Kebutuhan Pokok Naik, Rakyat Kembali Tercekik.

Oleh: Hamsia (Pemerhati umat)

Keadaan rakyat kecil kini semakin terhimpit, harga-harga kebutuhan bahan pokok terus naik dengan harga yang sangat luar biasa. Membeli mahal, menjual murah, itulah keluhan yang saat ini mereka rasakan.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Wakotobi, harga kebutuhan bahan pokok terus mengalami kenaikan, sejak mewabahnya virus corona di luar negeri, bahkan di Indonesia. Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Wakotobi, Safiuddin mengatakan harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan sejak Januari 2020, namun signifikan lonjatannya pada minggu yang lalu.

“Sebelumnya harga beras perkarung 50 kilo gram bermain di angka Rp 520 ribu sampai Rp 530 ribu, tapi sekarang Rp 550 ribu perkarung. Hal ini dikarenakan belum musim panen. Diperkirakan bulan April harga beras akan kembali turun.”

Yang tidak kalah fantastik adalah kenaikan harga gula, Menurutnya “pada Februari 2020 harga gula curah (Eceran, red) Rp 13 ribu perliter, sekarang Rp 15 ribu perliter. Penyebab tingginya harga jual gula dikarenakan distributor mengalami kekosongan karena saat ini baru mau musim panen. Bawang putih juga mengalami lonjakan, dimana pada Februari harga bawang putih Rp 35 ribu perkilo, namun sekarang Rp 70 ribu perkilo. “Harga bawang putih mahal karena kebanyakan impor dari China. Kita tau sendiri sekarang ada wabah corona, sehingga bawang putih mengalami kenaikan”. Ungkapnya, Rubrik Suara Wakatobi, Senin (16/03/2020)

Sistem Kapitalis, Biang Keroknya
Sesungguhnya, naiknya harga bahan pokok ini bukan hanya karena adanya Covid-19 ini, tapi karena sikap pemerintah yang selalu doyan impor, padahal negara kita adalah negara agraris yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah, tapi pemerintah abai terhadap hal itu. Mereka lebih doyang membeli barang-barang dari negara asing.

Alhasil, akibat dari kebijakannya itu sekarang masyarakat kecil mulai meresahkannya, karena adanya virus ini berbagai kebutuhan pokok merangkak naik. Rumah tangga yang punya penghasilan rendah yang tidak mesti sungguh sangat membuat mereka resah, bagaimana tidak diantara kewaspadaan terhadap virus, larangan untuk keluar rumah membuat mereka semakin tidak berdaya. Mereka nekat keluar rumah untuk memenuhi tugas mereka sebagai pencari nafkah, dan rasa nekat yang mereka lakukan terkadang tidak membuahkan hasil. Semua lokasi terasa sepi akan pengunjung. Akhirnya, keadaan ini membuat mereka semakin pusing, ditambah lagi harga bahan pokok yang semakin mahal.

Sekarang bahan pokok sudah mulai naik dengan harga yang sangat luar biasa, padahal bulan Ramadhan belum datang. Kini sama-sama kita pahami bahwa kenaikan harga bahan pokok dibulan ramadhan sudah menjadi kebiasaan yang sudah tidak bisa dihindari, alhasil para ibu rumah tangga mulai kebingungan dengan kenaikan harga bahan pokok tersebut.

Sesungguhnya kebijakan pemerintah di sektor pertanian dan perdagangan yang amburadul terbukti telah membuat Indonesia yang notabene sebagai negara agraris ini terus menerus dihantui lonjakan harga kebutuhan pangan.

Rakyat kecil yang bekerja sebagai petani hanya merasakan pahitnya dari sistem ekonomi kapitalis. Para petani dan pedagang selalu disalahkan karena kenaikan harga bahan pokok. Para konsumen pun juga dirugikan karena adanya kenaikan harga bahan pokok.

Menurut sistem kapitalis kenaikan harga tersebut dapat disebabkan karena mengalami kekurangan stok kebutuhan pangan. Karena seperti kita ketahui, bahwa kebijakan pemerintah adalah doyan impor. Alhasil, inilah sekarang yang kita rasakan. Negara ini masih menjalankan sistem kapitalisme dimana tujuan dari sistem kapitalisme yakni memberi jalan tol kepada para kapitalis atau pemilik modal.

Sehingga, rakyat dijadikan sumber penghasil uang bagi mereka dan negara yang mengembang ideologi ini akan menjadi sarana untuk memuluskan jalan bagi usaha mereka. Mereka sadar bahwa setiap kebutuhan yang menyangkut hidup orang banyak merupakan ladang yang harus dikeruk habis. Karena menghasilkan materi yang melimpah. Karena itu para kapitalis berusaha menancapkan ideologi mereka kepada negara yang mengembannya agar negara tersebut bisa dikendalikan sesuai dengan keinginan mereka.

Islam Memandang
Dalam pandangan Islam, sektor pertanian merupakan salah satu sumber primer ekonomi disamping perindustrian, perdagangan dan tenaga manusia (jasa). Dengan demikian pertanian merupakan salah satu pilar ekonomi yang apabila permasalahan pertanian tidak dapat dipecahkan, dapat menyebabkan goncangnya perekonomian negara, bahkan membuat suatu negara menjadi lemah dan berada dalam ketergantungan pada negara lain.
Seyonginya, kebijakan pangan dalam negara Islam harus dijaga dari unsur dominasi dan dikte negara asing, serta dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan kedepan, bukan semata-mata target produksi sebagaimana dalam sistem kapitalisme.

Di sisi lain, akibat penyimpangan ekonomi dari hukum-hukum syariah Islam, seperti terjadinya ikhtikar (penimbungan), permainan harga , hingga liberalisasi yang menghantarkan kepada ‘penjajahan’ ekonomi.

Ketika melambungnya harga karena faktor yang menyebabkan kelangkaan barang, maka disamping umat dituntut bersabar. Islam juga mewajibkan negara utuk mengatasi kelangkaan tersebut dengan mencari suplay dari daerah lain. Jika seluruh wilayah dalam negeri keadaannya sama, maka bisa diselesaikan dengan kebijakan impor tentu dengan masih memperhatikan produk dalam negeri.

Namun, jika melambungnya harga disebabkan pelanggaran terhadap hukum-hukum syariah, maka penguasa harus turun tangan mengatasi hal tersebut agar tidak terjadi. Dikisahkan, Rasulullah saw dalam posisinya sebagai kepala negara sampai turun sendiri kepasar untuk melakukan inspeksi agar tidak terjadi penipuan harga maupun penipuan barang atau alat tukar, beliau juga melarang penimbunan. Khalifah Umar bahkan melarang orang yang tidak mengerti hukum fikih (terkait bisnis) dari melakukan bisnis. Para pebisnis secara berkala juga pernah diuji apakah mengerti hukum syara terkait bisnis ataukah tidak. Jika tidak paham mereka dilarang berbisnis. Hal ini dilakukan karena setiap kemaksiatan terkait ekonomi, akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan ekonomi.

Pemerintah juga harus memaksimalkan upaya dan antisispasi dengan entensifikasi pertanian sehingga negara tidak boleh kosong dari riset dan penemuan baru di bidang pangan.

Bahkan, pemerintah seharusnya memberikan perhatian terhadap sarana dan prasarana yang menunjang distribusi hasil pertanian misalnya penyediaan alat transportasi yang memadai serta perbaikan infrastruktur jalan karena pertanian merupakan salah satu pilar ekonomi negara.

Karena itu, satu-satunya solusi untuk semua kenaikan harga bahan pangan yang terus menerus terjadi adalah dengan menerapkan sistem Islam secara menyeluruh, sehingga sistem perekonomian pun dapat berjalan dengan lancar. Wallahu a’lam bishowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *