Kashmir: Normalisasi Atau Semakin Diintervensi?

Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam (Dosen dan Pengamat Politik)

SRINAGAR– Kondisi kehidupan di Kasmir merangkak menuju normal kembali. Hal ini dilihat dari sekolah-sekolah yang kembali dibuka yang sebelumnya sempat ditutup selama 3 bulan. Pengelola sekolah memutuskan untuk membuka kembali sekolah dan menyuruh semua pelajar untuk datang tanpa mengenakan baju seragam.

Pada saat kondisi ricuh, sekolah –sekolah umum dijadikan sekolah privasi oleh para pengelola. Namun sekarang, sudah kembali seperti biasa tetapi dibuka hanya dari jam 10.00 – 01.00 siang waktu India. Ditambah sarana transportasi umum kini mulai beroperasi sepanjang kota dan juga bahkan telah menjangkau antar perkampungan di luar kota Srinagar. Pasar dan took –toko kembali dibuka. Namun untuk transportasi kereta api dari dan keluar wilayah Kashmir belum beroperasi dengan alasan keamanan.

Meskipun demikian, pejabat setempat juga mengatakan, tahanan-tahanan pemimpin partai politik dan pejabat wilayah istimewa Kashmir masih menjadi tahanan rumah, seperti Mehboba Mufti dan omar Abdullah. Gerakan –gerakan teroris masih tetap diwaspadai, oleh karena itu akses komunikasi internet belum dikoneksikan normal. Masih menunggu keputusan pusat pemerintahan India. (news18.com, Selasa 19/11/2019)

Kabar kondisi normalnya kembali wilayah Kashmir memang sedang dinanti-nanti oleh kita, khususnya warga Kashmir sendiri yang berada di luar wilayah Kashmir. Memikirkan nasib keluarganya yang masih tinggal disana pasca pemboikotan pemerintah India selama kurang lebih 3 bulan. Berita normalisasi jelas membawa harapan bagi warga disana. Hanya saja, harus dijelaskan dengan benar kondisi Kashmir hari ini pasca pencabutan artikel 370 yaitu menghapuskan hak istimewa Kahsmir semakin kondusif ataukah justru semakin di intervensi?

Normalisasi yang Tak Normal

Meskipun sudah beberapa media lokal India memberitakan kondisi Kashmir mulai normal, namun faktanya belum ada koneksi internet yang membuat dunia bisa tahu dengan jelas seperti apa normal menurut pemerintah India. Jika hanya sekedar membuka sekolah, mengoperasikan transportasi umum, dan merumahkan pejabat atau pemimpin partai, ini bukan normalisasi. Normalisasi itu berarti memebrsihkan semua hal-hal yang membuat warga Kashmir resah dan tidak bebas melakukan apapun untuk kemajuan wilayah Kashmir. Tentara tentara dan polisi India masih terus eksis ditempatkan di seluruh wilayah Kashmir. Tak ada perkampungan di Kashmir yang luput dari pantauan militer India. Meskipun jauh dari perbatasan Pakistan.

Sekolah tidak perlu membatasi pelajar datang jika menag sudah normal. Karena belajar itu kapan saja harusnya bisa dilaksanakan. Pembatasan jam sekolah bukan karena alasan yang tepat, tapi lebih kepada “rasa takut” yang masih ada pada diri setiap warga muslim Kashmir. Kalau betul siatu telah normal, maka biasanya Kashmir akan didatangi turis mancanegara. Namun hingga minggu lalu, baru ada satu keluarga dari Eropa yang berani berkunjung ke Kashmir. Setelah sebelumnya, lebih dari 1000 touris telah angkat kaki dari Kashmir akibat konflik. Bahkan pemuda – pemuda muslim Kashmir yang berada di camp militer India yang jumlahnya mencapai 3000 orang belum ada kabar telah dibebaskan. Yang ada, tetap berita penindasan bagi siapapun yang melawan tentara di India di Kashmir.

Akses internet yang masih diputus dan di stop kecuali bagi mereka yang punya harta atau pejabat. Denan teknologi broadbrand mampu membayar biaya internet yang sangat mahal. Sebelumnya dikabarkan wilayah –wilayah touris seperti Srinagar dan puncak Gulmarg juga telah dibuka jaringan internet, tapi nyatanya tidak ada.

Kashmir Semakin Diintervensi

Konflik tiga bulan terakhir yang dipicu pencabutan artikel 370 telah membuat Kashmir tak berdaya. Korban tewas dan penangkapan oleh militer India semakin banyak. Tanpa ada bantuan dari siapapun. Warga Kashmir tidak menerima keputusan pencabutan hak – hak istimewa Kashmir. Mereka ingin tetap memiliki Kashmir tanpa campur tangan India penuh. Selama ini, Kashmir dikelola oleh penduduk Kashmir, diberi hak istimewa membuat peraturan sendiri, otonomi sendiri tanpa terikat penuh dengan India. Sebagai Negara federasi, India disatukan dengan Negara-negara bagian kecil yang diurus oleh pemimpin-pemimpin wilayah masing-masing.

Namun, hak otonomi istimewa itu dicabut, dan konflik telah dibawa hingga ke meja internasioanl. PBB melalui arahan amerika meminta Pakistan dan India menahan diri sebab, ketika konflik terjadi, Pakistan sebagai Negara terdekat dengan Kashmir dan juga yang berkeinginan besar untuk menguasai Kashmir juga memanfaatkan konflik untuk menarik perhatian warga Kashmir. Secara fakta, memang, warga Kashmir terbagi ke dalam 3 kategori , yaitu yang ingin merdeka sendiri dari India dan tidak bergabung dengan Kashmir, yang pro terhadap Pakistan, dan yang diam degan pendudukan pemerintahan India.

Amerika menegaskan jangan sampai Pakistan dan India bertambah tegang akibat konflik tersebut. Hingga amerika mengeluarkan instruksi bahwa konflik Kashmir adalah konflik regional India. Dan ini menekankan agar Pakistan tidak boleh membantu warga Kashmir yang sedang diintimidasi oleh militer India. Apalah daya, meskipun secara keimanan, ada nita iliter Pakistan ingin menolong saudaranya, tapi keputusaan politik internasioanl tidak dapat dibantah dan dilanggar oleh Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan. Jelas ia akan sellau mengikuti arahan Negara Adidaya tersebut.

Akhirnya, pemerintah India mengeluarkan peraturan baru, bahwa Kashmir bukan lagi territorial istimewa melainkan menjadi bagian penuh India. Kashmir yang terbentang dari Jammu hingga Ladakh itu kini dibagi menjadi dua wilayah teritorial yang dipimpin oleh seorang Komisaris Jenderal yang ditempatkan langsung oleh perdana menteri India, Narendra Modi. Distirk Jammu meliputi wilayah Kashmir seluruhnya , dan kedua distrik Ladakh.

Hal ini akan menjadikan warga muslim Kashmir semakin diintervensi oleh kebijakan –kebijakan pemerintah India. Kalangan pemerintah India dari golongan Hindu extremist sangat menginginkan wilayah Kashmir secara mutlak dan menghabisi warga muslim disana. Mereka hanya ingin tanah Kashmir bukan warga muslim yang ada disana. Semakin terkungkung dan terjebak. Memori kita tentu tidak lupa bagaimana India memperkosa dan membakar wanita wanita muslim di Kashmir. Membunuh anak-anak dan menangkap para lelaki agar tidak melawan. Pendudukan wilayah Kashmir oleh pemerintah India tentunya kelak akan menjadikan Kashmir tidak ubahnya seperti Palestina. Intervensi kepemilikan tanah akan sepenuhnya jatuh ke tangan pemerintahan India. Belum lagi China menolak dengan keputusan India untuk wilayah ladakh. Sebab China juga sangat berhasrat memiliki wilayah Ladakh yang berbatasan langsung dengan laut China dan wilayah Tibet. Secara kultur dan fisik, Ladakh sangat mirip dengan postur fiksi orang Tibet. Juga mayoritas agama Buddha yang dianut disana. China merasa direndahkan karena tidak dilibatkan oleh Amerika untuk penyelesaian konflik Kashmir. Lihatlah bagaimana Negara – Negara kafir penjajah selalu berhasrat memiliki tanah kaum muslimin. Setidaknya menguasai mereka secara politik dan ekonomi. Nasib muslim Kashmir akan semakin sulit berada di bawah pemerintahan mayoritas Hindu exterm yang sangat membenci kaum muslimin.

Khilafah solusi bagi Kashmir

Siapa yang tidak ingin memiliki Kashmir? Wilayah provinsi India yang sangat subur dan banyak air, bahkan daerah Ladakh berbatasan langsung dengan laut China. Dibawah kaki pegunungan Himalaya menjadikan Kashmir memiliki iklim yang sangat cantik. Setiap hari salju selalu ada di puncak Gulmarg. Pepohonan , dan bukit nan hijau, wanita-wanita muslimah bermata jeli dan berkulit kemerah-merahan, penghasil kain wool terbaik hingga perkebunan yang melimpah. Kashmir dijuluki sebagai tanah “ Paradise of the earth”. Jelas , mata – mata rakus penguasa kapitalis akan biru melihatnya. Inilah satu dari potensi dan kekayaan kaum muslimin yang tidak bisa dibiarkan oleh penjajah begitu saja kita miliki dan nikmati. Wajar jika India sangat memimpikan Kashmir mutlak di bawah kekuasaannya.

Pendudukan tanah kaum muslimin adalah sebuah penjajahan fisik. Lebih dari 70 tahun hingga hari ini. Hamper setiap musim terjadi baku tembak antara warga muslim Kashmir dengan militer India. Warga muslim Kashmir berada di bawah bayang–bayang intervensi pemerintahan India dan janji palsu Pakistan. Sengketa kedua Negara memperebutkan wilayah strategis nan luar biasa ini tentunya tidak bisa lepas dari hegemoni dunia internasional. Dalam perjanjian internasional. Luas wilayah suatu Negara harus berdasarkan keputusan yang sudah dibuat. Jika ingin ditambah atau dirampas, harus disidangkan lagi di meja internasional. Apakah itu suatu kelayakan atau kejahatan. Penderitaan muslim di Kashmir tidak henti-hentinya menimpa mereka. Berharap dunia mendengar dan menolong mereka. Namun apa yang bisa dilakukan oleh dunia Islam hari ini? Bahkan Arab Saudi sendiripun mendukung keputusan Amerika untuk Kashmir. Hati dan pikiran penguasa – penguasa muslim hari ini seperti tertutup rapat dan tak bergetar mendengar teriakan muslimah di Kashmir yang diperkosa dan ditelanjangi di depan keluarganya oleh militer India.

Warga muslim di Kashmir menanti kehadiran kembali Sultan Muhammad Qassiim yang telah membebaskan tanah Hind menjadi bagian wilayah Kekhilafahan. Kemananan. Kehormatan wanita wanita muslim India terjaga ketika India di bawah naungan Islam. Adidaya juga tentunya takut, ketika melihat potensi Kashmir dan Pakistan juga bersatu menjadi kekuatan kaum muslimin yang menyeru kebangkitan Islam. Bukankah semakin kecil suatu wilayah, semakin mudah menjajahnya. Barat kapitalis telah membagi tanah Hind menjadi bagian bagian kecil yang merupakan Negara persemakmuran mereka hari ini. Memori kekuatan panglima – panglima Islam di India, seperti Muhammad Qassim, Aurangzeb, Shah Jehan, Jalaluddin Akbar dan Kerajaan Mughal yang telah menghiasi sejarah peradaban berabad-abad lamanya di India telah terhapus dari memori kaum muslim disana.

Oleh karena itu, penegakan Khilafah adalah satu satunya solusi untuk mengusir kafir penjajah dari tanah kaum muslimin. Khalifah akan mengirimkan tentaranya untuk menyelamatkan muslimah – muslimah di Kashmir dari tangan –tangan kotor militer India. Dan bukan hanya Kashmir, tetapi untuk seluruh wilayah-wilayah pendudukan seperti Palestina, rohingya, Turkistan, dsb. Khalifah akan menyerukan jihad mengambil kembali tanah tanah kaum muslimin dari cengkraman kafir penjajah. Karena hanya jihadlah solusi untuk pembebasan wilayah kaum muslimin. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *