Kekerasan Pelajar Berujung Kriminalitas

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Nur Aisyah

 

Kasus kekerasan pelajar kembali terjadi. Seorang pelajar di Kota Bogor tewas diserang segerombolan pelajar, Rabu 6 Oktober 2021. Polresta Bogor Kota mengamankan setidaknya enam tersangka yang melakukan kekerasan terhadap korban dengan menggunakan senjata tajam.

Ketua Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) wilayah Kota Bogor Dudih Syiarudin mengaku cukup prihatin dengan kejadian tersebut. Terlebih kejadian ini terjadi pada awal pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

Tak hanya di Bogor, dikota lain pun kekerasan terjadi seperti di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (12/10) dini hari polisi yang membubarkan tawuran pemuda dilempari bom molotov.

Kasus kekerasan pada remaja kian hari kian memprihatinkan. Motif para pelajar yang terlibat tawuran banyak karena alasan sepele. Bahkan ada yang memang sengaja janjian untuk melakukan tawuran dengan membawa senjata tajam.

Inilah potret buram remaja saat ini. Dimana seharusnya mereka sibuk belajar dan merangkai cita-cita masa depan. Tapi malah terkurung pada tindakan yang kurang beradab hingga melakukan tindak kriminalitas. Karena banyak kasus kekerasan (tawuran) berujung korban tewas.

Pelajar seolah kehilangan tujuan hidupnya. Tak memiliki jati diri. Terombang ambing terbawa arus liberalisme yang menyesatkan. Untuk itu perlu perbaikan yang revolusioner terhadap pola pikir dan pola sikap para pelajar. Dengan menanamkan aqidah islam agar memiliki keimanan yang kuat kepada Allah dan Rosululloh.

Pemikiran yang dilandasi oleh keimanan yang kuat akan membentuk pandangan yang benar tentang tujuan hidup didunia. Kemudian terbentuklah kesadaran bahwa hidup didunia untuk beribadah kepada Allah. Lalu akan menghasilkan pola sikap dalam setiap perbuatan yang terikat dengan hukum syara.

Jadi ketika para pelajar terjebak dalam lingkungan yang buruk. Mereka akan menolak untuk tidak terlibat. Karena jelas Allah membenci orang yang melakukan kekerasan tanpa sebab apalagi sampai ada korban tewas.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah melarang dengan firman-Nya:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allâh (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. (Q.S. al-Isrâ`ayat 33).

Bukan sekedar dosa besar, bahkan membunuh jiwa manusia dengan tanpa haq (tanpa alasan yan dibenarkan syari’at) termasuk dosa-dosa besar yang bisa membinasakan.

Pelajar adalah generasi penerus dimana Allah menyebutnya sebagai Ummat terbaik. Allah berfirman

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (Q.S. Ali Imran ayat 110)

Ketika islam menjadi pola pikir dan pola sikap, akan terbentuklah generasi yang beradab mulia. Yang menjadikan kecintaan kepada Allah diatas segalanya. Dan menjadikan tujuan hidupnya hanya untuk meraih ridho ilahi. Terwujudlah umat terbaik sebagaimana firman Allah SWT diatas. Wallahu’alam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.