamiyyah, kemenangan akan ada di depan mata. Insya Allah.
Wallahu a’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.