Kala Terus Berkiprah, Proteksi Minim Pejuang Wabah

Oleh : Nisa Revolter (Praktisi Pendidikan)

Duka negeri belum juga sembuh. Berkabung. Itulah kata yang kini terngiang. Hingga saat ini kita masih dihantui covid-19. Saban hari kasus covid-19 semakin mengganas. Upaya lawan corona dengan stay at home rupanya tak cukup. Alih-alih memutus penyebaran virus, justru makin tersebar. Dari anak-anak hingga orangtua renta terpapar virus ini. Tenaga medis pun tak luput dari jangkitan virus covid-19. Padahal harusnya merekalah yang senantiasa stanby sebagai garda terdepan tangani covid.

Namun sayang, meski telah banyak tenaga medis yang gugur, mereka tak juga diperhatikan. Lelah jerih payah mereka pun tak ditebus. Sebagaimana dilansir Tempo.co (25/05/2020) para perawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso yang menangani pasien positif Covid-19 hingga kini belum menerima insentif yang dijanjikan pemerintah. Padahal perawat sangat memerlukan insentif itu, terlebih mereka yang mendapatkan pemotongan tunjangan hari raya (THR) Idul Fitri.

Begitu juga di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Utara. Ada sekitar 900 tenaga medis dan relawan medis yang hingga hari ini belum mendapatkan haknya (Merdeka.com, 25/05/2020).

Sementara Presiden Joko Widodo saat meninjau kesiapan Rumah Sakit Darurat Covid-19 di Wisma Atlet Kemayoran senin (23/3) telah berjanji akan memberi insentif keuangan kepada tenaga medis.

Jokowi merinci, untuk para dokter spesialis akan diberikan insentif sebesar Rp15 juta, dokter umum dan dokter gigi Rp10 juta, bidan dan perawat Rp7,5 juta, juga tenaga medis lainnya Rp5 juta. Namun hingga kini tak kunjung terealisasi.

Insentif Tak Cair, Nakes Diabaikan

Para perawat sebagai tenaga kesehatan (nakes) holistik tentu memegang prinsip profesional tetap berkiprah meski di tengah hambatan dan rintangan dalam upaya penanganan covid. Sebagai garda terdepan, para nakes juga rentan tertular sebab terus berinteraksi dengan pasien.

Para dokter dan perawat tidak sedikit mengorbankan nyawa mereka demi panggilan kemanusiaan. Dedikasi mereka untuk kesehatan dan keselamatan rakyat begitu nyata. Melonjaknya pasien positif covid, membuat para nakes kewalahan bahkan kelelahan. Begitulah yang dialami salah satu nakes di Surabaya, hingga meninggal bersama bayi yang sedang dikandungnya. Kendati demikian, nakes tidak juga mendapat perhatian. Ketersediaan alat pelindung diri (APD) sebagai proteksi mereka semakin berkurang.

Belum lagi, para nakes mayoritas adalah tenaga kontrak dan swasta. Ada juga relawan yang membantu dalam penanganan covid. Semestinya ini menjadi bahan pertimbangan negara. Bagaimanapun tenaga medis adalah pejuang terdepan dalam menghadapi wabah.

Berjuang melawan virus sebagai bentuk pengabdian kepada negara. Tentu melawan membutuhkan senjata, dan negara semestinya memberikan perlindungan utuh dengan kebijakan terintegrasi dan proteksi finansial.

Namun, justru yang terjadi di lapangan, sebagian besar tenaga kesehatan tidak mendapat tunjangan. Selain itu, nakes yang notabene honorer dipotong upahnya bahkan banyak yang terkena PHK. Tenaga medis terpaksa dirumahkan sebab dana yang minim. Sudahlah proteksi diri tak memadai, apalagi mengharap insentif kelelahan para nakes.

Banyaknya tenaga medis yang gugur sebab wafat terpapar virus juga para perawat yang dipecat atau terkena PHK menandakan kuantitas pejuang garda terdepan wabah semakin berkurang. Ini berarti kita akan kehilangan banyak pahlawan dalam menghadapi virus ini, kita akan kehilangan tameng.

Padahal nakes terus berjuang hingga titik nadir. Bukannya diapresiasi justru didiskriminasi. Janji tinggallah janji. Harapan hidup sejahtera meski tetap berkiprah kian pupus.

Begitulah hidup di negara yang masih bercokol sistem kapitalisme sekuler. Rakyat dipaksa mandiri, sedang negara seakan sibuk dengan urusan pribadinya. Kapitalisme telah melahirkan sikap lepas tangan dan minus kepedulian negara. Kini tak ada lagi pelindung rakyat. Seakan sebentar lagi rakyat akan membunyikan lonceng bunuh diri.

Islam Solusi Tuntas

Tentu islam sangat berbeda dengan perlakuan kapitalisme terhadap rakyat. Islam begitu memperhatikan rakyat . Islam menjamin penuh pelayanan kesehatan gratis dan berkualitas bagi rakyat. Negara tak pernah lepas tangan dan tentu bertanggungjawab langsung terhadap rakyat. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda : “Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Al- Bukhari).

Perhatian negara terhadap kesehatan dengan memberikan layanan nomor satu telah tercatat oleh sejarah. Jangankan tenaga medis, tahanan pun yang jelas-jelas telah melakukan kejahatan terhadap negara ketika sakit begitu diperhatikan oleh negara.

Ali bin Isa Al-Jarrah menjadi wazir atau setara posisi menteri di masa Khalifah Al-Muqtadir (908-932 M) dan Al-Qahir (932-934 M) pernah mengirim surat ke pemimpin Baghdad, “Aku berpikir tentang orang-orang yang berada dalam tahanan. Jumlah mereka banyak dan tempatnya pun tidak layak. Mereka bisa diserang penyakit. Maka kamu harus sediakan dokter-dokter yang akan memeriksa mereka setiap hari, membawa obat-obatan dan minuman untuk mereka, berkeliling ke seluruh bagian penjara dan mengobati mereka yang sakit” (Ibn Qifthi, Tarikh Al-Hukama’, hal.148).

Tak hanya itu, hampir 98 persen kekayaan sang wazir diberikan untuk kemaslahatan rakyat dan wakaf kesehatan. Dari 700 ribu dinar pendapatannya, 680 ribu dinar ia infakkan. Bukan kas negara yang kosong, namun para pemimpin islam di masa itu tak mau kalah untuk berebut pahala, maka sebagian besar harta mereka infakkan untuk membiayai rumah sakit, perawatan dan pengobatan pasien, serta menggaji para dokter. Saifuddin Qalawun misalnya. Salah satu penguasa muslim di masa Khalifah Abbasiyah, beliau mewakafkan hartanya untuk rumah sakit di Kairo, RS. Al-Manshuri Al-Kabir. Beliau juga menggaji seluruh karyawan rumah sakit.

Pelayanan prima islam terhadap kesehatan tak mengenal ras dan strata sosial. Semua diberikan perhatian yang sama. Inilah yang ditorehkan islam dalam sejarah.

Sejarawan berkebangsaan Amerika, Will Durant. Paparannya terkait rumah sakit Al-Manshuri (683 H/1284 M) : “…Pengobatan diberikan secara gratis bagi pria dan wanita, kaya dan miskin, budak dan merdeka; dan sejumlah uang diberikan pada tiap pasien yang sudah bisa pulang, agar tidak perlu segera bekerja…“. [W. Durant: The Age of Faith; op cit; pp 330-1].

Sesungguhnya, pelayanan kesehatan islam terbaik di sepanjang sejarah tidak pernah lepas dari paradigma yang shahih bahwa kesehatan adalah salah satu kebutuhan asasi rakyat. Negara wajib menjaminnya.

Begitulah islam memandang kesehatan rakyat. Tidak seperti saat ini, kesehatan rakyat tak berarti. Demikianlah watak kapitalisme sekuler. Alih-alih mengharap kebaikan, justru inilah biang kerusakan. Oleh karena itu, sudah saatnya kita campakkan kapitalisme sekuler. Mari kita songsong kembalinya kehidupan islam.

Wallahu a’lam bishshowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *