Kapitalisme Lahirkan Generasi Rusak, Idiih.. Ngeri!

Oleh: Al Azizy Revolusi (Founder Komunitas @remajapejuangislam – KOREAPI)

Mata kita selalu disajikan berbagai menu kerusakan generasi, remaja sangat antusias terhadap adanya hal yang baru. Gaya hidup hedonis sangat menarik bagi mereka.

Daya pikatnya sangat luar biasa, penampakannya adalah adanya masyarakat yang berorientasi pada kenikmatan-kenikmatan materi, kosong nilai-nilai moral dan spiritual serta kecenderungan untuk bersenang-senang tanpa peduli akibat yang akan dialaminya.

Titel “remaja yang gaul dan funky” baru melekat bila mampu memenuhi apa yang menjadi up to date saat ini. Inilah potret dari negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar dengan penerapan sistem rusak yang telah mendominasi dunia secara global.

Adalah fakta bahwa tidak semua orang sadar dan paham tentang masalah ini, banyak yang hanyut dalam ideologi kapitalisme yang membuat hidup mereka hedon. Nilai-nilai moral dan nilai-nilai spiritual dikesampingkan bahkan dipandang tabu dan memalukan.

Munculnya beragam tingkah laku remaja yang nyeleneh ini merupakan bentuk kebebasan berekspresi mereka dilindungi oleh negara. Sesungguhnya negara adalah pihak sentral yang paling bertanggung jawab setelah masyarakatnya (social control). Namun, sayangnya, negara seolah abai bahkan terkesan melindungi kerusakan genarasi muda tersebut.

Ini karena negara mengekor pada ideologi kapitalisme yang lahir dari akidah sekuler dan mengadopsi sistem demokrasi dimana sistem ini menujungjung tinggi kebebasan tanpa batas, salah satunya kebebasan berekspresi.

Padahal remaja merupakan generasi penerus bagi generasi sebelumnya. Karena itu, ada ungkapan dalam bahasa Arab, “Syubanu al-yaum rijalu al-ghaddi” [pemuda hari ini adalah tokoh pada masa yang akan datang]. Karena itu, Islam memberikan perhatian besar kepada mereka, bahkan sejak dini.

Di masa lalu, banyak pemuda hebat, karena generasi sebelumnya adalah orang-orang hebat. Karena itu, khilafah memberikan perhatian besar pada generasi muda ini.

Jika kita tengok gambaran masyarakat Islam masa dahulu, akan kita dapati bahwa pada masa-masa itu telah lahir sosok generasi berkepribadian Islam mumpuni, yang rata-rata memiliki mentalitas mujahid sekaligus intelektualitas mujtahid. Pada diri mereka tertanam keyakinan yang kuat, bahwa mereka ada semata-mata demi dan untuk Islam.

Sehingga dengan ghirah yang demikian,  umat Islam saat itu mampu bangkit menjadi “khoiru ummah” yang memimpin umat-umat lain dalam seluruh aspek kehidupan mereka, menjadi mercusuar peradaban luhur manusia yang eksis hingga  belasan abad lamanya.

Kita pasti mengenal siapa Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Khawarizmi, Ibnu Jabir dan Ibnu Firnas. Mereka adalah sosok generasi emas yang lahir pada masa kekhilafahan tidak hanya sebagai ilmuwan tapi juga faqif fiddin (menguasai ilmu keagamaan).

Sepanjang itu pula banyak dihasilkan para pemuda yang menjadi ulama besar. Sebut saja salah satunya Rabi’ah ar-Ra’yi, seorang tabi’in berusia muda.

Jika sudah demikian, sangatlah rugi jika kita masih saja berkutat dengan sistem kapitalisme. Dimana negara tidak peduli dengan generasi yang semakin dekat dengan jurang kehancuran. Saatnya beralih kepada sistem Islam yang akan mewujudkan terciptanya generasi unggul berjiwa pemimpin. In syaa Allah. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *