Kapitalisme Menggerus Naluri Keibuan

Oleh : Nur Aznizah Amir (Aktivis Dakwah Kampus Samarinda-KalTim)

Belum lama ini, beredar berita tewasnya seorang anak ditangan ibu kandung sendiri. Anak digelonggong air galon oleh sang ibu dengan alasan agar anaknya tak lagi tampak kurus. Disisi lain pelaku menyatakan tindakannya tersebut akibat stress terhadap desakan dan ancaman cerai suaminya jika anak mereka masih dalam kondisi kurus. Sedangkan tuntutan suaminya tak sejalan dengan kondisi perekonomian keluarga mereka, sehingga untuk memenuhi kecukupan gizi anak adalah hal berat bagi pelaku. (Detik.com 25/10).

Fenomena seperti ini bukanlah hal biasa, ia sudah familiar di kalangan masyarakat. Tahun 2018 saja pernah tercatat hanya dalam waktu sebulan (Maret), terjadi tiga kasus pembunuhan anak oleh orang tua kandung (kompas.com). Peristiwa semacam ini tak pernah absen dari pemberitaan kriminal dalam negeri.

Masalah ekonomi yang dihadapi keluarga di Indonesia adalah penyumbang terbanyak alasan dan motif pembunuhan anak oleh orang tua. Seperti penyampaian Psikolog Klinis Universitas Airlangga (Unair) Ike Herdiana bahwa tekanan batin yang berat kerap memicu perbuatan yang tidak bisa dinalar dengan akal sehat dan naluri ibu sudah hilang. Beratnya tekanan ekonomi yang dialami, membuat seorang ibu tega menghabisi nyawa anaknya sendiri. Bahkan ibu yang tega melakukan hal ini menganggap bayi yang dilahirkannya adalah masalah bahkan sebagai musuh.

Sosok wanita yang kental dengan naluri keibuan dan kedekatan rasa kasih terhadap anak-anaknya kian digerus oleh dunia kapitalistik hari ini. Orang tua yang memilki tanggungjawab dalam mengasuh, mendidik dan memberikan kesejahteraan gizi bagi anak-anak mereka tak dapat berjalan mulus akibat penerapan ekonomi kapitalis yang sangat destruktif. Bagaimana tidak, fakta perekonomian kapitalistik hari ini menunjukkan pertumbuhan yang macet, pengangguran yang tinggi ditambah lapangan kerja tak proporsional, yang justru dialokasikan bukan untuk warga negara yang membutuhkan. Disatu sisi tuntutan pajak tak berhenti, namun negara terus menambah nominal utang yang saat ini mencapai angka Rp.5000 triliun.

Kondisi demikian menutup peluang tercapainya kewajiban orang tua khusus suami/ayah dalam menafkahi keluarganya. Maka sangat wajar jika terjadi penurunan daya beli, karna ia sejalan dengan mahalnya kebutuhan pokok dan pendapatan nihil oleh kepala keluarga. Hal ini pun berdampak pada kondisi psikis ibu yang disalurkan oleh suami karena adanya stressor yang terus memuncak. Jadilah ia kemarahan yang tertuang pada anak, bahkan sampai pada tindakan melayangkan nyawa darah daging sendiri.

Masalah seperti tersebut, tidak akan diidentifikasi negara sebagai masalah darurat, karena tuntunan paradigma Kapitalis dalam menstandarisasi kesejahteraan hanya terletak pada tingkat pertumbuhan ekonomi per kurun waktu tertentu. Dalam artian kesejahteraan diukur dari pendapatan per kapita yang hakikatnya ia didapatkan dari penggabungan pendapatan semua rakyat lalu dibagi dengan jumlah penduduk yang ada. Hasil tersebutlah yang menjadi standar kesejahteraan. Bagaimana mungkin ini dapat diterima, karna faktanya tingkat ekonomi rakyat sangat heterogen. Akumulasi tersebut merupakan gabungan dari para pengusaha kaya raya dan buruh yang minim upah. Tapi konsep ini merumuskan bahwa pendapatan per kapita adalah rata-rata pendapatan masyarakat. Akibatnya adalah rakyat yang kebutuhan pokoknya tidak terpenuhi, justru tidak terdeteksi oleh negara, kesenjangan pun meningkat.

Rusaknya paradigma ini kian merambah dampaknya hingga ke tatanan keluarga. Membunuh anak menjadi solusi pilihan seorang ibu. Ibu sebagai ummu wa robbatul bait yang harusnya memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak justru dihancurkan oleh penerapan konsep kapitalisme oleh negara. Hal seperti ini semestinya menjadi refleksi bagi ummat Muhammad, agar kembali kepada tuntunan Pencipta yang telah diwahyukan kepada baginda Rasulullah SAW.

Islam telah menggariskan pedoman dalam mengurusi kepentingan rakyat yang hanya bisa diterapkan jika paradigma negara berasaskan Islam semata. Kehadiran Islam sebagai ideologi akan mampu memancarkan aturan sistem ekonomi dengan kekhasannya memandang kesejahteraan, yaitu negara harus benar-benar memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat secara orang per orang bukan komunal.
Dan yang tak kalah urgennya, Islam memberikan jaminan penuh terhadap kesejahteraan perempuan. Hak-haknya dikembalikan sesuai standard syariat, bukan lagi menjadi dagangan layaknya konsep kapitalisme. Penerapan islam tidak akan memarginalkan kewajiban utama seorang ibu. Justru keberadaan negara akan menguatkan lagi keimanan individu-individu didalamnya, termasuk perempuan. Secara histori, hal ini dibuktikan dengan lahirnya ilmuan-ilmuan muslim masyhur yang dilatarbelakangi keberadaan sosok ibu hebat. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *