KASUS BLOK WABU, SAATNYA MENATA SDA DENGAN ISLAM

Oleh : Farida widiyanthi, SP

 

Blok Wabu di Intan Jaya, Papua, yang menjadi rebutan para pengusaha diduga memiliki potensi kandungan emas yang lebih besar dari tambang Gasberg milik Freeport Indonesia. Berdasarkan dari data Kementrian ESDM 2020, Blok Wabu menyimpan potensi sumberdaya 117.26 ton bijih emas dengan rata-rata kadar 2,16 gram per ton (Au) dan 1,76 gram perton perak. Peneliti Alpha Research Database Ferdy Hasiman mengatakan nilai potensi ini setara dengan  US$14 miliar atau nyaris Rp300 triliun dengan asumsi harga emas US$1.750 per troy once. Sementara itu, setiap 1 ton material bijih mengandung logam emas sebesar 2,16 gram. “Ini jauh lebih besar dari kandungan logam emas material bijih Gasberg milik Freeport Indonesia yang setiap ton materialnya hanya mengandung 0,8 gram Emas” Ujar Ferdy, dikutip dari tempo.

Blok Wabu telah dikembalikan oleh PT Freeport Indonesia ke pemerintah secara resmi saat penandatanganan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) pada tanggal 21 September 2018. Dengan demikian, blok dengan potensi sumberdaya sebanyak 8,1 juta troy ounce itu sudah bukan lagi wilayah Freeport. Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia, Tony Wenas, menegasakan bahwa pihaknya sudah tidak memiliki kepentingan apa-apa lagi di Blok Wabu. “Kami sudah tidak punya kepentingan apa-apa lagi di Blok Wabu karena sudah kita serahkan lagi ke Kementrian ESDM dan sudah dinyatakan dalam IUPK kita, wilayah tambang PTFI 9.900 hektare,” kata Tony saat berdiskusi dengan para pimpinan media massa, Selasa (21/9).

Fakta blok Wabu yang berpotensi hasilkan emas dan menjadi incaran banyak korporasi harusnya menyadarkan kita bahwa pengelolaan oleh swasta sebagaimana telah terjadi pada freeport tidak memberi maslahat pada rakyat dan bahkan seperti menyerahkan aset publik untuk diambil hasilnya oleh swasta/asing. Rakyat hanya mendapat remah-remahnya  dari sumberdaya yang begitu besar. Padahal Allah menganugerahkan, memberikan dan menciptakan sumberdaya tersebut untuk memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya bukan untuk kemaslahatan korporasi swasta saja.

Bgaimana pandangan dalam Islam

Islam membagi tiga pilar dalam kepemilikan, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Kepemilikan umum terdiri dari, barang kebutuhan umum, barang tambang yang besar, dan sunberdaya alam, yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki individu. Barang tambang yang besar atau tidak terbatas jumlahnya, tidak mungkin dihabiskan, adalah termasuk kepemilikan umum. Sesuai dengan hadis “Sesungguhnya ia pernah meminta kepada Rasulullah SAW untuk mengelola tambang garamnya. Lalu beliau memberikannya. Setelah ia pergi ada seorang dari majelis tersebut bertanya.”wahai Raselullah, tahukah engkau, apa yang engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (ma’ul-‘iddu), kemudian Rasulullah bersabda:”Tariklah tambang tersebut darinya”. (HR.At-Tirmidzi). Larangan bagi individu ataupun swasta untuk memiliki industri yang menghasilkan kepemilikan umum diharapkan dapat menghentkan nafsu kapitalisme dalam mengeksploitasi berbagai kepemilikan umum, yang menguasai hajat hidup orang banyak, karena dkhawatirkan membahayakan dan merusak kehidupan masayrakat.

Pandangan Islam mengenai barang tambang yang jumlah besar adalah kepemilikan umum, artinya dengan tata kelola islam, negara bertanggungjawab penuh terhadap pemenuhan terhadap seluruh hak-hak rakyat nya. Negara harus bisa menjamin keamanan bagi setiap warganegaranya, bisa memberikan Pendidikan yang layak dengan gratis kepada seluruh rakyatnya, serta dapat memberikan  jaminan Kesehatan yang layak bagi setiap warga negaranya. Diharapkan dengan pandangan sistem ekonomi islam yang seperti ini, kesejahteraan masyarakat dapat merata dan tidak terjadi ketimpangan ekonomi bagi sebagian masyarakat. Tidak terjadi bias jurang yang tinggi antara yang yang memiliki kekuatan harta dan jabatan dengan masyarakat umum yang sulit untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-harinya. Bukan hanya pemerataan kesejahteraan saja namun juga kita InsyaaAllah akan mendapatkan ridha Ilahi.

Walahua’lam bissawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *