Kajian Umum Muslimah Kota Probolinggo, “Cinta Nabi, Cinta Syariah”

Probolinggo- Suarainqilabi – Kajian Umum Muslimah Kota Probolinggo kembali digelar pada hari Ahad, 17 November 2019 yang bertajuk “Cinta Nabi Cinta Syariah” bertempat di Rumah Inspirasi Probolinggo.

Kajian yang dihadiri puluh muslimah baik dari kalangan ibu rumah tangga dan remaja sekitar Probolinggo dibuka oleh Ustadzah Qibthiyah selaku moderator dengan penuh semangat. Dan tak lupa untuk menambah keberkahan acara pagi itu, Ustadzah Sulami melantunkan ayat suci alquran dengan merdu dan penuh kesyahduan.

Hadir Ustadzah Mas’adah sebagai Narasumber. Beliau menjelaskan betapa perayaan maulid nabi selama ini hanyalah rutinitas tahunan tanpa adanya bukti nyata. Tasyakuran, pembacaan diba’ (puji-pujian atau sholawat bersama), di tambah nasi kotak, selesai. Kalau pun menangis haru biru, tak akan lama perasaan itu. Padahal, jika kita merayakan maulid nabi sebagai bukti suka cita dan cinta pada beliau SAW, kenapa kita hanya melakukan itu saja? Padahal orang yang cinta itu minimal memiliki beberapa ciri, mulai dari sering menyebut nama yang dicinta, mengagungkannya , ingin selalu bersama, membela ketika dihina, termasuk tunduk ketika orang yang kita cintai memerintah kita.

“Ibarat seorang istri yang sekalipun oleh suaminya diminta untuk membuatkan kopi tengah malam, kira kira bangun tidak? Ya bangun untuk membuatkan kopi, walaupun dalam hati agak ngedumel, “haduh mas.. Aku iki ngantuk to…””, tutur ustadzah mas’adah. Itu bukti cinta kepada suami. Lantas cinta kita pada nabi SAW? sudahkah seperti itu?

Padahal Umar bin Khattab pernah ditegur oleh Rasulullah SAW. Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [XI/523] no: 6632)

Seperti itulah harusnya kita mencintai Rasulullah SAW, melebihi diri kita sendiri. Tak hanya melalui momentum perayaan maulid nabi. Melainkan dimanifestasikan rasa cinta itu dengan mencintai pula apa yang dibawa beliau yaitu syariah (hukum) Islam.

Mencintai Nabi artinya juga mencintai syariah Islam yaitu ta’at kepada semua aturan yang dibawanya dalam semua aspek kehidupan. Karena Islam tak hanya mengatur tentang hubungan kita dengan Allah saja (aqidah dan ibadah), namun juga hubungan kita dengan diri kita sendiri (makanan, minuman, akhlak dan pakaian) dan hubungan kita dengan yang lainnya (muamalah dan uqubat). Jadi jelas bahwa menerapkan syariah Islam secara totalitas adalah suatu kewajiban.

Selepas pemaparan materi, ada penampilan nasyid dari adik-adik, kemudian dilanjutkan dengan sesi Tanya jawa dan pembagian doorprize. Serta di akhiri dengan penutup dan doa yang dipimpin oleh Ustdzah Surya. Wallahu a’lam bi ash-shawab. [] Rep: Arina Hikmatul Husna

Photo Agenda:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *