Kegagalan Peran Perempuan Tanpa Naungan Islam

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Yauma Bunga Yusynanada (Anggota Komunitas Ksatria Aksara Kota Bandung)

 

The International Women’s Day yang diperingati setiap tahun pada tanggal 8 Maret, untuk tahun 2021 peringatan tersebut mengusung tema Choose to Challange yang artinya memilih untuk menantang bisa disaksikan pada doodle mesin pencarian Google merayakannya dengan menampilkan ilustrasi tangan yang saling berpegangan dengan jika di klik akan memunculkan video animasi ragam peran perempuan dari akademisi hingga wirausahawan perempuan dalam berbagai penghargaan. Tema tersebut bermakna menantang dan menyerukan tentang ketidaksetaraan gender dan ajakan untuk merayakan pencapaian perempuan di dunia hingga saat ini. (tirbunnews.com 08/03/2021)

Setiap tahunnya perayaan Hari Internasional Perempuan memang menyuarakan rasa diperlakukan tidak setara sebagai perempuan terhadap laki-aki, dari mulai kemunculannya di tahun 1900-an hingga saat ini. Hari Perempuan Internasional juga ditetapkan sebagai hari libur resmi di banyak negara, seperti Afghanistan, Armenia, Azerbaijan, Belarus, Burkina Faso, Kamboja, China (khusus perempuan), Kuba, Georgia, Guinea-Bissau, Eritrea, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Laos, Madagaskar (khusus perempuan), Moldova, Mongolia, Montenegro, Nepal (khusus perempuan), Rusia, Tajikistan, Turkmenistan, Uganda, Ukraina, Uzbekistan, Vietnam, ( kompas.com 07/03/2021)

Perempuan fitrahnya adalah makhluq yang dihormati dan dijaga. Namun, saat ini fitrah perempuan sudah kehilangan arahnya. Bahkan diri mereka sendiri sebagai perempuan, kurang memahami dirinya dengan apa yang harus mereka jaga. Maksud dari harus dihormati dan dijaga adalah dijauhkan dari eksploitasi dan pelecehan atas diri mereka. Salah satu contoh kasusnya adalah dengan adanya iklan dengan barang yang tidak ada kaitannya dengan perempuan, tetapi masih menampilkan model perempuan didalamnya, seperti produk rokok, ban kendaraan, oli, dan lain sebagainya. Karena manusia memiliki sifat ingin diakui serta sifat perempuan yang senang dipuji, maka apapun pekerjaan saat ini dengan himpitan ekonomi ditambah dengan beban masa pandemi, perempuan tidak ragu lagi untuk mengambil pekerjaan yang sudah tidak menjaga dan menghormati dirinya sebagai perempuan.

Inilah jebakan zaman, saat manusia seolah mengetahui tentang diri mereka sendiri. Adanya hari peringatan untuk perempuan secara internasional sejujurnya hanya obat yang tak memberi kesembuhan, selama akar dari penyakitnya tidak kunjung dicabut.  Yaitu saat aturan kehidupannya bukan berasal dari Pencipta Perempuan dan seluruh alam.

Saat kita berlepas dari aturan pencipta yang sudah mengetahui detail kekurangan dan kelebihan kita, maka tunggulah kehancurannya. Sudah saatnya kita kembali dengan memahami bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang senantiasa bengkok, dan jika diluruskan akan patah. Perempuan hanya perlu dinasehati dengan baik, serta merekalah partner hidup bukan selayaknya majikan dan tuan, namun sebagai sahabat para suami tujuan perempuan ada dan ciptakan.

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu sholat maka beliaupun pergi shalat” (HR Bukhari).

Maka bisa disimak dari hadits tersebut, seorang teladan sempurna bagi umat manusia saja menjadi teman untuk saling membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah istrinya. Darisana, kita mampu memahami bahwa peran perempuan bukan seperti gambaran mengerikan yang terjadi saat ini. Perempuan digambarkan sebagai independent woman, penyambung nafkah keluarga, wanita karir yang bekerja, yang seolah-olah perempuan sukses adalah gambaran tersebut. Namun, kenyataannya itu adalah gamabaran yang mengerikan jika perempuan kebanyakan lalai membimbing generasi keturunan mereka untuk memenuhi nfasu pribasi menjadi individu yang sukses. Dari perempuan, satu generasi bisa terbimbing dan terurus karena perubahan dibutuhkan satu generasi bukan sekedar satu individu.

Dari hari Perempuan Internasional kita menyadari bahwa peringatan ini adalah tanda kegagalan saat aturan manusia tidak mampu memberi rasa tenang dan adil bagi perempuan dalam menjalankan perannya, sehingga ada tumpang tindih antara peran yang satu dengan yang lain. Hanya Islam yang harus dipelajari dengan komprehensif dan praktek bernegara, karena konsep Islam mampu menjaga martabat perempuan hingga 14 abad lamanya dibawah naungan institussi Islam bernama KhIlafah. Dalam Khilafah Islamiyyah, perempuan dan laki-laki memiliki bagian pahalanya masing-maing dengan cara yang Allah inginkan, karena dalam Khilafah penerapan syariat yang dirindukan bisa diterapkan secara kaffah. Semoga ummat segera sadar dan hendak berjuang, sesungguhnya peran perempuan hanya bisa seimbang dengan memperjuangkan kemenangan Islam.

“Dan barang siapa mengerjakan amal saleh, baik lelaki atau perempuan, sedang dia beriman, mereka akan masuk surga dan mereka pula tidak akan dianiayai (atau dikurangkan balasannya) sedikit pun.” (QS sn-Nisa [4]: 124).

Aamiin, Allahu musta’an.

Wallahua’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.